SabdaNews.com – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengajak Universiti Malaya membangun kemitraan strategis dengan perguruan tinggi dan pondok pesantren di Jawa Timur guna memperkuat ekosistem ekonomi syariah.
Ajakan tersebut disampaikannya saat menerima kunjungan delegasi Universiti Malaya dalam program Nusantara Shariah and Economics Exchange (N-See) di Ruang Bhinaloka Adikara Kantor Gubernur Jawa Timur, Rabu (5/8/2026.
Menurutnya, Indonesia dan Malaysia memiliki kedekatan sejarah, budaya, serta rumpun bahasa yang menjadi modal kuat untuk membangun kerja sama yang lebih erat, khususnya dalam pengembangan ekonomi syariah.
“Saya melihat Indonesia dan Malaysia tidak perlu berkompetisi dalam ekonomi syariah. Justru kita harus berkolaborasi. Malaysia memiliki pengalaman yang sangat baik, sementara Jawa Timur memiliki ekosistem yang lengkap. Jika kedua kekuatan ini dipertemukan, saya yakin kita dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap kemasyuran ekonomi syariah di mata dunia,” kata Emil.
Sebagai Ketua Harian Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Jawa Timur, ia menjelaskan salah satu kekuatan utama yang dimiliki Jatim adalah keberadaan 7.425 pondok pesantren yang tersebar di berbagai kabupaten/kota dan menjadi fondasi pengembangan ekosistem ekonomi syariah di daerah.
Menurutnya, pesantren saat ini tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Melalui konsep Ekotren (Ekonomi Pesantren), Pemprov Jatim terus mendorong pesantren menjadi driving force pengembangan ekosistem halal melalui penguatan koperasi syariah, UMKM halal, industri halal, hingga peningkatan kapasitas kewirausahaan santri.
Ekosistem syariah yang telah terbentuk ini lanjut Emil, akan semakin kuat apabila dibangun melalui kemitraan internasional, termasuk dengan Universiti Malaya yang selama ini dikenal memiliki keunggulan di bidang ekonomi syariah.
“Malaysia memiliki keunggulan dalam pengembangan ekonomi syariah, sementara Jawa Timur memiliki ekosistem yang sangat kuat. Karena itu, kami ingin hubungan ini tidak hanya berhenti pada pertukaran akademik, tetapi berkembang menjadi kolaborasi nyata dalam riset, inovasi, pengembangan sumber daya manusia, dan penguatan ekosistem halal,” katanya.
Ia pun menawarkan berbagai peluang kerja sama antara Universiti Malaya dengan perguruan tinggi di Jatim. Diantaranya Universitas Airlangga (Unair), UIN Sunan Ampel (UINSA), serta berbagai perguruan tinggi lainnya yang memiliki konsentrasi dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.
Adapun fokus kerjasama tersebut dapat diimplementasikan melalui program pertukaran dosen dan mahasiswa, riset bersama, pengembangan kurikulum, hingga pendampingan inkubasi bisnis syariah yang melibatkan perguruan tinggi, pesantren, dan dunia usaha.
“Kalau kita berjalan bersama, bukan hanya perguruan tinggi yang memperoleh manfaat, tetapi juga masyarakat. Hasil riset dapat diterapkan untuk memperkuat UMKM, industri halal, hingga meningkatkan kesejahteraan umat. Partnership seperti inilah yang ingin terus kita bangun,” pungkasnya. (pun)
