SabdaNews.com – Jalan Lingkar Utara (JLU) Lamongan adalah salah satu infrastruktur strategis yang melingkar disisi utara Jalan Nasional menghubungkan berbagai kawasan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Pembangunan jalan ini bertujuan untuk meningkatkan mobilitas masyarakat sekaligus mengurangi kepadatan lalu lintas di pusat Kota Lamongan. Dengan anggaran Rp 50 miliar, Jalan Lingkar Utara direncanakan sepanjang 7,15 km. Meskipun menuai pro dan kontra, pembangunan Jalan Lingkar Utara ini diharapkan mampu menjadi katalis pertumbuhan ekonomi di sekitar kawasan tersebut.
Optimisme akan dampak positif Jalan Lingkar Utara juga diungkapkan oleh Ketua Komisi C DPRD Lamongan, M. Burhanuddin. Beliau meyakini bahwa Jalan Lingkar Utara akan menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi. Untuk mengoptimalkan dampak tersebut, Burhanuddin menekankan pentingnya pemerintah daerah untuk segera menyiapkan rencana tata bangunan lingkungan (RTBL) sebagai bagian dari rencana tata ruang dan wilayah (RTRW).
RTBL ini nantinya akan mengatur pembagian zona di sekitar Jalan Lingkar Utara, termasuk zona sentral ekonomi, perumahan, perhotelan, dan perkantoran. Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Kabupaten Lamongan, Fahrudin Ali Fikri, juga menaruh harapan besar pada pertumbuhan ekonomi yang akan ditimbulkan oleh pembangunan Jalan Lingkar Utara. Beliau memprediksi akan muncul banyak pemukiman baru dan peningkatan tingkat ekonomi masyarakat di sekitar jalan tersebut.
“Ada manfaat besar yang bisa dirasakan baik pengguna jalan, masyarakat setempat, pelaku bisnis, dll. Kedepannya bisa menjadi pengembangan daerah ekonomi baru di kawasan Kabupaten Lamongan, sehingga menjadi kawasan yang produktif dan perputaran bisnis di Kabupaten Lamongan akan mulai meluas ke daerah yang lebih jauh dari perkotaan,” kata Fahrudin.
“Semoga ini menjadi titik awal solusi dari berbagai masalah, tidak hanya masalah kemacetan yang sering terjadi antara dua perlintasan rel kereta api, tetapi menjadi manfaat yang lebih besar yang akan berdampak pada masyarakat di Lamongan, sehingga bisa membuka ribuan lapangan kerja baru untuk menyerap pekerja-pekerja dari warga Kabupaten Lamongan,” imbuhnya.
Pembangunan Jalan Lingkar Utara memiliki beberapa peran penting, baik dalam aspek sosial maupun ekonomi, di antaranya:
Mengurangi Kemacetan di Pusat Kota
Kota Lamongan sering mengalami kemacetan, terutama di jalan protokol. Pengalihan arus lalu lintas dari pusat Kota Lamongan ke Jalan Lingkar Utara akan mengurangi kemacetan, terutama pada jam-jam sibuk. Dengan adanya Jalan Lingkar Utara, arus kendaraan berat seperti truk dan bus dapat dialihkan, sehingga aktivitas di pusat kota lebih lancar.
Memperlancar Akses Antarwilayah
Jalan ini memfasilitasi konektivitas antara kawasan industri, pelabuhan, dan area pemukiman. Beberapa wilayah yang diuntungkan mencakup kecamatan-kecamatan di bagian utara dan barat Kabupaten Lamongan.
Mendorong Pertumbuhan Ekonomi
Jalan Lingkar Utara membuka peluang baru bagi pengembangan kawasan industri, pusat perdagangan, dan sektor UMKM, termasuk produk perikanan dan pertanian lokal. Jalan Lingkar Utara juga membuka akses pasaran yang lebih luas bagi UMKM, memungkinkan mereka meningkatkan volume penjualan dan memperluas jaringan distribusi. Infrastruktur yang baik juga mengurangi biaya transportasi dan logistik, sehingga meningkatkan margin keuntungan UMKM.
Meningkatkan Pariwisata
Lamongan memiliki potensi wisata unggulan seperti Wisata Bahari Lamongan (WBL), Maharani Zoo, dan objek wisata religi Sunan Drajat. Jalan Lingkar Utara dapat mempersingkat waktu tempuh wisatawan dan meningkatkan jumlah kunjungan ke destinasi tersebut.
Proses Pembangunan dan Tantangan
Proyek pembangunan Jalan Lingkar Utara Lamongan tidak lepas dari berbagai tantangan, beberapa kendala yang dihadapi meliputi:
Pembebasan Lahan: Sebagian besar lahan yang dibutuhkan adalah tanah milik warga dan kawasan pertanian produktif. Negosiasi pembebasan lahan memerlukan waktu karena adanya perbedaan kepentingan.
Pendanaan: Pendanaan proyek ini bersumber dari pemerintah daerah dan bantuan pemerintah pusat. Namun, alokasi anggaran terkadang mengalami keterlambatan.
Perubahan Cuaca: Kondisi cuaca yang tidak menentu seringkali menghambat proses konstruksi, terutama saat musim penghujan.
Dampak Positif Bagi Masyarakat
Dengan selesainya Jalan Lingkar Utara, masyarakat akan menikmati berbagai manfaat, seperti:
· Akses Lebih Cepat dan Efisien: Jalan Lingkar Utara yang lebih lenggang dan terhubung langsung dengan jalur utama akan memangkas waktu tempuh kendaraan, baik dari dan menuju lamongan. Warga yang tinggal di sekitar jalan lingkar bisa bepergian tanpa harus melewati pusat kota.
· Peluang Usaha Baru: Kemudahan akses transportasi menarik minat investor untuk mendirikan pabrik dan bisnis di sepanjang jalur ini. Pertumbuhan industri menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat basis ekonomi lokal. Dengan dibukanya akses jalan ini akan memunculkan titik-titik usaha baru, seperti: pom bensin, rumah makan, dan pusat oleh-oleh.
. Penurunan Polusi dan Risiko Kecelakaan: Dengan berkurangnya volume kendaraan di pusat kota, tingkat polusi dan risiko kecelakaan lalu lintas juga dapat ditekan.
Selain dampak positif, proyek pembangunan Jalan Lingkar Utara Lamongan juga memunculkan keluhan dari beberapa warga sekitar lokasi proyek, salah satunya di Desa Dlanggu. Debu yang bertebaran akibat aktivitas konstruksi sangat mengganggu kesehatan warga, menyebabkan mata perih dan sesak napas.
“Saya dan warga lainnya yang setiap hari melewati jalan ini merasakan langsung dampaknya. Untuk meminimalisir dampak negatif ini, perlu adanya penyemprotan air di jalan minimal 5 kali sehari dan pembagian masker kepada warga secara rutin,” harap Najwa.

Dampak pembangunan JLU Lamongan timbulkan keretakan angunan rumah warga di Deketkulom. (ft/ist)
Selain itu, proyek pembangunan Jalan Lingkar Utara Lamongan juga menimbulkan dampak serius bagi warga Desa Deketkulon. Getaran akibat pemasangan tiang pancang menyebabkan retakan pada tembok rumah warga. Tercatat ada 8 rumah warga mengalami kerusakan, mulai dari retakan ringan hingga parah. Warga yang terdampak menuntut kompensasi kepada pihak proyek. Meskipun telah dilakukan mediasi dan survei, warga merasa kompensasi yang ditawarkan terlalu kecil dan tidak sesuai dengan kerugian yang mereka alami.
Berdasarkan sumber berita TVRI Jawa Timur, warga yang terdampak mengatakan “tembok rumahnya retak, sangat kotor, dan berdebu. Tetapi kompensasi dana retak hanya sedikit, sekitar 1.350.000,. Debu menyebabkan gatal dikulit, warga meminta agar pihak proyek menyediakan obat gatal.” Kemudian, warga berharap agar pihak proyek pembangunan nasional Jalan Lingkar Utara dapat memberikan kompensasi yang layak sesuai dengan keinginan warga.
Jalan Lingkar Utara Lamongan adalah bentuk nyata komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan infrastruktur dan layanan publik. Meskipun masih ada tantangan dalam proses pembangunannya, namun dengan perencanaan yang matang dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Manfaat jangka panjang yang ditawarkan juga sangat signifikan, jalan ini akan menjadi roda penggerak kemajuan ekonomi lokal dan meningkatkan kualitas hidup bagi masyarakat Lamongan di masa depan.
Meskipun masih ada ketidakpuasan dari warga, respon pelaksana proyek dan pemerintah daerah tampaknya telah berusaha untuk menyelesaikan masalah dengan transparansi dan partisipasi aktif. Namun, masih perlu kontinuitas upaya untuk memastikan semua tuntutan warga diselesaikan sepenuhnya demi keseluruhan kepentingan masyarakat setempat. Kehadiran jalan ini diharapkan menjadi pengungkit bagi kemajuan Lamongan, menjadikannya lebih kompetitif dan siap menghadapi perkembangan regional. Dengan demikian, Jalan Lingkar Utara tidak hanya menjadi akses transportasi, tetapi juga simbol perkembangan dan harapan baru bagi masyarakat Lamongan. (Shalwa Azkiya Ulyan Najwa, mahasiswi Universitas Negeri Surabaya)