Home RELIGIProf Mas’ud Said Tentang Kondisi NU, Jangan Terjebak Perpecahan, Lima Elemen Ini Harus Dirangkul

Prof Mas’ud Said Tentang Kondisi NU, Jangan Terjebak Perpecahan, Lima Elemen Ini Harus Dirangkul

by sabda news

MALANG.SabdaNews.com – Penguatan Nahdlatul Ulama (NU) ke depan dinilai tidak cukup hanya mengandalkan struktur organisasi. NU membutuhkan kerukunan internal sekaligus kemampuan merangkul seluruh potensi yang hidup di tengah warga Nahdliyin.

Prof. Dr. H. M. Mas’ud Said, M.Si., menegaskan bahwa persoalan pertama yang harus dijaga NU saat ini adalah kerukunan para pengurus. Menurutnya, soliditas menjadi fondasi penting agar organisasi tidak terjebak dalam perpecahan.

“Yang pertama harus rukun dulu. Para pengurusnya harus rukun. Jangan ada perpecahan,” tegas Mas’ud Said dalam wawancara di kantornya Direktur Pasca Sarjana UNISMA, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, NU memiliki ekosistem yang sangat besar dan beragam. Karena itu, organisasi tidak boleh hanya melihat warga NU dari mereka yang berada di dalam struktur kepengurusan.

Mas’ud memetakan sedikitnya ada lima kelompok penting yang harus mendapatkan perhatian dalam pengembangan NU ke depan.

1. Ulama dan Pengasuh Pesantren

Kelompok pertama adalah para alim ulama dan pemimpin pondok pesantren. Mas’ud menilai tidak semua ulama dan pengasuh pesantren berada dalam struktur organisasi NU. Namun, keberadaan mereka tetap merupakan bagian penting dari kekuatan NU.

“Ulama dan pemimpin pondok pesantren yang masuk struktur maupun yang tidak, semuanya harus diperhatikan,” ujarnya.

Ia menggambarkan bahwa para ulama NU memiliki rentang usia dan latar belakang yang beragam. Ada kiai yang telah berusia lanjut, tetapi ada pula generasi yang lebih muda yang mulai mengambil peran.

Menurutnya, perbedaan tersebut bukan alasan untuk memisahkan satu kelompok dengan kelompok lainnya. Sebaliknya, seluruhnya harus ditempatkan sebagai kekuatan yang saling melengkapi.

2. Anak Muda NU

Kelompok kedua yang perlu mendapat perhatian adalah anak muda NU. Mas’ud menyoroti generasi muda yang memiliki aktivitas dan pengalaman luas, termasuk mereka yang tidak selalu aktif dalam struktur organisasi.

Menurutnya, anak muda semacam ini justru memiliki pengalaman dan jejaring yang dapat menjadi modal penting bagi NU menghadapi perubahan zaman.

Ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman ketika melihat perkembangan anak muda di berbagai negara dan lingkungan akademik internasional.

“Segmen kedua ini tidak kalah pentingnya untuk masa depan,” kata Prof. Mas’ud.

Karena itu, menurut Mas’ud, NU perlu memberikan ruang bagi anak muda untuk berkembang, berkreasi dan mengambil peran lebih besar.

3. Kader Badan Otonom

Kelompok berikutnya adalah kader-kader yang aktif dalam badan otonom NU. Di antaranya Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, IPNU, IPPNU dan ISNU.

Mas’ud melihat badan otonom sebagai bagian penting dari kekuatan kaderisasi NU. Mereka memiliki basis massa, pengalaman organisasi dan ruang pengabdian yang berbeda.

Jika dikelola dalam semangat kebersamaan, seluruh kekuatan tersebut dapat menjadi energi besar bagi NU.

4. Profesional NU

Kelompok keempat adalah warga NU yang berkiprah sebagai profesional. Mas’ud menyebut berbagai profesi, mulai dokter, sarjana hukum, guru, dosen, wartawan, pengusaha hingga birokrat.

Menurutnya, para profesional tidak harus semuanya masuk dalam satu wadah struktural. Yang lebih penting adalah bagaimana NU memberikan ruang agar kompetensi mereka dapat digunakan untuk memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat maupun pemerintahan.

“Tidak perlu bersatu dalam satu kurungan atau satu wadah. Tetapi dia harus dibantu untuk bisa mengambil posisi yang signifikan dalam pemerintahan dan masyarakat,” jelasnya.

Mas’ud menilai warga NU tidak harus meninggalkan profesinya hanya untuk aktif di organisasi. Ia mencontohkan pengalaman dirinya yang tetap menjalankan aktivitas akademik dan profesional meskipun pernah terlibat dalam kepengurusan NU.

“Saya tidak meninggalkan kampus, saya tidak meninggalkan studi saya, saya tidak meninggalkan profesor saya, saya tidak meninggalkan kerja,” tuturnya.

Menurut dia, banyak warga NU memiliki kapasitas yang sangat besar di bidangnya masing-masing.

“Banyak yang melebihi kami. Kami hanya sebagai lambang saja. Sangat banyak dan itu harus difasilitasi atau diakomodasi,” katanya.

5. Warga NU Kultural

Kelompok kelima adalah masyarakat NU yang aktif secara kultural maupun sebagai bagian dari member NU, meskipun tidak selalu terlibat dalam struktur jam’iyah.

Mas’ud menilai kelompok ini memiliki jumlah dan potensi yang besar. Mereka dapat berasal dari berbagai latar belakang profesi dan lingkungan sosial. Karena itu, NU perlu membangun pola hubungan yang lebih terbuka sehingga warga NU kultural tetap memiliki ruang untuk memberikan kontribusi.

Menurutnya, kekuatan NU sesungguhnya tidak hanya berada di kantor-kantor organisasi, tetapi juga tersebar di tengah masyarakat.

NU dan Tantangan Perguruan Tinggi

Dalam wawancara tersebut, Mas’ud Said juga menyinggung pengembangan pendidikan tinggi, khususnya upaya mendorong perguruan tinggi NU menuju world class university.

Ia menilai langkah tersebut membutuhkan kerja serius dan tidak dapat dilakukan secara instan.

Beberapa hal yang perlu diperkuat antara lain jumlah mahasiswa internasional, dosen internasional, kurikulum internasional, publikasi jurnal internasional serta aktivitas akademik yang memiliki jejaring global.

“Menambah mahasiswa internasional, menambah dosen internasional, menambah kurikulum internasional, menambah jurnal internasional dan menambah aktivitas itu bukan pekerjaan mudah,” ungkapnya.

Mas’ud menyatakan dirinya ingin turut memberikan kontribusi dalam pengembangan pascasarjana untuk menopang pengembangan universitas menuju standar internasional.

Bahasa Menjadi Modal Penting

Menurut Mas’ud, internasionalisasi pendidikan juga membutuhkan penguasaan bahasa. Ia menyebut bahasa Inggris dan bahasa Arab sebagai dua bahasa yang penting dikuasai, selain bahasa Indonesia.

“Ilmu itu asal mulanya bahasa. Bahasa Indonesia, Inggris, Arab, minimal dua,” ujarnya.

Penguasaan bahasa, menurutnya, bukan sekadar kemampuan berkomunikasi. Lebih jauh, hal itu diperlukan agar generasi akademik mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan terlibat dalam diskursus global.

Ia mencontohkan kebutuhan memahami management of change hingga ekonomi politik internasional yang membutuhkan kemampuan berkomunikasi dan membaca literatur internasional.

Memperkuat Basis Mahasiswa

Selain internasionalisasi, Mas’ud juga menekankan pentingnya memperkuat student body, terutama bagi perguruan tinggi swasta.

Menurutnya, kekuatan jumlah dan kualitas mahasiswa merupakan bagian penting dalam membangun perguruan tinggi yang kuat.

Ia juga menyinggung potensi program pascasarjana dan program studi yang memiliki kekhasan, termasuk PAI Multikultural yang dinilainya memiliki keterkaitan kuat dengan nilai dan karakter NU.

“Sebagai kampus swasta kita harus kuat student body-nya. Kita harus betul-betul kuat mahasiswa,” katanya.

Kerukunan Menjadi Titik Awal

Dari seluruh gagasan tersebut, Mas’ud kembali menempatkan kerukunan sebagai fondasi. Menurutnya, NU memiliki modal sosial yang besar karena ditopang ulama, pesantren, anak muda, badan otonom, profesional dan masyarakat kultural.

Namun, seluruh kekuatan itu akan sulit bergerak maksimal jika internal organisasi justru terjebak dalam perpecahan.

Karena itu, penguatan NU ke depan, menurut Mas’ud, bukan semata soal siapa yang berada dalam struktur, melainkan bagaimana seluruh potensi warga Nahdliyin dapat difasilitasi dan diberi ruang untuk berkontribusi.

Rukun dulu. Jangan ada perpecahan

Pesan tersebut menjadi titik tekan Mas’ud Said ketika berbicara mengenai NU saat ini, memperkuat soliditas internal, merangkul seluruh elemen dan menyiapkan sumber daya manusia NU agar mampu menghadapi tantangan yang semakin kompleks, termasuk di tingkat global. (pun)

You may also like

Leave a Comment