SabdaNews.com- MUI GRESIK – Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) IV MUI (Majelis Ulama Indonesia) Provinsi Jawa Timur yang melibatkan MUI Kabupaten Tuban, Lamongan, Gresik, dan Bojonegoro, sepakat menjaga kehormatan kiai dan pondok pesantren dari berbagai framing negatif di media sosial. Kegiatan yang mengusung tema “Menjaga Marwah Kyai dan Pondok Pesantren di Era Digitalisasi” itu, digelar di Ponpes Sunan Bejagung 2, Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Ahad (17/5/2026).
Ketua Umum MUI Kabupaten Tuban, KH Abdul Matin Djawahir, mengatakan tema tersebut diangkat dari keprihatinan atas maraknya narasi negatif tentang pesantren di media sosial. Menurutnya, berbagai kasus yang muncul tidak bisa dijadikan representasi mayoritas pesantren di Indonesia. “Memang ada beberapa kasus yang timbul, namun itu tidak mewakili mayoritas pesantren kita. Maka kehormatan pesantren ini harus terus kita jaga,” ujarnya.
Kiai Matin juga menyoroti adanya fenomena framing di media sosial, yang dilakukan secara terorganisir untuk menjatuhkan tokoh maupun lembaga tertentu. “Ada fenomena framing medsos, jadi satu tempat isinya ribuan handphone, bekerjanya membuat narasi untuk menjatuhkan seseorang atau hal-hal tertentu. Kita dijatuhkan di digital, namun PR kita belum bisa membuat konten sehingga bisa menandingi konten-konten seperti itu,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum MUI Kabupaten Bojonegoro, KH Alamul Huda, menilai tantangan yang dihadapi pesantren dan para tokoh agama saat ini semakin berat, terutama di era digitalisasi yang memunculkan berbagai kritik tidak membangun. “Kita ini, kiai dan tokoh pesantren, yang sedang mengalami kritik luar biasa, bahkan kritiknya tidak membangun. Ini tantangan luar biasa, maka tema ini sangat penting,” katanya.
Menurutnya, pesantren tetap menjadi benteng akhlak umat di tengah berbagai persoalan bangsa. Kiai Alamul Huda juga menyampaikan, selama pesantren tetap istiqamah mencetak santri, Islam akan terus menjadi rahmat bagi seluruh alam. “Bagaimanapun juga, benteng akhlak kita ini adalah pesantren. Ketika pesantren tetap istiqamah, apapun yang terjadi, terus bisa memproduksi para santri, insyaallah Islam akan tetap rahmatan lil alamin,” ujarnya.
KH Abdul Mu’ti selaku Wakil Ketua Umum MUI Kabupaten Lamongan, menyampaikan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi berbagai persoalan yang kompleks. Karena itu, menurutnya, pesantren harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan dasar pemahaman agama yang kuat. “Pondok itu harus menyesuaikan zaman digital, namun digitalisasi juga harus dibarengi kemampuan pemahaman agama yang baik,” katanya. Kiai Mu’ti pun mengajak seluruh elemen pesantren, untuk tetap menjaga marwah dan kehormatan lembaga pendidikan Islam di tengah tantangan era digital.
Adapun Ketua Umum MUI Kabupaten Gresik, KH Ainur Rofiq Thoyyib, menekankan pentingnya memperkuat ukhuwah antar pesantren dan lembaga pendidikan Islam, agar tidak mudah terpecah oleh berbagai isu dan narasi negatif. “Kita harus membentengi pesantren-pesantren, termasuk lembaga pendidikan Islam. MUI hadir meminta kepada para pesantren agar satu sama lain saling merawat ukhuwah,” ujarnya. Menurutnya, persatuan dan kekompakan antar pesantren menjadi bagian penting dalam menjaga marwah Islam di tengah tantangan zaman. “Itu semua demi Al Islamu ya’lu wa la yu’la alaih, (Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya),” kata Kiai Rofiq. (lim/Red)
