Home GaleriMenghadapi “Teologi Syok” di Era Algoritma: Pena Da’i Nusantara Launching 100++ Chatbot AI Penyuluh se-Nusantara

Menghadapi “Teologi Syok” di Era Algoritma: Pena Da’i Nusantara Launching 100++ Chatbot AI Penyuluh se-Nusantara

by sabda news

JAKARTA ,SabdaNews.com— Sebanyak 147 chatbot kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk penyuluh agama dari 17 provinsi resmi diluncurkan dalam program “100+ Chatbot AI Penyuluh se-Nusantara” yang digagas Komunitas Pena Da’i Nusantara (PDN), Selasa (4/8/2026). Inovasi tersebut menjadi bagian dari transformasi digital penyuluhan agama untuk memperkuat layanan keagamaan di tengah meningkatnya penggunaan teknologi AI oleh masyarakat dalam mencari informasi dan jawaban atas berbagai persoalan kehidupan.

Peluncuran yang berlangsung secara daring melalui Zoom pada pukul 19.00–21.00 WIB itu dipandu oleh Wahyu Qadri, Penyuluh Agama Islam Kota Langsa, Provinsi Aceh, sebagai moderator. Kegiatan tersebut dihadiri jajaran, Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi (Pusbangkom) SDM Pendidikan dan Keagamaan, Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM Kemenag RI, Dr. H. Mastuki, M.Ag., Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam Kemenag RI, Dr. Jamaludin M. Marki, Ketua DPP Pena Da’i Nusantara Dr. Muklis Sanjaya, serta ratusan penyuluh agama dari berbagai daerah.

Dalam pidato kuncinya, Mastuki mengatakan perkembangan teknologi telah membawa masyarakat memasuki fase yang tidak hanya memunculkan culture shock, tetapi juga theology shock. Menurut dia, perubahan tersebut terlihat dari bergesernya cara masyarakat memperoleh jawaban atas persoalan keagamaan.  “Ini bukan sekadar gegar budaya, tetapi juga guncangan teologis yang menyentuh aspek-aspek esensial kehidupan beragama,” kata Mastuki.

Ia menjelaskan, jika sebelumnya masyarakat lebih banyak berkonsultasi langsung kepada tokoh agama, kini semakin banyak yang mengandalkan mesin pencari maupun chatbot berbasis AI untuk memperoleh jawaban secara cepat. Persoalan keluarga, tekanan pekerjaan, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK), kata dia, kini sering dipahami sebagai persoalan yang membutuhkan perspektif keagamaan.  “Kementerian Agama membutuhkan layanan yang terukur dan mampu mengikuti perkembangan zaman ketika masyarakat sudah berbicara tentang AI,” ujarnya.  Meski demikian, Mastuki menegaskan bahwa AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan penyuluh agama. Teknologi, menurut dia, hanya berfungsi sebagai alat bantu dalam memperluas akses layanan keagamaan.  “Keteladanan, empati, dan pendampingan terhadap persoalan-persoalan sensitif tetap menjadi tugas penyuluh agama. AI tidak dapat menggantikan peran itu,” katanya.

Ketua DPP Pena Da’i Nusantara, Muklis Sanjaya, mengatakan pengembangan chatbot tersebut berawal dari gerakan para penyuluh agama yang mengikuti pembelajaran melalui Massive Open Online Course (MOOC) dan platform Pintar Kementerian Agama. Program itu kemudian dilanjutkan oleh Pena Da’i Nusantara dengan bimtek kepada para penulis yang tergabung dalam komunitas Pena Da’i Nusantara agar para penyuluh mampu membuat layanan kepenyuluhan digital sesuai kebutuhan masing-masing.  “Dari proses itu lahirlah 147 chatbot AI yang kini tersebar di 17 provinsi,” ujar Muklis.

Sementara itu, Jamaludin M. Marki menilai peluncuran 147 Chatbot AI Penyuluh Agama merupakan sebuah terobosan baru dalam dunia penyuluhan agama di Indonesia. Menurut dia, gerakan tersebut berpotensi menjadi perbincangan luas di ruang digital karena mempertemukan teknologi kecerdasan buatan dengan layanan keagamaan.  “Ini sebuah terobosan baru. Saya melihat gerakan ini sangat mungkin ramai di jagad maya, bahkan bisa menjadi trending topic. Lebih dari itu, ini menandai lahirnya sebuah gerakan baru penyuluh agama Indonesia dalam memanfaatkan kecerdasan buatan untuk pelayanan kepada masyarakat,” ujar Jamaludin.

Ia menambahkan, perkembangan tersebut sekaligus menjadi tantangan baru bagi para penyuluh agama. Kemampuan berdakwah dan memberikan layanan keagamaan, menurutnya, tidak lagi cukup dilakukan melalui mimbar dan pertemuan tatap muka, tetapi juga harus diimbangi dengan penguasaan media sosial dan teknologi digital.   “Tantangan penyuluh hari ini adalah menguasai jagad media sosial. Di sanalah masyarakat mencari informasi, berdiskusi, bahkan membentuk cara pandang terhadap agama. Penyuluh harus hadir di ruang digital dengan narasi yang mencerahkan, moderat, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana,” katanya.

Untuk menunjukkan kemampuan sistem yang dikembangkan, panitia menghadirkan sesi live demo. Penyuluh Agama Islam Haris Shofiudin mendemonstrasikan chatbot yang mampu menjawab berbagai pertanyaan keagamaan secara interaktif dan real time di hadapan peserta. Selain peluncuran chatbot, PDN juga memberikan penghargaan kepada tiga penyuluh dengan inovasi chatbot terbaik. Juara pertama diraih Muhammad Robbish Thovani, S.H., M.H. dari Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, melalui chatbot “maspenyuluh_”. Peringkat kedua diraih Habibur Rohmam, S.Pd., Gr., C.PSQ dari Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, melalui chatbot “PTSP PENYIAR HIKMAH”, sedangkan peringkat ketiga diraih Tri Lestari, S.H. dari Kecamatan Talo, Kabupaten Seluma, Bengkulu, melalui chatbot “SAPA UMAT”.

Selain mendorong pemanfaatan AI, Mastuki mengusulkan agar rekam jejak percakapan (chat history) chatbot dimanfaatkan sebagai sumber data untuk memetakan persoalan keagamaan yang berkembang di masyarakat. Menurut dia, analisis tersebut dapat menjadi dasar penyusunan program penyuluhan yang lebih tepat sasaran. Peluncuran 147 Chatbot AI Penyuluh Agama se-Nusantara menjadi salah satu tonggak transformasi digital penyuluhan agama di Indonesia. Para narasumber sepakat bahwa kecerdasan buatan akan menjadi instrumen penting dalam memperluas jangkauan layanan keagamaan. Namun, di balik kemajuan teknologi tersebut, keteladanan, empati, pendampingan, dan sentuhan kemanusiaan tetap menjadi fondasi utama yang tidak dapat digantikan oleh mesin. (Dion/Red)

 

You may also like

Leave a Comment