Opini Publik
Oleh : Muchammad Toha
SabdaNews.com- Cukup heran saya ketika berada di Negeri Cina pada waktu itu karena setiap saya memasuki mall atau tempat perbelanjaan pemandangan yang selalu saya lihat adalah para pria atau wanita tua bahkan ada beberapa yang sudah bongkok hilir mudik membawa alat kebersihan ruangan (sapu dan kain pel) pembersih lantai dan kaca, mereka adalah petugas kebersihan di tempat itu, untuk menjawab rasa penasaran saya melalui person pendamping perjalanan saya bertanya karena rakyat umum di Cina tidak bisa berbahasa asing (Bahasa Inggris) karena rakyat Cina sangat bangga dengan bahasa negerinya yakni Bahasa Cina.
“Mengapa petugas kebersihan yang saya jumpai banyak berusia tua”, itu pertanyaan saya, ternyata jawaban dari para petugas kebersihan renta setelah diterjemahkan pendamping perjalanan saya, ”Memang umumnya para petugas kebersihan disini dari kalangan usia tua, sehingga walau usia sudah tua masih berguna dan pekerjaan inilah yang memang bisa dilakukan dirinya yang sudah tua, sedangkan mereka yang berusia muda diharuskan melaksanakan pekerjaan yang membutuhkan kekuatan berpikir dan bergerak cepat”.
Fenomena bekerja di usia tua juga banyak dijumpai di Jepang, di negeri sakura ini masih banyak juru masak, pelayan restoran dan penjaga toko dilakukan para pekerja yang berusia tua dan tentunya sesuatu yang tidak menarik untuk kebiasaan yang ada di negeri kita, karena umumnya penjaga restoran dan pertokoan di negara kepulauan terbesar ini adalah dara puspita yang cantik jelita berkulit putih semampai tingginya serta lenggak lenggok jalannya.
Ketika berikutnya saya diajak mengunjungi perusahaan keramik dengan produk kualitas tinggi di Cina, ternyata semua pekerjanya adalah anak muda, begitu juga dengan pekerjaan otomotif, elektronik serta perusahaan yang menghasilkan piranti-piranti mekanik sepeda serta produk logam lainnya seperti alat kebutuhan rumah tangga serta berbagai perabot besar maupun kecil juga dikerjakan oleh tenaga-tenaga muda.
Sehingga dengan mempekerjakan para manula lansia renta di Cina bukan pilihan yang salah karena memang pekerjaan itu yang tepat dan memiliki resiko rendah dalam mencapai hasil pekerjaan berkualitas, selain itu untuk memberi penghargaan bagi manula ternyata walau berusia tua tapi hidupnya masih bermanfaat dan tidak bergantung secara penuh pada keluarganya karena masih ada pendapatan yang diterima.
Barangkali ini salah satu perbedaan yang bisa dicatat dari sekian perbedaan yang terdapat di Negeri Cina, kenapa ini perlu dicatat, karena tentunya cukup berbeda dibanding negara lain yang justru pekerjaan kebersihan (cleaning service) dilakukan oleh anak muda usia yang masih enerjik, dinamis serta masih segar dalam berpikir dan cekatan dalam gerak dan umumnya mereka adalah lulusan yang baru saja meninggalkan bangku sekolah.
Tentunya tidak berkearifan jika mengolok anak muda fresh graduate yang mengambil pilihan pekerjaan bagian kebersihan itu, mungkin saja mereka telah mencari dengan susah payah putar-putar kemana-mana tapi dapatnya hanya pekerjaan itu, sedangkan mau mengawali membuka usaha belum memiliki modal dan pengalaman, belum lagi dihantui tata pengurusan administrasi serta perijinan usaha yang ribet dan melelahkan sementara usahanya masih dalam tahap percobaan.
Pendamping perjalanan juga cerita pada saya, mempekerjakan para manula dan lansia agar tetap produktif di bagian kebersihan restoran atau pertokoan adalah semacam kebijakan negara, sedangkan tenaga muda belia diarahkan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan lain yang membutuhkan proses berpikir tinggi dan berfisik tangguh, ringkasnya di Negeri Cina, para pemimpin dan pemangku kebijakan benar-benar memikirkan harus diarahkan ke sektor pekerjaan apa bagi para pembelajar pasca studinya.
Maka perencanaan harus benar-benar akurat tentang berapa jumlah lulusan dan kemana mereka dipekerjakan, karena Cina negara komunis sehingga ada kemudahan dalam mengatur pendapatan (gaji) bagi para pekerja yang tidak lain para lulusan ini, pemerintah tidak terlalu sibuk dengan disparitas upah (gaji) yang tidak jarang memicu demonstrasi berkepanjangan, jika pekerja berani demonstrasi pastinya pemerintah akan menyelesaikan dengan cara khas negara komunis.
Jelasnya menjadi pemimpin di Negeri Cina pasti bebannya lebih berat, bukan saja karena jumlah warga negaranya banyak, tapi harus bisa membangun perusahaan sebagai aset negara yang bisa memberikan pekerjaan bagi rakyatnya, walau kehidupan rakyatnya tidak glamour tapi pemerintah harus bisa menyediakan lapangan pekerjaan dan menjamin semua rakyatnya bisa makan, belajar tanpa biaya, ikhtiar sehat ditanggung negara dan ini harus dipenuhi karena icon dari suatu negara komunis harus demikian adanya, namun bukan berarti previledge bagi pemimpin negara tidak ada, tetapi yang sangat tampak adalah penampilan bersahaja dan fasilitas yang banyak digunakan adalah produk sendiri dari negerinya.
Sumber daya manusia terdidik yang melimpah, penentuan besarnya upah yang menjadi kewenangan mutlak negara serta kewajiban pemimpinnya untuk menyediakan lapangan pekerjaan sehingga menjadi salah satu jawaban kenapa barang-barang produksi negara Cina harganya murah, singkatnya untuk kontek ini, negara (pemimpin) harus benar-benar hadir dan menciptakan pekerjaan bagi rakyatnya dan berpikir keras agar hasil kerja rakyatnya laku diperdagangan dunia.
Kesimpulannya di negara komunis Cina, keberadaan pemimpin tidak saja memahami negaranya, tapi juga harus paham tentang konstelasi politik dan ekonomi dunia karena dari pemahaman itu berikutnya disusun perencanaan matang tentang kebutuhan perut rakyat dan keluarganya walaupun tidak bisa dikatakan berkecupan dan berkelebihan, yaitu dengan wujud membangun perusahaan milik negara lalu berikutnya memperdagangkan produk-produk hasil kerja rakyatnya bukan sebaliknya negara berdagang dengan rakyatnya. ( Penulis adalah Kepala Balai Diklat Keagamaan Surabaya/Red)
