Jelang Pemilu 2024, Suara Warga NU  Laris Manis

oleh -277 Dilihat

Oleh  : Mundzar Fahman;

SabdaNews.com- Setiap Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, pasangan calon (paslon) berlomba-lomba memperebutkan suara warga NU. Tokoh-tokoh NU yang dianggap punya banyak follower (pengikut) diajak bergabung menjadi tim sukses. Atau, menjadi juru kampanyenya. Massa NU di akar rumput (grass root) dimobilisasi, diajak kesana kemari sebagai bentuk dukungan.

Keinginan paslon untuk mendapatkan dukungan dari NU (tokoh dan Nahdliyin) tentu wajar dalam politik. Karena, paslon membutuhkan dukungan suara mereka. Pada sisi lain, jumlah warga NU sangat besar. Menurut Ketua Umum PB NU KH Yahya Cholil Staquf, jumlah warga yang mengaku NU sebanyak 56,9 persen di antara 280 juta penduduk Indonesia. (NUonline//30 Oktober 2023).

Sebagaimana yang tampak jelas (Jawa: cethoh welo-welo) dalam Pilpres 2024 ini. Koalisi Perubahan (NasDem, PKB, dan PKS) memasang Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sebagai cawapres untuk mendampingi Capres Anies Baswedan. Parpol Koalisi Perubahan ini tentu sangat berharap Paslon Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Amin) mendapatkan banyak dukungan suara dari tokoh NU dan massanya.

Begitu pula PDI Perjuangan yang memasang tokoh NU Mahfud MD  sebagai cawapres pendamping Capres Ganjar Pranowo.  Tentu, PDI-P juga berharap mendapatkan dukungan dari tokoh dan massa NU. Terutama, dari Jawa Timur. Lebih-lebih dari Madura, daerah asal Mahfud MD. Ada joke: wong meduro iku NU kabeh. Bahkan, bayi durung lahir yo wis NU. Itu guyonan mbiyen. Entah kondisi sekarang mungkin ada perubahan.

Di antara tiga Paslon Capres-Cawapres dalam Pilpres sekarang ini, hanya Paslon nomor urut 2: Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang tidak jelas NU-nya. Masih remang-remang. Tapi, yang sudah jelas adalah bahwa Prabowo adalah purnawirawan TNI. Sedangkan Gibran adalah putra sulung Presiden Jokowi. Di media sosial Gibran sering disebut bocil (bocah cilik) karena usianya baru sekitar 36 tahun.

Meski Paslon nomor urut 02 tidak jelas background ke-NU-annya, tapi kubu paslon ini merekrut sejumlah tokoh NU menjadi tim suksesnya. Sebagai vote getter-nya (pengumpul/penarik suara) Nahdliyin. Tentu, harapannya, jika mendapatkan dukungan suara dari warga NU, perolehan suara paslon ini meningkat.

Baca Juga:  KSPPS NU Dukun Gelar RAT Ke 8 Tahun Buku 2023 Dengan Berbagi Kemanfaatan Kepada Umat

Dalam kondisi suara NU diperebutkan tiga paslon seperti itu, yang terjadi kini, tokoh NU ataupun massanya, terpecah menjadi tiga bagian. Sebagian tokoh NU dan massanya ada yang mendukung Paslon Nomor Urut 1: Anies-Muhaimin (Amin). Sebagian lainnya mendukung Paslon Nomor Urut 02: Prabowo-Gibran. Sebagian lainnya lagi mendukung Paslon Nomor Urut 3: Garnjar-Mahfud MD. Mungkin, seandainya paslonnya ada 04, akan ada juga tokoh dan warga NU yang mendukung paslon nomor urut 04. Untung hanya ada tiga paslon. Sehingga, warga NU hanya terpecah menjadi tiga.

Terkait sikap NU dalam setiap pemilu, saya jadi ingat guyonannya Mantan Ketua Umum PB NU KH. A. Hasyim Muzadi (Alm). Beliau pernah mengistilahkan, saat pemilu, wong NU buka lapak (tempat jual beli) suara dewe-dewe. Ada tokoh NU getol berkampanye untuk paslon nomor 01, ada yang getol berkampanye untuk paslon nomor 02, dan ada yang getol berkampanye untuk paslon nomor 03. Masing-masing tokoh, tentu, berusaha mengajak follower-nya ke gerbongnya. Kiai ngajak poro santrine.

Dari pengalaman pemilu-pemilu yang lalu, suara warga NU sulit disatukan untuk total mendukung satu paslon tertentu. Sekalipun, di paslon itu ada tokoh NU-nya. Misal, dalam Pilpres 2004. Dalam putaran kedua (final), Paslon yang tampil adalah Capres-Cawapres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK) melawan Paslon Capres-Cawapres Megawati Soekarnoputri-KH. A. Hasyim Muzadi (Ketum PB NU). Pemenangnya adalah pasangan SBY-JK mendapatkan dukungan suara 60,62 persen. Sedangkan Paslon Mega-Hasyim hanya mendapatkan dukungan 39,38 persen.

Begitu pula dalam pemilu terakhir sebelum ini (Pilpres 2019). Paslon Jokowi-Ma’ruf Amin (wong NU) melawan Paslon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Paslon Jokowi-Ma’ruf menang tetapi hanya mendapatkan dukungan 55,50 persen. Sedangkan Paslon Prabowo-Sandiaga mendapatkan 44,50 persen.

Dari pengalaman dua kali pemilu itu, tidak salah jika disimpulkan bahwa suara NU tidak solid. Tapi sulit disatukan. Ya memang harus diakui, hampir tidak mungkin suara sebuah ormas dapat disatukan dalam satu pilihan. Beda pikiran, beda kepentingan.

Baca Juga:  YLBH Fajar Trilaksana Siap Dampingi Kades Jika Diancam dan Diperas

Sebenarnya, beda pilihan itu sangat wajar. Itu sangat manusiawi.  Tetapi, yang wajib dijaga adalah jangan sampai perbedaan dukungan itu menimbulkan masalah. Misal, sampai terjadi gontok-gontokan dalam satu organisasi, permusuhan, pecat-pecatan, dan sebagainya. Isin (malu) jika dilihat anak cucu. Isin nek disawang tonggo dewe.

Tokoh-tokoh NU yang menjadi tim sukses, atau jurkam untuk paslon tertentu, haruslah lebih bijak. Maksudnya, harus lebih bijak dibanding warganya yang awam di akar rumput. Jangan sampai, hanya untuk menyenangkan junjungannya, sampai-sampai ada jurkam yang menyamakan calonnya dengan dua sahabat utama Nabi Muhammad SAW, yaitu Sahabat Abu Bakar Asshiddiq RA dan Sahabat Ali bin Abi Thalib. Jare salah satu lagunya Bang Haji Rhoma Irama: (Itu) Terlalu…!!!

Hari-hari ini, video seorang jurkam yang menyamakan paslonnya dengan Sahabat Abu Bakar dan Ali itu sedang viral. Tapi, mohon maaf, saya juga tidak punya keahlian untuk mengecek kebenaran dan keaslian isi video itu. Mudah-mudahan sih isi video itu tidak benar. Tetapi, jika benar ya saya amat sangat prihatin. Saya sangat menyayangkan. Apalagi, jika yang ngomong itu adalah tokoh puncak sebuah ormas keagamaan. Ampun, ampuunnn…

Silahkan para jurkam mempromosikan calonnya masing-masing. Tapi, ya yang sewajarnya saja. Jangan berlebihan. Sudah sering terjadi di masa lalu. Paslon yang pernah dipuja-puja setinggi langit oleh para pemujanya, ternyata pada akhirnya amat sangat mengecewakan. Bahkan, tidak hanya mengecewakan. Tapi, amat sangat menyakitkan, melukai hati para pemujanya yang dulu. Jadikanlah itu sebagai pelajaran berharga untuk pemilu sekarang ini. Juga, untuk pemilu-pemilu di masa yang akan datang. Terima kasih. Mohon maaf. (INDOSatu.co/ Mundzar Fahman; Penulis adalah mantan wartawan Jawa Pos, Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.