SabdaNews.com- Pengajian Ahad Pagi yang digelar Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kebomas Kabupaten Gresik pada Ahad (18/10/2026) ini mengangkat tema membangun peradaban Islam berkemajuan. Pengajian yang diselenggarakan di Masjid At-Taqwa Giri Cabang Kebomas pada 8 Jumadil Awal 1448 Hijriah ini menghadirkan H. Muhammad Khoirul Abduh, S.Ag., M.Si. sebagai narasumber. Abduh mengawali kajian ahad pagi ini dengan harapan agar jamaaah yang hadir sebagai umat yang muflihun. Muflihun adalah golongan orang-orang yang meraih keberuntungan hakiki, baik di dunia maupun di akhirat. Al-Qur’an menggambarkan mereka sebagai kelompok yang jumlahnya sedikit karena konsistensi (istiqamah) mereka dalam mengikuti petunjuk Allah dan Sunnah Rasulullah SAW di tengah arus zaman. “ Semoga kita termasuk umat yang istiqomah sesuai contoh Rosulullah dalam konteks ibadah dan perilaku keseharian “ Ujarnya.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang membidangi Kesejahteraan Sosial & Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Periode 2022–2027 ini kemudian meneruskan pesan yang pernah disampaikan Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga Mendikdasmen Indonesia Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. tentang tiga pilar membangun peradaban islam berkemajuan.
Pertama, terang Abduh, terkait tata kelola konflik. Menurutnya, perbedaan dalam pengelolaan berbagai kepentingan umat merupakan hal yang wajar, namun harus dikelola dengan baik agar tidak menjadi penghambat kemajuan umat.
“ Permasalahan umat islam berupa konflik ini yang semakin menjadikan umat kian terpinggirkan atau memang dipinggirkan oleh kemajuan peradaban” ungkap Abduh. Konflik ini imbuhnya yang akan memecah persaudaraan dan persatuan umat. Permasalahan konflik semakin meruncing manakala informasi yang diterima tidak utuh, padahal kita sudah diberikan penangkalnya. Dalam Quran Surah Al-Hujurat ayat 6 “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu”
Hal lain yang menambah konflik dijelaskan dalam Quran Surah Al Hujurat ayat 11 “ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim”
Pada ayat di atas dijelaskan perilaku yang semestinya tidak dilakukan umat, yaitu mengolok-olok, saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Tambahan perilaku yang semakin menguatkan konflik adalah menambah-nambah omongan, hal ini diungkap dalam Quran Surat Al-Hujurat ayat 12 “ Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang “
Permasalahan kedua adalah perilaku praktik korupsi
Kedua, Mantan Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur yang terpilih pada Muswil XIV, Februari 2011, di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya ini mengingatkan agar umat islam menjauhi praktik korupsi. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut dapat merusak kepercayaan publik sekaligus melemahkan uamt islam.
Saking bahayanya praktik korupsi ini, Rosulullah Muhammad Saw pernah menolak menyalatkan jenazah seorang sahabat yang meninggal dunia dalam Perang Khaibar (tahun 7 Hijriah/628 M) karena ia telah melakukan ghulul (korupsi/mengambil harta rampasan perang sebelum dibagikan. Setelah mendengar sabda Nabi SAW, para sahabat segera memeriksa barang bawaan dan pakaian laki-laki tersebut. Mereka menemukan manik-manik milik orang Yahudi Khaibar yang disembunyikan di dalam bajunya. Ketika ditaksir, nilai dari manik-manik tersebut sangatlah kecil, yaitu tidak sampai dua dirham
Penyakit ketiga adalah Kolot
Ketiga, Abduh menyoroti pentingnya keterbukaan terhadap perubahan. Sikap kolot, tertutup terhadap kritik, saran, maupun inovasi dinilai akan membuat umat islam semakin tertinggal. “Jika tiga hal ini menjadi pegangan bersama, maka umat islam akan tumbuh secara sehat, profesional, dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” jelasnya. (Kontributor Mahfudz Efendi/Red)
