SURABAYA ,SabdaNews.com– Pengurus Wilayah Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (PW Ikapete) Jawa Timur menegaskan pentingnya kontekstualisasi pemikiran Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mengenai kemandirian umat di era modern. Hal ini disampaikan menyusul refleksi mendalam terhadap gagasan ekonomi dan mentalitas yang diwariskan oleh pendiri Nahdlatul Ulama tersebut. Ketua PW Ikapete Jawa Timur, KH. Roisudin Bakrie, menyatakan bahwa gagasan Kiai Hasyim Asy’ari bukan sekadar teks sejarah, melainkan cetak biru (blueprint) yang sangat relevan untuk menjawab tantangan ekonomi kontemporer.
“Hadratussyaikh sejak awal telah mengajarkan bahwa kemandirian umat adalah pondasi utama perjuangan Islam dan bangsa. Jika kita ingin berdaulat secara politik dan agama, maka ekonomi kita harus kuat agar tidak selalu bergantung atau njagakno pada pihak luar,” ujar KH. Roisudin Bakrie dalam keterangannya di Surabaya. Kiai Roisudin menambahkan, bukti konkret dari visi besar tersebut adalah berdirinya Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Saudagar) pada tahun 1918. Gerakan tersebut sukses memutus rantai monopoli perdagangan kolonial melalui jaringan bisnis Muslim yang solid. “Kami di PW Ikapete Jatim berkomitmen menghidupkan kembali spirit Nahdlatut Tujjar ini. Potensi ekonomi alumni Tebuireng sangat besar, tinggal bagaimana kita mengonsolidasikannya ke dalam sektor-sektor riil,” imbuhnya.
Menyambung hal tersebut, Sekretaris PW Ikapete Jawa Timur, KH. Moch. Saiful Bachri, menekankan bahwa penguatan ekonomi yang digagas Kiai Hasyim selalu menyentuh sektor-sektor strategis kemasyarakatan, seperti pertanian, peternakan, dan perdagangan berbasis syariat. Beliau mencontohkan bagaimana Pesantren Tebuireng menggerakkan santri dan warga sekitar untuk mengoptimalkan lahan produktif lewat sistem kemitraan modal atau Syirkatul Inan. “Kiai Hasyim bukan sekadar berteori, beliau adalah pelaku ekonomi. Beliau seorang petani dan pedagang sukses. Etos kerja inilah yang wajib diteladani oleh para alumni dan ulama masa kini, agar fatwa dan perjuangan kita tetap murni, obyektif, serta bebas dari intervensi kepentingan penguasa maupun pemilik modal,” jelas KH. Moch. Saiful Bachri.
Lebih lanjut, Kiai Saiful Bachri mengingatkan bahwa kemandirian finansial tidak akan terwujud tanpa adanya kemandirian mental dan karakter. Mengutip kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim, ia menegaskan bahwa pendidikan pesantren harus mampu melahirkan manusia yang berintegritas dan tidak bermental peminta-minta. “Kemandirian ekonomi umat harus berjalan beriringan dengan kemandirian mental. Dengan bekal kedalaman ilmu dan keluhuran adab, alumni Tebuireng harus mampu menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat sipil secara mandiri,” pungkas KH. Moch. Saiful Bachri. (Ahmad Lukmanul Hakim/ Bersambung/Red)
