JOMBANG.SabdaNews.com – Di sela hiruk-pikuk persidangan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, sebuah narasi mulai beredar di kalangan Nahdliyin: peluang KH Miftachul Akhyar untuk kembali terpilih sebagai Rais Aam PBNU disebut-sebut kian menipis, bukan semata karena kalkulasi politik, melainkan juga karena rentetan insiden yang oleh sebagian kalangan dibaca sebagai isyarat “kuwalat” — istilah Jawa untuk akibat buruk yang menimpa seseorang karena dianggap kurang menjaga adab kepada guru atau pihak yang dihormati.
Cerita dari Genggong: Ketika Kiai Sepuh Kehilangan Panggung
A’wan PCNU Lamongan, Kiai Ahmad Fauzi menceritakan sebuah babak lama yang kini kembali diperbincangkan. Menurut penuturannya, dalam Konferensi Wilayah (Konferwil) PWNU Jatim di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo tahun 2007, KH Achmad Masduqi Mahfudz selaku Rais Syuriah PWNU Jatim didapuk menyampaikan sambutan iftitah. Atas permintaan panitia, sambutan itu disampaikan dalam bahasa Arab tulisan tangan.
Fauzi menuturkan, karena usia yang sudah sepuh dan penglihatan yang mulai berkurang, KH Masduqi Mahfudz membacanya agak terbata-bata, sehingga membuat sambutan tersebut kurang mendapat simpati dari kalangan peserta konferwil. Hasil konferwil saat itu akhirnya tidak mengembalikan KH Masduqi Mahfudz ke kursi Rais Syuriah, dan justru menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai penggantinya, berpasangan dengan KH Hasan Mutawakkil Alallah sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim.
Yang membuat cerita lama ini kembali mengemuka adalah insiden serupa yang terjadi di panggung yang jauh lebih besar, yakni pembukaan Muktamar ke-35 NU Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026) lalu. Dalam rangkaian acara pembukaan yang dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto, KH Miftachul Akhyar menyampaikan Khutbah Iftitah dan menurut sejumlah pihak, sambutan berbahasa Arab tersebut sempat dihentikan lantaran dinilai terlalu panjang, di tengah kekhawatiran mengganggu jadwal kunjungan Presiden.
Insiden ini menambah catatan kritik yang sebelumnya sudah muncul terhadap gaya pidato berbahasa Arab Kiai Miftach. Pada penutupan Munas-Konbes NU di Bangkalan, Juni 2026, sejumlah warga NU juga sempat menyoroti dugaan salah kutip dan kekeliruan pembacaan bahasa Arab dalam pidatonya sehingga menimbulkan polemik diinternal organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.
Faktor Lirboyo: dari Veto Lokasi Muktamar hingga Ketegangan di Komisi Organisasi
Selain soal gaya pidato, posisi KH Miftachul Akhyar juga dibayangi ketegangannya dengan poros Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Sebagaimana pernah diberitakan, ia sempat menggunakan hak veto untuk membatalkan usulan menjadikan Lirboyo sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU.
Usulan yang sebelumnya telah disepakati bersama oleh PWNU dan PCNU se-DIY dan Jawa Tengah pasca-Munas-Konbes di Kediri, Juni 2026. Keputusan itu sempat memicu ketidakpuasan di kalangan pendukung Lirboyo. Ketegangan itu berlanjut hingga ke arena Muktamar ke 35 Tambakberas Jombang.
Dalam pembahasan tata tertib di Komisi Organisasi, Sabtu (29/8/2026), muncul dugaan upaya dari salah satu kubu untuk tidak memasukkan dua ulama sepuh dari poros Kediri, yakni KH Nurul Huda Djazuli (Ploso) dan KH Anwar Manshur (Lirboyo) ke dalam daftar kandidat anggota AHWA. Sejumlah alumni Lirboyo yang kini menjabat Ketua PCNU maupun PCINU dilaporkan menolak keras upaya tersebut dan menyebutnya sebagai persoalan penghormatan kepada ulama sepuh, bukan sekadar rebutan kubu.
Simbol ketegangan itu makin terlihat gamblang pada hari pembukaan Muktamar. KH Anwar Manshur selaku Rais Syuriah PWNU Jatim sekaligus kiai sepuh yang juga berasal dari Lirboyo tidak tampak hadir di arena utama pembukaan Muktamar ke 35, Kamis (27/8/2026). Ia diketahui tidak menerima undangan resmi dan belum sempat melakukan registrasi untuk hadir di venue utama.
Pemangku Ponpes Lirboto itu akhirnya mengikuti prosesi pembukaan muktamar lewat layar proyektor dari kediaman keluarganya di kawasan Denanyar, Jombang, didampingi kedua putranya. Insiden ini menuai pertanyaan luas dari kalangan Nahdliyin, mengingat status KH Anwar Manshur sebagai salah satu ulama paling senior dan dihormati di lingkungan PWNU Jatim maupun Ponpes Lirboyo.
Menariknya, di tengah dinamika itu, nama KH Abdullah Kafabihi Mahrus salah satu kiai sepuh dari Lirboyo yang sempat “tenggelam” dari bursa anggota AHWA, justru disebut-sebut sebagai kandidat kuat untuk mengisi kursi Rais Aam PBNU mendatang, seiring menguatnya sentimen dukungan terhadap poros Lirboyo pasca serangkaian insiden tersebut ditambah keputusan pleno muktamar yang mengamanatkan mekanisme pemilihan rais aam dan ketum PBNU dilakukan melalui AHWA.
Pertaruhan berikutnya justru ada di tabulasi sembilan nama anggota AHWA definitif. Forum yang akan sangat menentukan siapa yang akhirnya duduk sebagai Rais Aam periode 2026–2031, entah itu petahana, representasi Lirboyo seperti KH Kafabihi Mahrus dan KH Anwar Mansur, atau nama lain yang muncul dari musyawarah mufakat sembilan ulama sepuh tersebut, kita tunggu saja tanggal mainnya. (pun)
