JOMBANG.SabdaNews.com – Tensi Muktamar ke 35 Nahdlatul Ulama (NU) di Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang kian memanas, menyusul adanya desakan agar Rais Aam PBNU K.H Miftachul Achyar untuk tidak menancalonkan diri kembali sebagai Rais Aam PBNU masa khitmad 2026-2031.
Desakan itu disampaikan Ketua Umum Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) KH Asep Saifuddin Chalim di sela sela Muktamar NU di Jombang.
“Kami minta Kyai Miftach untuk tidak mencalonkan kembali sebagai Rosi Aam, demi NU ke depan,” katanya di Jombang, Jumat (28/8/2026).
Pertimbangan utama Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah ini agar Kiai Miftach mundur dari pencalonan murni semata mata untuk kepentingan Nahdlatul Ulama (NU) di masa depan.
Kiai yang juga Ketua Umum Pergunu ini pun mengaku memiliki kedekatan dengan KH Miftachul Akhyar. Bahkan, ia menyebut dirinya pernah mengajak Miftach masuk dalam struktur NU ketika dirinya menjabat Ketua PCNU Kota Surabaya pada tahun 1995.
“Saya sebagai orang yang dekat dengan Kiai Miftach, dan pernah mengajak Kiai Miftah menjadi pengurus NU, yaitu menjadi Wakil Rais di cabang Kota Surabaya ketika saya menjadi ketua cabangnya dulu,” ujar Kiai Asep.
Atas dasar hubungan baik tersebut, Kiai Asep mengatakan dirinya justru meminta Miftach mempertimbangkan kembali pencalonannya sebagai Rais Aam. Pasalnya, posisi tersebut membutuhkan kapasitas dan kesiapan yang kuat.
“Saya merasa kasihan kepada beliau. Saya minta beliau untuk mundur dan jangan mencalonkan lagi sebagai Rais Aam. Karena menurut saya, beliau tidak punya kapasitas untuk itu,” dalihnya.
Kiai Asep menilai persoalan tersebut bukan hanya menyangkut Kiai Miftach secara pribadi, tetapi juga berdampak terhadap keluarga dan citra NU.
Ia menyinggung munculnya olok-olok terhadap Kiai Miftach di tengah masyarakat yang dinilainya dapat menimbulkan tekanan bagi keluarga.
“Nomor dua, saya merasakan kasihan keluarganya. Bagaimana beliau oleh anak-anak kecil diolok-olok atas nama Rais Aam. Bagaimana tekanan mental kepada keluarga,” katanya.
Kiai Asep juga mengaitkan persoalan tersebut dengan marwah organisasi. Menurutnya, NU membutuhkan figur Rais Aam yang mampu menghadirkan keteduhan sekaligus kewibawaan di tengah jamaah.
“NU perlu kembali diagungkan marwahnya, dibesarkan marwahnya. Untuk itu harus di-handle oleh orang yang teduh, oleh orang yang berakhlak karimah, oleh orang yang haibah,” pungkasnya.(pun)
