GRESIK, SabdaNews.com- Dalam kajian menjelang buka puasa, takmir Masjid At Taqwa Giri Muhammadiyah Cabang Kebomas Gresik Kamis (26/2/2026) mendatangkan Arie Musayyaf Al Afghany, M.Pd. sebagai pengasuhnya. Topik yang diketengahkan kepada jamaah yang antusias hadir adalah istiqomah.
Ustaz Arie mengawali ceramahnya dengan hadits yang diriwayatkan Muslim, no. 38; Ahmad 3/413; Tirmidzi, no. 2410; Ibnu Majah, no. 3972. “Dari Sufyan bin Abdullâh ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasûlullâh, katakan kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun setelah Anda!” Beliau menjawab: “Katakanlah, ‘aku beriman’, lalu istiqomahlah”
Ustaz Arie menjelaskan makna istiqomah dan kedudukan hadits ini dengan mengatakan: “Istiqomah adalah meniti jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, dengan tanpa membelok ke kanan atau ke kiri. Dan istiqomah mencakup melakukan semua ketaatan yang lahir dan yang batin dan meninggalkan semua perkara yang dilarang. Maka wasiat ini mencakup seluruh ajaran agama”Ujarnya.
Ustaz Arie menegaskan dari penjelasan di atas maka diketahui bahwa ukuran istiqomah adalah agama yang lurus ini. Yaitu melakukan ketaatan sebagaimana diperintahkan dengan tanpa melewati batas, tanpa mengikuti hawa-nafsu, walaupun orang menganggapnya sebagai sikap berlebihan atau mengurangi.
Allâh Ta’ala berfirman dalam Surah Hud 112 Maka istiqomahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) ini menyampaikan kebiasaan dan perbuatan baik yang sudah dilakukan selama Ramadan, semestinya terus berlanjut di Syawal dan seterusnya hingga Ramadan lagi.
Dari awal hingga akhir Ramadan, imbuh ustaz Arie, kita sudah berupaya memaksimalkan kesempatan di bulan penuh keberkahan ini, maka sudah seharusnya tilawah Alquran, sholat malam, bersedekah terus berlanjut.
Untuk menjaga istiqomah, ustaz Arie memberikan beberapa cara :
1) Biasakan diri kita untuk aktif dalam aktifitas ibadah
Dengan senantiasa berada dalam lingkaran ibadah ini akan menjaga keistiqomahan.
2) Perbanyak mengikuti dan menghadiri majelis ilmu.
Ibarat Smartphone, majelis ilmu adalah charger yang mengisi daya Smartphone itu.
3) Mengistiqomahkan lisan dengan dzikir dan baca Alquran.
Istiqomah tidak mudah, ini akan menjadi berat jika lisan tidak terbiasa.
Saat baca Alquran, di cetakan Madinah, jika kita ingin 1 bulan khatam Alquran, Setelah sholat membaca 2 lembar. Jika satu juz ada 10 lembar, maka dalam sebulan dapat mengkhatamkannya.
Ustaz Arie menambahkan seorang yang diberikan kesempatan di bulan Ramadan, namun tidak diampuni oleh Allah Didoakan malaikat Jibril dan diaminkan Rosulullah. Dari Jabir RA, bahwasanya Nabi SAW naik ke mimbar. Ketika beliau naik ke anak tangga pertama, kedua, dan ketiga beliau mengucapkan, Aamiin. Lalu para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, kami semua mendengar engkau berkata: Amiin, amiin, amiin. Beliau menjawab ketika aku menaiki tangga pertama, Jibril datang kepadaku dan berkata: Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadan namun dosanya tidak diampuni.
Maka Aku pun berkata: Aamiin.Kemudian Dia (Jibril) berkata: Celakalah seorang hamba, jika mendapati kedua atau salah satu orang tuanya masih hidup, namun keberadaan kedua orang tuanya tidak membuatnya masuk ke dalam surga. Aku pun berkata: Aamiin. Kemudian Dia (Jibril) berkata: Celakalah seorang hamba, jika namamu disebutkan dihadapannya tapi dia tidak bershalawat untukmu. Maka Aku pun berkata: Aamiin. HR. Ibnu Khuzaimah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam shahih al-Tirmidzi)
“Ibarat Ramadan parade keimanan, namun begitu masuk Syawal menjadi parade kemaksiatan” Tegasnya. Di akhir kajian, Ustaz Arie memberikan doa agar dapat menjadi hamba yang istiqomah, Ingatlah, kita butuh doa agar bisa istiqamah karena hati kita bisa saja berbolak-balik. Oleh karenanya, do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” ( Kontributor : Mahfudz Efendi/Red)
