SabdaNews.com — Masalah pengelolaan sampah domestik di lingkungan pesantren besar kian membutuhkan perhatian serius. Dengan populasi ribuan santri yang bermukim setiap hari, volume sampah organik maupun non-organik yang dihasilkan kerap kali melampaui kapasitas pengolahan internal pesantren.
Menanggapi persoalan ini, anggota Komisi A DPRD Jatim Abdul Qodir mendesak pemerintah untuk mengambil langkah nyata dan memfasilitasi sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di lingkungan pondok pesantren yang ada di Jawa Timur.
Menurut politikus asal PKB, pondok pesantren dengan jumlah santri di atas 1.000 orang dinilai hampir pasti menghadapi kendala operasional terkait penanganan sampah harian. Tanpa adanya sistem penanganan terpadu, penumpukan sampah berpotensi memicu masalah kesehatan lingkungan serta menurunkan kualitas hidup para santri.
Oleh karena itu, intervensi pemerintah melalui kementerian atau dinas teknis terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sangat diharapkan.
“Pesantren-pesantren yang santrinya di atas seribu sudah pasti ada problem pengolahan tentang sampah domestik. Pemerintah harus hadir membantu, baik melalui Dinas Lingkungan Hidup maupun skema pelaksanaan lainnya yang relevan,” ujar mantan ketua DPRD Gresik saat dikonfirmasi Kamis (15/10/2026).
Sebagai langkah konkret, sebuah program terobosan tersebut direncanakan mulai bergulir pada tahun 2027. Skema ini mengedepankan pembentukan pilot project atau proyek percontohan di beberapa pesantren berkapasitas besar sebelum diterapkan secara meluas ke pesantren-pesantren lainnya.
Fokus utama dari program ini tidak hanya sebatas pengangkutan sampah, melainkan edukasi dan pembentukan sistem pengolahan mandiri berbasis edukasi santri. Melalui skema pemilahan dari sumbernya, para santri akan dilatih untuk memilah sampah organik dan anorganik secara terstruktur.
Sampah organik, misalnya, akan diolah menjadi pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan perkebunan internal pesantren atau masyarakat sekitar. Sedangkan sampah daur ulang dapat dikelola lebih lanjut.
”Jika pemilahan dilakukan langsung oleh santri sebagian menjadi kompos dan sebagian lagi dimanfaatkan menjadi produk bernilai guna, ini akan jauh lebih baik. Itulah gagasan utama yang ingin kita dorong,” beber Abdul Qodir.
Sebagaimana diketahui bersama, volume sampah domestik pesantren rata-rata satu orang menghasilkan sekitar 0,5 hingga 0,7 kg sampah per hari. Pada pesantren dengan populasi 1.000 santri, estimasi sampah yang dihasilkan mencapai 500 kg hingga 700 kg (0,5–0,7 ton) per hari.
Potensi ekonomi sampah organik, sekitar 50%–60% sampah domestik pesantren merupakan sampah organik (sisa makanan, dapur, dan daun). Pengolahan menjadi kompos atau pemanfaatan metode black soldier fly (maggot BSF) dapat mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus menghasilkan nilai ekonomi bagi pesantren.
Program ini juga sejalan dengan gerakan Eco-Pesantren yang didorong oleh Kementerian Agama dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk membangun kemandirian lingkungan berlandaskan nilai-nilai keagamaan. (pun)
