Home RELIGISesat Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme Dibahas Ustadz Jufri

Sesat Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme Dibahas Ustadz Jufri

by sabda news

Ustadz Jufri menyampaikan materi Ide Sesat Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme dalam Pengajian Ahad Pagi PDM Gresik Ahad (4/1/2026) ( fo.Istimewa/SabdaNews.com)

SabdaNews.com- Pengajian Ahad Pagi Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gresik awal tahun 2026 ini disampaikan oleh anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Timur Ust. Ahmad Jufri Ubaid, M. Ag dengan tema “Membentengi Akidah Umat dari Liberalisme dan Sekularisme.”   Pengajian Ahad 4/1/2026 bertepatan dengan 15 Rajab 1447H di Gedung Dakwah Muhammadiyah PDM Gresik Jl. Permata No. 07 Graha Bunder Asri (GBA) Kebomas Gresik ini awalnya diagendakan diasuh oleh pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal, qodarullah hari ini beliau berhalangan hadir karena hari ini bertepatan dengan pemakaman Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. yang wafat Sabtu (3/1/2026).

Sedikit demi sedikit , imbuhnya, Allah mewafatkan orang-orang alim, mencabut ilmu, berfatwa tanpa ilmu, sebagaimana yang disabdakan Rosulullah Muhammad Saw bahwa dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja dari diri manusia. Akan tetapi mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama. Apabila tidak tersisa sama sekali seorang Alim, manusia akan mengambil pemimpin-pemimpin yang bodoh, tatkala mereka ditanya maka mereka akan berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.”

Hal itu, tegas Ustadz Jufri, dipertegas dalam QS Al-Isra’ ayat 36 Allah berfirman “dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Jangan mengatakan sesuatu yang engkau tidak ketahui, jangan mengaku melihat apa yang tidak engkau lihat, jangan pula mengaku mendengar apa yang tidak engkau dengar, atau mengalami apa yang tidak engkau alami. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, adalah amanah dari Tuhanmu, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya, apakah pemiliknya menggunakan untuk kebaikan atau keburukan?”

Ia lalu memberikan contoh saat orang yang tidak berilmu menjadi imam sholat,”setelah sujud kedua rakkat kedua, imam semestinya duduk takhiyat awal, dia tidak mengetahui lalu berdiri, makmum yang masih mengerti, lalu membaca subhanallah, jamaah perempuan bertepuk sekali, tapi imam tetap berdiri dan melanjutkan sholatnya”kisahnya. Saat duduk tahiyat akhirpun ia tidak sujud sahwi dan langsung salam,tambahnya, si makmum berucap subhanallah, karena minimnya pengetahuan, sang imam kesal lalu membalikkan wajahnya sambal berucap “salahku opo”. “Nah inikan jadi kacau … jika orang berilmu sudah diwafatkan Allah dan tersisa hanya orang-orang semacam ini”ungkap Jufri.

Padahal, ujar Jufri, hal ini pernah terjadi di zaman Rosulullah Muhammad Saw,dalam satu hadits di dalam Al-kafi diriwayatkan berkata Abu Abdillah, … Sesungguhnya Rasulullah saw pernah shalat dzhuhur berjamaah dua rakaat, karena lupa, kemuadian memberi salam akhir, kemudian Dzu As-Syimalain berkata wahai rasulullah saw, apakah ada yang kurang didalam shalat anda, Rasul menjawab : memang apa yang terjadi? Dzu As-Syimalain berkata sesungguhnya anda telah shalat dua rakaat, kemudian Rasul Saww bertanya kepada yang lainnya : apakah kalian melihat benar apa yang dia katakan , mereka berkata : betul, kemudian rasulullah saww, meneruskan shalatnya lalu melaksanakan sujud sahwi.

Jufri lalu menyampaikan keutamaan ilmu, bahwa Allah mengajarkan ilmu kepada seseorang, tapi tidak mengajarkan ilmu itu kepada orang lain, hal itu berdasarkan sebuah kisah yang diabadikan di Alqur’an. Di Shahih Bukhari 119, dari Ibnu Abbas la berkata: “Musuh Allah itu berdusta, sungguh [Ubay bin Ka’b] telah menceritakan kepada kami dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Musa Nabi Allah berdiri di hadapan Bani Isra’il memberikan khutbah, lalu dia ditanya: “Siapakah orang yang paling pandai?” Musa menjawab: “Aku.” Maka Allah Ta’ala mencelanya karena dia tidak diberi pengetahuan tentang itu. Lalu Allah Ta’ala memahyukan kepadanya: “Ada seorang hamba di antara hamba-Ku yang tinggal di pertemuan antara dua lautan lebih pandai darimu.” Lalu Musa berkata: “Wahai Rabb, bagaimana aku bisa bertemu dengannya?” Maka dikatakan padanya: “Bawalah ikan dalam keranjang, bila nanti kamu kehilangan ikan itu, maka itulah petunjuknya.” Lalu berangkatlah Musa bersama pelayannya yang bernama Yusya’ bin Nun, dan keduanya membawa ikan dalam keranjang hingga keduanya sampai pada batu besar. Lalu keduanya meletakkan kepalanya di atas batu dan tidur. Kemudian keluarlah ikan itu dari keranjang {lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu} (Al Kahfi: 61). Kejadian ini mengherankan Musa dan muridnya, maka keduanya melanjutkan sisa malam dan hari perjalannannya. Hingga pada suatu pagi Musa berkata kepada pelayannya, {Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa lelah karena perjalanan kita ini} (Al Kahfi: 62).

Musa tidak merasakan kelelahan kecuali setelah sampai pada tempat yang dituju sebagaimana diperintahkan. Maka muridnya berkata kepadanya: {Tahukah kamu ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi? Sesungguhnya aku lupa menceritakan ikan itu. Dan tidaklah yang melupakan aku ini kecuali setan} (Al Kahfi: 63). Musa lalu berkata: {Itulah tempat yang kita cari. Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula} (Al Kahfi: 64). Ketika keduanya sampai di batu tersebut, didapatinya ada seorang laki-laki mengenakan pakaian yang lebar, Musa lantas memberi salam. Khidlir lalu berkata: “Bagaimana cara salam di tempatmu?” Musa menjawab, “Aku adalah Musa.” Khidlir balik bertanya, “Musa Bani Isra’il?”

Musa menjawab, “Benar.” Musa kemudian berkata: {Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?} Khidlir menjawab: {Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama Aku} (Al Kahfi: 66-67). Khidlir melanjutkan ucapannya, “Wahai Musa, aku memiliki ilmu dari ilmunya Allah yang Dia mangajarkan kepadaku yang kamu tidak tahu, dan kamu juga punya ilmu yang diajarkan-Nya yang aku juga tidak tahu.” Musa berkata: {Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun} (Al Kahfi: 69). Maka keduanya berjalan kaki di tepi pantai sementara keduanya tidak memiliki perahu, lalu melintaslah sebuah perahu kapal.

Mereka berbicara agar orang-orang yang ada di perahu itu mau membawa keduanya. Karena Khidlir telah dikenali maka mereka pun membawa keduanya dengan tanpa bayaran. Kemudian datang burung kecil hinggap di sisi perahu mematuk-matuk di air laut untuk minum dengan satu atau dua kali patukan. Khidlir lalu berkata: “Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu bila dibandingkan dengan ilmu Allah tidaklah seberapa kecuali seperti patukan burung ini di air lautan.” Kemudian Khidlir sengaja mengambil papan perahu lalu merusaknya. Musa pun berkata: “Mereka telah membawa kita dengan tanpa bayaran, tapi kenapa kamu merusaknya untuk menenggelamkan penumpangnya. (  Kontributor Mahfudz Efendi/Red)

You may also like

Leave a Comment