JOMBANG.SabdaNews.com — Dinamika internal dan peran kebangsaan Nahdlatul Ulama (NU) menjadi sorotan utama dalam agenda Halaqah Pemikiran Pesantren Mendalami dan Memaknai Kembali Qonun Asasi NU yang digelar di Pondok Pesantren Al-Utsmany, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2028) malam.
Forum yang berlangsung penuh kehangatan tersebut menghadirkan Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, M. Sarmuji, bersama Pengasuh Ponpes Al-Utsmany, KH Fathullah Malik dan KH Ubaidillah. Mengusung ruang diskusi kultural di tengah inguk-binguk organisasi, halaqah ini mendalami kembali makna hakiki Qanun Asasi karya pendiri NU, Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari.
Dalam pemaparannya, M. Sarmuji menegaskan pentingnya seluruh warga Nahdliyin baik di ranah struktural maupun kultural untuk menggali kembali raison d’être atau alasan mendasar berdirinya NU melalui Qanun Asasi. Ia menyitir ayat pertama yang ditulis Mbah Hasyim dalam mukadimah kitab tersebut (QS. Al-Ahzab: 45-46).
”Hadratussyaikh menghendaki NU hadir seperti seruan Allah kepada Nabi: menjadi mubashshiran wa nadhiran—menjadi kabar gembira, pengingat, penyeru di jalan Allah, sekaligus pelita kehidupan. NU harus menjadi kabar gembira bagi masyarakat dan bangsa, bukan justru memicu perpecahan,” ujar Sarmuji didampingi sejumlah anggota DPRD Jatim, seperti Hadi Setiawan, Jairi Irawan, Sumardi dan pengurus DPD PD Jatim.
Sarmuji juga menyentil fenomena dinamika internal NU belakangan ini, seperti perebutan konsesi tambang hingga perselisihan antar-elit. Menurutnya, jika nilai Qanun Asasi dihayati, hal-hal semacam itu tidak akan menjadi pemantik konflik.
“Gak usah gegeran (bertengkar), tapi ger-geran (bercanda ria). Tidak ada yang perlu diperebutkan, Ridha Allah itu sangat luas dan tidak terbatas. Aneh jika organisasi lain mendapat kelola tambang bisa memperlebar manfaat, tapi di NU justru jadi alat bertengkar. Ini tandanya kita perlu belajar keikhlasan lagi,” selorohnya yang disambut tawa peserta.
Menjawab landasan ikhlas dan persatuan tersebut, KH Fathullah Malik menekankan bahwa Qanun Asasi telah menetapkan NU sebagai Darussalam (negeri yang damai) dan perekat keberagaman bangsa. Pengurus NU selayaknya mencerminkan laku dan akhlak kiai pesantren.
”Berkhidmat di NU itu ibarat bersedekah; tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Tidak perlu berharap imbalan seketika, semata-mata mencari rida Allah,” tutur KH Fathullah.
Halaqah yang berlangsung interaktif ini juga menyinggung tantangan era modern, termasuk pentingnya menjaga tradisi asketisme dan sanad keilmuan pesantren di tengah arus digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI).
Diskusi menyimpulkan bahwa keunggulan pesantren terletak pada hubungan spiritual antara santri dan kiai—sebuah dimensi yang tidak bisa digantikan oleh teknologi maupun sekadar transfer ilmu pengetahuan murni tanpa kedalaman jiwa.
Halaqah ditutup dengan pesan mendalam agar pengurus struktural NU mau mendengarkan suara-suara kultural dari pesantren, sehingga NU tetap konsisten menjadi penerang dan pembawa kedamaian bagi seluruh umat. (pun)
