Ini Respon PWNU Jatim Atas Meninggalnya Santri di Mojo, Kota Kediri

oleh -164 Dilihat

SabdaNews.com –  Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur dengan keprihatinan mendalam menanggapi peristiwa memilukan, yaitu meninggalnya seorang santri di salah satu Pondok Pesantren di Mojo, Kota Kediri. Dalam hal ini PWNU ingin menggaris bawahi beberapa hal penting yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Pertama, PWNU Jatim menyayangkan fakta bahwa pondok pesantren tersebut tidak memiliki izin operasional yang sah. Keberadaan lembaga pendidikan tanpa izin resmi dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan terkait dengan tanggung jawab lembaga (ponpes) terhadap peserta didik/santri, serta potensi terjadinya penyimpangan dari ketentuan yang telah diatur oleh pemerintah.

Kedua, PWNU Jatim mengamati adanya perbedaan dalam pendekatan pola pendidikan di ponpes tersebut, dengan nilai-nilai yang telah lama dijunjung tinggi oleh ponpes di Jatim khususnya. Ponpes selama ini telah menjadi lembaga pendidikan yang mempertahankan nilai-nilai luhur, sifat asuh dan mengayomi, kemandirian, gotong royong, dan saling membantu (ta’awun) sebagai inti dari pembentukan karakter santri.

Dalam tanggapannya, KH. Abdul Hakim Mahfudz, Ketua PWNU Jatim yang merupakan Pengasuh Ponpes Tebu Ireng, serta cicit langsung dari Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, menyatakan bahwa masyarakat Jatim, khususnya tidak perlu khawatir atau ragu dalam memasukkan putra-putrinya ke ponpes  setelah mengetahui kejadian ini.

Beliau menekankan bahwa salah satu hikmah yang bisa dipetik dari kejadian ini adalah untuk menggugah kesadaran masyarakat agar lebih selektif dalam memilih ponpes untuk putra-putrinya. Yaitu pondok pesantren yang memiliki tradisi pendidikan luhur dan memiliki garis keilmuan yang jelas (mutawattir).

Baca Juga:  Hafizah Cilik Asal Gresik Yang Curi Perhatian Dalam Ajang Hafiz Indonesia 2023

“Dalam situasi seperti ini, kita harus tetap tenang dan bijak. Masyarakat harus terus mempercayai ponpes sebagai lembaga pendidikan yang kokoh dan amanah. Namun, kita juga harus lebih kritis dan selektif dalam memilih ponpes yang sesuai dengan nilai-nilai Islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah An Nahdliyyah yang benar,” ujar KH. Abdul Hakim Mahfudz yang akrab disapa Gus Kikin ini.

PWNU Jatim berharap agar kejadian ini menjadi momentum bagi semua pihak untuk meningkatkan kualitas pendidikan di ponpes dan memastikan bahwa setiap lembaga pendidikan Islam beroperasi sesuai dengan standar yang ditetapkan. (pun).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.