SURABAYA,SabdaNews.com – Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (Ikapete) Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk serius membangun kemandirian finansial umat guna mendukung gerakan sosial dan keagamaan. Langkah strategis ini dinilai sebagai kunci utama agar organisasi keagamaan dapat bergerak secara berdaulat tanpa ketergantungan pada pihak luar. Hal tersebut ditegaskan oleh KH. Roisudin Bakrie saat memimpin rapat penyusunan pengurus Pimpinan Wilayah (PW) Ikapete Jawa Timur di Cafe Sinema, Surabaya, pada Kamis, 3 September 2026.
Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran calon pengurus yang merepresentasikan kolaborasi kuat dari tiga elemen utama: para kiai, pengusaha, dan kaum intelektual. “Kemandirian finansial bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan demi kemaslahatan umat. Jika ekonomi umat kuat, maka dakwah sosial dan keagamaan pun akan berjalan dengan kokoh dan berdaulat,” ujar KH. Roisudin Bakrie di hadapan forum.
Santri Wajib Jadi Pengusaha untuk Sukses Berdakwah
Semangat kemandirian ini diperkuat oleh statemen dari Kiai Ismail, seorang pengusaha properti sukses sekaligus alumni senior Ikapete. Dalam pandangannya, sejarah Islam telah memberikan cetak biru yang sangat jelas bahwa keberhasilan syiar agama tidak pernah lepas dari aktivitas ekonomi .”Dari sejarah, sudah terbukti bahwa dakwah Islam itu jauh lebih sukses dan meluas ketika dibawa melalui jalur perdagangan. Para wali dan ulama terdahulu adalah para saudagar yang mandiri. Oleh karena itu, di era modern ini, santri wajib menjadi pengusaha kalau mau sukses berdakwah secara totalitas. Kita tidak boleh lagi menempatkan ekonomi di nomor sekian,” tegas Kiai Ismail.
Napak Tilas Sejarah Nahdlatut Tujjar
Komitmen yang diusung oleh Ikapete Jatim ini merupakan bentuk napak tilas sejarah yang sangat kuat dari embrio lahirnya Nahdlatul Ulama (NU). Jauh sebelum NU resmi berdiri pada tahun 1926, KH. Wahab Chasbullah bersama Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari terlebih dahulu mendirikan Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Para Pedagang) pada tahun 1918.Kala itu, Nahdlatut Tujjar didirikan sebagai pilar ekonomi untuk melepaskan keterpurukan masyarakat bumiputra dari cengkeraman kolonial. Jaringan saudagar dan kiai yang solid di dalam Nahdlatut Tujjar inilah yang kemudian menjadi modal utama sekaligus fondasi kokoh bagi berdirinya jam’iyah NU.
Selaras dengan Momentum Abad Kedua NU
Semangat membangkitkan kembali spirit Nahdlatut Tujjar ini dirasa sangat kontekstual dengan momentum masuknya NU di abad kedua. Terlebih, nakhoda Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat ini dipimpin oleh KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), cicit dari pendiri NU Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Gus Kikin resmi terpilih sebagai Ketua PBNU pada Muktamar NU ke-35 yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.
Sebagai organisasi alumni yang berakar dari Pesantren Tebuireng—tempat di mana gagasan-gagasan besar NU dilahirkan—PW Ikapete Jatim di bawah kepengurusan yang baru ini siap menyelaraskan visi kepemimpinan PBNU di abad kedua ini. olaborasi unsur kiai sebagai penentu arah spiritual, pengusaha sebagai penggerak ekonomi, dan intelektual sebagai konseptor, diharapkan mampu melahirkan program-program ekonomi konkret yang manfaatnya langsung dirasakan oleh umat ke bawah. Rapat penyusunan pengurus ini menjadi langkah awal yang solid bagi PW Ikapete Jatim untuk merumuskan struktur organisasi yang progresif, adaptif, dan siap menjawab tantangan zaman di abad kedua Nahdlatul Ulama. (Hoo/Luk)
