JOMBANG.SabdaNews.com – Terpilihnya KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum PBNU dinilai menjadi momentum emas kebangkitan ekonomi warga Nahdliyin.
Langkah Gus Kikin yang menakhodai PBNU saat memasuki abad kedua organisasi ini memiliki kemiripan historis yang kuat dengan sosok ketua pertama NU, KH. Hasan Gipo, karena sama-sama berlatar belakang sebagai pengusaha tulen.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Terpilih Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (Ikapete) Jawa Timur periode 2026–2030, KH. Roisudin Bakrie.
Pernyataan ini disampaikannya usai terpilih dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) PW Ikapete Jatim di Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an, Jogoroto, Jombang, Jumat (28/8/2026) lalu.
Pasca penutupan muktamar, KH. Roisudin Bakrie atas nama keluarga besar PW Ikapete Jatim menyampaikan ucapan selamat dan sukses yang mendalam atas terpilihnya jajaran kepemimpinan tertinggi PBNU yang baru.
“Selamat dan sukses atas terpilihnya Rais Aam PBNU dan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU. Semoga amanah ini membawa berkah, kejayaan, dan kemandirian bagi umat,” ujarnya, Senin (31/8/2026) kemarin.
Reinkarnasi Semangat Hasan Gipo di Abad Kedua NU
Menurut Kiai Roisudin, kehadiran Gus Kikin di pucuk pimpinan PBNU membawa angin segar bagi struktur ekonomi organisasi. Profil Gus Kikin sebagai pengusaha sukses, paralel dengan rekam jejak KH. Hasan Gipo, saudagar kaya asal Surabaya yang menjadi Ketua PBNU pertama pada tahun 1926 silam.
“Jika di abad pertama NU dipimpin oleh pengusaha seperti Hasan Gipo untuk meletakkan fondasi pergerakan, kini di awal abad kedua NU, sejarah itu berulang. Gus Kikin yang berlatar belakang pengusaha tangguh memimpin PBNU. Ini adalah sinyal kuat bahwa fajar kebangkitan ekonomi NU telah menyingsing,” tegas Kiai Roisudin.
Mengenang Akar Kelahiran Hasan Gipo: Lahir dari Rahim “Crazy Rich” Surabaya
Jika melirik sejarah masa lalu, karakter Gus Kikin memang mencerminkan reinkarnasi biologis maupun sosiologis dari KH. Hasan Gipo. Tokoh bernama asli Hasan Basri ini tidak lahir dari keluarga santri pedesaan biasa, melainkan lahir dari rahim keturunan elit perkotaan atau “Crazy Rich” Surabaya tempo dulu.
Hasan Gipo lahir pada tahun 1869 di kawasan perdagangan elite Ampel (Kampung Sawahan). Nama “Gipo” di belakang namanya merupakan kependekan dari Marga Sagipodin (atau Tsaqifuddin dalam bahasa Arab yang berarti pelindung agama).
Kakek buyutnya, Abdul Latif Sagipoddin, membangun dinasti saudagar yang sangat disegani karena memegang kendali atas pusat bisnis komersial di kawasan Pabean.
Lahir di lingkungan yang serba berkecukupan dan terhormat membuat Hasan Gipo memiliki privilese unik. Ia tidak hanya digembleng ilmu agama di pesantren, tetapi juga sanggup mengenyam pendidikan formal sekolah umum ala Belanda.
Akar kelahiran kosmopolitan inilah yang membentuknya menjadi saudagar kaya raya yang menyumbangkan harta bendanya demi tegaknya jam’iyah NU di masa awal berdiri.
Landasan Teologis Pembaharuan Setiap 100 Tahun (Mujaddid)
Kiai Roisudin menambahkan bahwa transisi kepemimpinan di awal abad kedua NU ini selaras dengan sunatullah keagamaan. Dalam khazanah Islam, setiap memasuki gerbang satu abad (100 tahun) baru, Allah SWT senantiasa mengirimkan momentum atau sosok pembaharu (mujaddid) untuk menghidupkan kembali kejayaan nilai agama.
Hal ini didasarkan pada hadits sahih riwayat Imam Abu Dawud dari jalur sahabat Abu Hurairah RA, di mana Rasulullah SAW bersabda:
إنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهذهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا
“Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat ini (umat Islam) pada setiap penghujung seratus tahun, orang yang memperbaharui (mujaddid) bagi mereka ajaran agama mereka.” (HR. Abu Dawud No. 4291).
“Hadits ini menjadi pelecut semangat kita. Abad pertama NU telah sukses melampaui fase perjuangan politik dan kultural. Kini, tepat di abad kedua, arah pembaharuan organisasi bergeser ke arah kemandirian dan kejayaan ekonomi umat. Duet kepemimpinan baru PBNU saat ini adalah jawaban atas tuntutan zaman tersebut,” lanjut Kiai Roisudin.
Sinergi Ikapete Jatim: Targetkan 100 Pengusaha Santri
Sejalan dengan arah baru PBNU, PW Ikapete Jatim periode 2026–2030 langsung menempatkan program kebangkitan ekonomi sebagai prioritas utama.
Kiai Roisudin memaparkan target konkret program kerjanya: Mewujudkan Pengusaha Santri: Mengubah pola pikir santri agar aktif menggerakkan roda ekonomi riil.
Target Awal 100 Pengusaha: Melahirkan dan mengembangkan minimal 100 pengusaha santri baru di Jawa Timur. Pendampingan Bisnis: Menyediakan jaringan modal, pelatihan manajemen, dan inkubasi bisnis bagi alumni.
“Kami di PW Ikapete Jatim ingin bergerak selaras dengan visi PBNU. Dengan melahirkan 100 pengusaha santri di Jatim, kita sedang menyiapkan pilar kemandirian umat yang konkret, meneruskan etos kerja para muassis NU,” pungkasnya optimis. (Syafik Hoo/Lukman)
