Gus Muhaimin : Jadi Capres Atau Cawapres Itu Tergantung Takdir

oleh -391 Dilihat

SabdaNews.com – Ketua Umum DPP PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) Abdul Muhaimin Iskandar semakin serius mencalonkan diri di Pemilu Presiden (Pilpres) 2024. Terbukti, pria yang juga wakil ketua DPR RI itu kian sibuk menginventarisir berbagai persoalan riil yang dihadapi berbagai daerah untuk dicarikan solusi yang tepat ketika dirinya mendapat amanah memimpin bangsa Indonesia kedepan.

Kendati demikian, Gus Muhaimin tak mau jumawa terkait pencalonannya nanti apakah menjadi calon presiden atau calon wakil presiden karena keputusan itu bergantung pada kesepakatan dengan partai koalisi di pilpres mendatang.

“Moga-moga bulan depan sudah ada kepastian. Kalau perintahnya nyapres, dapetnya apa ya itu takdirnya nanti,” teraang Gus Muhaimin usai  menghadiri acara bertajuk Mandat Daerah untuk Indonesia bersama beberapa kepala daerah di Jatim dari Kader PKB di Hotel Majapahit Surabaya, Rabu (15/2/2023).

Diakui Gus Muhaimin, Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) bersama Partai Gerindra dalam menghadapi pemilu 2024 masih membuka pintu seluas-luasnya bagi partai poliitik yang lain untuk bergabung sehingga koalisi KKIR semakin kuat.

“Lihat saja nanti, mulai Februari, Maret, April ini akan terjadi komunikasi intensif antar partai-partai sehingga memunginkan terbukanya aliansi baru dan tambahan diantara yang sudah ada, terpecah menjadi bergabung,” ungkapnya.

Diantara partai-partai yang melakukan pendekatan dan komunikasi dengan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR), kata Gus Muhaimin adalah Partai Golkar, Partai NasDem dan partai yang lain.

Baca Juga:  Gubernur Khofifah: Penguat Sinergitas Turunkan Kemiskinan dan Persempit Ketimpangan Sosial

Yang menarik, seniman kondang Sujiwo Tejo yang ikut memandu acara Mandat Daerah untuk Indonesia mengaku senang dengan PKB karena partai yang didirikan oleh kiai-kiai NU itu ikut mendorong gerakan politik menjadi gerakan kebudayaan.

“Politik itu bukan hanya mencari kekuasaan tapi juga bisa menjadi gerakan kebudayaan. Apalagi pemimpin itu adalah cermin rakyatnya. Makanya kalau rakyat tidak berbudaya maka pemimpinnya juga tidak berbudaya. Inilah perlunya politik menjadi gerakan kebudayaan,” jelas Presiden Jancuker ini.

Ia mengakui Cak Imin adalah pemimpin yang cerdas sebab dia tidak memiliki hati sehingga tidak mudah baperan. Bahkan walaupun tidak memiliki darah biru dalam garis kependirian partainya seperti mbak Mega. Tapi apa yang dikatakan Cak Imin itu menyerupai apa yang dikatakan Mbak Mega kepada kader-kader PDIP.

“Aku tidak tahu di politik Indonesia itu yang diperlukan adalah orang yang berpolitik tanpa hati karena tidak mudah tersinggung,” kelakar Mbah Tejo sapaan akrab Sujiwo Tejo.

Pria asli Situbondo itu juga mengakui bahwa  konflik antara Gus Dur dan Cak Imin itu adalah bagian dari kesengajaan untuk pendewasaan politik bagi Cak Imin maupun PKB.

“Sejak awal menurut aku itu adalah bagian dari drama untuk pendewasaan politik. Jadi aku ngak percaya kalau itu dikatakan konflik,” tegas Sujiwo Tejo.

Sementara menyangkut pertemuan antara Prabowo Subianto dengan Khofifah Indar Parawansa kemarin malam di Surabaya, apakah ada kaitan dengan pencalonan pasangan di Pilpres mendatang. Dengan lugas orang nomor satu di PKB itu mengaku tidak tahu

Baca Juga:  Survie Berbeda Dalam Tuju hari, Ini Menurut Pengamat Politik Sumenep

“Saya belum tahu, apa agendanya saya tidak tahu dan urusan apa saya juga tidak tahu,” tambah Abdul Muhaimin Iskandar singkat.

Sebagaimana diketahui bersama, santer diberitakan bahwa pertemuan antara Prabowo dan Khofifah ada kaitan dengan Pilpres 2024. Pasalnya, gubernur perempuan pertama di Jatim itu dilirik sejumlah kandidat bacapres yang akan meramaikan Pilpres mendatang menjadi pasangan atau bacawapres. (tis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.