SabdaNews.com- Perbandingan Sikap antara Hadlratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan Habib Utsman bin Yahya dalam memandang kolonialisme Belanda. menunjukkan kontras sejarah yang sangat tajam. Kedua tokoh ini hidup di dua atmosfer politik yang berbeda, sehingga melahirkan respons keagamaan yang bertolak belakang. Mbah Hasyim memilih garis perlawanan total melalui Resolusi Jihad, sementara Habib Utsman bin Yahya memilih garis pasif-akomodatif dan menjadi penasihat pemerintah kolonial. Berikut adalah bukti fakta perbedaan sikap keagamaan dan politik kedua tokoh tersebut terhadap Belanda:
1. KH. Hasyim Asy’ari: Garis Perlawanan Total & Resolusi Jihad
Sebagai soko guru ulama Nusantara dan pendiri Nahdlatul Ulama, Mbah Hasyim memandang bahwa penjajahan di atas bumi Nusantara adalah penghalang utama ditegakkannya syariat Islam. Bagi beliau, kedaulatan tanah air adalah bagian tak terpisahkan dari iman (Hubbul Wathon minal Iman). * Sikap terhadap Belanda: Sejak era Hindia Belanda, Mbah Hasyim secara konsisten menolak bekerja sama. Beliau bahkan mengeluarkan fatwa terkenal yang mengharamkan umat Muslim memakai pakaian menyerupai Belanda (seperti jas dan dasi) sebagai bentuk penolakan kultural terhadap penjajah. * Puncaknya, Fatwa Resolusi Jihad (22 Oktober 1945), ketika Belanda mencoba kembali menjajah Indonesia pasca-proklamasi kemerdekaan (membonceng tentara Sekutu/NICA), Mbah Hasyim mengumpulkan para kiai se-Jawa dan Madura di Surabaya. * Isi Fatwa Jihad: Mbah Hasyim mencetuskan Resolusi Jihad yang menetapkan hukum Fardhu ‘Ain (wajib bagi setiap individu) bagi umat Muslim yang berada dalam radius 94 kilometer dari posisi musuh untuk ikut mengangkat senjata. Beliau menegaskan bahwa mati dalam medan perang melawan penjajah adalah mati syahid, sedangkan berkhianat mendukung penjajah dihukumi sebagai dosa besar. Fatwa inilah yang membakar semangat para santri hingga meletusnya Pertempuran 10 Nov 1945 di Surabaya.
2. Habib Utsman bin Yahya: Garis Pasif-Akomodatif & Penolakan Jihad
Sebaliknya, Habib Utsman bin Yahya, ulama dari klan Ba’alawi yang diangkat Belanda sebagai Mufti Betawi pada akhir abad ke-19, memilih jalur kompromi politik demi stabilitas ketertiban umum. Beliau bekerja dan dekat dengan penasihat urusan pribumi Hindia Belanda, Christiaan Snouck Hurgronje. * Sikap terhadap Belanda: Habib Utsman berpandangan bahwa selama pemerintah kolonial Belanda masih memberikan kebebasan bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah mahdhah (seperti salat, zakat, dan haji), maka pemerintah tersebut wajib ditaati. Beliau menolak gagasan pemberontakan politik bersenjata melawan pemerintah yang sah secara de facto. Beliau bahkan pernah membacakan doa keselamatan untuk Ratu Belanda di masjid. * Kritik terhadap Gerakan Jihad Petani: Ketika terjadi perlawanan bersenjata rakyat dan petani Muslim terhadap penindasan Belanda (seperti Geger Cilegon/Pemberontakan Petani Banten 1888), Habib Utsman justru berdiri di posisi yang berseberangan dengan para pejuang. * Isi Pandangannya: beliau mengecam gerakan jihad lokal tersebut. Beliau menyebut para pejuang yang melakukan pemberontakan sebagai orang-orang bodoh yang terkena hasutan delusi spiritual (ghurur). Menurut beliau, jihad angkat senjata melawan Belanda saat itu adalah tindakan sia-sia yang hanya akan menjatuhkan umat Islam ke dalam kebinasaan karena kalah secara militer.
Perbandingan SUMBU IDEOLOGI
Dimensi Mbah KH. M.Hasyim Asy’ari >< Habib Utsman bin Yahya. Mbah Hasyim ; Era Utama Abad ke-20 (Masa Pergerakan & Kemerdekaan) Abad ke-19 (Puncak Kekuasaan Kolonial Belanda), hubungan dengan Belanda Non-kooperatif, menolak kompromi, dan memobilisasi massa melawan penjajah.
Habib Utsman ; Kooperatif, menjadi pejabat resmi (Honorair Adviseur), bekerja sama dengan Snouck Hurgronje. Mbah Hasyim ; pandangan tentang Jihad Wajib bagi setiap Muslim untuk mengangkat senjata demi mempertahankan tanah air dan kemerdekaan. Utsman bin Yahya; Diharamkan/dikecam jika dilakukan dalam bentuk pemberontakan yang merusak ketertiban umum.
Gema Resolusi Jihad pertama kali digaungkan pada tahun 1945, tepatnya pada tanggal 22 Oktober 1945. Resolusi ini dicetuskan dalam rapat besar para Ulama Nahdlatul Ulama (NU) se-Jawa dan Madura yang dipimpin langsung oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari di Kantor Pengurus Besar NU di Jalan Bubutan, Surabaya. Berikut adalah garis waktu singkat bagaimana gema resolusi tersebut membakar semangat perjuangan: * September–Oktober 1945: Tentara Sekutu (Inggris) membonceng NICA (Belanda) mendarat di beberapa wilayah Indonesia untuk merebut kembali kekuasaan pasca-proklamasi.
* 22 Oktober 1945: Mbah Hasyim mengeluarkan fatwa kewajiban jihad (Fardhu ‘Ain) bagi seluruh umat Islam yang berada dalam radius 94 km untuk melawan penjajah. * Oktober–November 1945: Gema resolusi ini disebarluaskan dari pesantren ke pesantren, masjid ke masjid, serta disiarkan secara gerilya. Fatwa inilah yang memobilisasi ribuan santri dan masyarakat sipil (Laskar Hizbullah dan Sabilillah) untuk bergerak menuju Surabaya. * 10 November 1945: Semangat dari Resolusi Jihad 22 Oktober menjadi motor penggerak utama meletusnya Pertempuran 10 November di Surabaya, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Karena nilai sejarahnya yang sangat besar bagi kedaulatan negara, tanggal dicetuskannya Resolusi Jihad ini (22 Oktober) kini resmi diperingati secara nasional sebagai Hari Santri Nasional. ( Selamat Hari Santri Nasional 2026. “Menguatkan Akar Tradisi Menjaga Keutuhan Negeri” Disadur dari berbagai sumber yg refresentatif. Oleh Moh. Chusnan Ali, Katib Ifadliyah JATMAN Jatim. Ketua Dewan Syura DPC. PKB Kab. Gresik. Edisi Juma’t, 30 Oktober’26 ( Mbah Singo/Red)
