SabdaNews.com – Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, DPRD Provinsi Jawa Timur menggelar pergelaran wayang kulit megah yang menghadirkan perpaduan antara seni tradisional, hiburan rakyat, serta refleksi nilai-nilai luhur bangsa. Acara ini dihadiri oleh jajaran pejabat pemerintah daerah, unsur TNI/Polri, kejaksaan, tokoh masyarakat, hingga tamu internasional.
Ketua DPRD Jatim, Muhammad Musyafak hadir bersama wakil ketua IV DPRD Jatim Sri Wahyuni didampingi Ketua Komisi E DPRD Jatim, Dr Sri Untari Bisowarno, Ketua Fraksi PKS Hj. Lilik Hendarwati, anggota Fraksi Partai Demokrat, Dr Rasiyo, jajaran kepala OPD di lingkungan Pemprov Jatim.
Turut pula hadir jajaran forkopimda seperti Kapolsek Krembangan, Dandim Krembangan hingga Kasi Pemulihan Aset dan Pengelolaan Barang Bukti Kejari Tanjung Perak Surabaya, dan para tamu undangan mancanegara serta masyarakat sekitar.
Dalam sambutannya, ketua DPRD Jatim Muhammad Musyafak menegaskan bahwa pergelaran wayang kulit bukan sekadar tontonan visual, melainkan komitmen nyata dalam menjaga kekayaan tradisi yang telah diakui dunia. Sejak ditetapkan UNESCO pada 7 November 2003 sebagai karya agung warisan budaya lisan dan takbenda manusia, sehingga wayang menjadi milik seluruh bangsa Indonesia yang patut dilestarikan.
“Melalui momentum ini, DPRD Jatim berharap tradisi tetap dekat di hati masyarakat dan dicintai generasi penerus sekaligus menjadi ruang hiburan dan sarana mempererat kerukunan masyarakat,” tegas politikus PKB, Kamis (9/10/2026) malam.
Pagelaran ini, lanjut Musyafak juga menjadi hiburan bagi masyarakat karena dapat menyaksikan kepiawaian dalang Ki Arief Sarjono dalam memainkan wayang kulit dengan lakon Wahyu Jitabsara serta penampilan deretan seniman ternama seperti Abah Kirun, Kadir, Cak Percil CS, dan Guyon Maton yang membawakan humor khas Jawa Timur.
“Hiburan malam ini, mari kita nikmati bersama, tertawa nilainya sangat mahal, bergembira sekaligus tetap mengambil pelajaran dari cerita dan pesan yang disampaikan. Inilah salah satu cara agar budaya kita tetap hidup, masyarakat bisa menikmati hiburannya dan generasi muda bisa mengenal tradisinya dan nilai-nilai luhur bangsa tetap terjaga,” ungkap mantan kerua DPRD Kota Surabaya ini.
“Melalui hari jadi ke 81 provinsi Jawa Timur ini, kebersamaan dan kerukunan masyarakat makin kuat. Jawa Timur harus terus tumbuh menjadi provinsi yang maju, sejahtera dan tetap menjunjung tinggi budaya serta kearifan lokalnya,” imbuhnya.
Secara khusus, Musyafak juga mengajak masyarakat untuk ikut mendoakan supaya Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah Indar Parawansa agar senantiasa diberikan kekuatan dan kesehatan dalam memimpin Jawa Timur bersama DPRD menuju wilayah yang semakin sejahtera, maju, serta wilayah yang baldatun thoyyibatun warobbun ghofur.

Masih di tempat yang sama, Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.A.P., menyampaikan pandangan mendalam mengenai relevansi lakon wayang seperti kiasan Wahyu Jitabsoro dan rekaan desain perang Baratayudha oleh Batara Narada dan Batara Guru sebagai cermin sejarah yang kerap berulang.
Politikus asal PDI Perjuangan ini menekankan pentingnya menjadikan kisah wayang sebagai referensi moral dalam menghadapi “perang” masa kini, yang tidak lagi berwujud pertempuran fisik melainkan perjuangan melawan kemiskinan dan ketidakmengertian (kebodohan).
Target utama Jawa Timur adalah meluluskan daerahnya menjadi provinsi yang mampu menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat.
Guna menjawab tantangan zaman, Komisi E DPRD Jatim juga mendorong integrasi antara seni wayang dan teknologi modern, termasuk pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI).
“Langkah ini diharapkan membuat seni tradisi tetap relevan, menarik bagi generasi muda, dan menjadi tatanan edukasi tanpa tercabut dari akar budayanya,” harap politikus asal Malang ini.
Melengkapi pesan malam tersebut, Dalang Ki Arief Sarjono menguraikan ajaran kepemimpinan luhur melalui konsep Satrio Tomo, yang menuntut seorang pemimpin atau manusia utama untuk memiliki empat sifat dasar, yaitu Tata (Memiliki tatanan, keteraturan, dan etika dalam bertindak0. Titi (Cermat, teliti, dan penuh kehati-hatian dalam mengambil keputusan). Tetes (Dermawan, peduli, serta gemar berbagi kepada sesama). dan Tatas (Tuntas dalam menyelesaikan tantangan dan amanah yang diemban).
Rangkaian acara berlangsung meriah, tertib, dan penuh kehangatan, menjadi simbol optimisme Jawa Timur yang terus tumbuh maju tanpa kehilangan kearifan lokalnya sehingga mampu menjadi Gerbang Baru Nusantara seperti yang dicita-citakan bersama. (pun)
