Home NewsKomumunis Ala Haji  Misbah

Komumunis Ala Haji  Misbah

by sabda news

Opini Publik

Oleh : Muchammad Toha

SabdaNews.com- Kota besar terdekat dari Balai Diklat Keagamaan Semarang adalah Surakarta karena wilayah kerja institusi kediklatan milik Kementerian Agama yang berada di daerah Banyumanik Kota Semarang terdiri dari Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, maka saat berdinas di Balai Diklat Keagamaan Semarang, saya relatif sering datang ke Kota Surakarta atau Solo Raya karena disamping jalur transportasinya mudah dengan via toll, di daerah ini juga memiliki banyak madrasah, serta pondok pesantren yang menjadi salah satu icon Kementerian Agama.

Dalam percaturan sejarah, Kota Surakarta (Solo) pernah menjadi sentral kekuasaan kerajaan yang masih eksis sampai hari ini walaupun sekarang dominasinya dalam bidang budaya yaitu Kerajaan Mataram Islam yang dalam perkembangannya menjadi Kasunan Surakarta Hadiningrat dengan penguasa legendarisnya Susuhunan Paku Buwono X pemilik mobil pertama.

Dalam percaturan politik dan pemikiran, Surakarta juga cukup menarik untuk terus didiskusikan, Sarekat Islam (partai politik) berawal dari Sarekat Dagang Islam didirikan Haji Samanhudi dari Laweyan Surakarta, gagalnya Surakarta menjadi daerah istimewa sebagaimana Yogyakarta salah satunya adalah bukti pergolakan pemikiran yang cukup dinamis antara aliran pro kiri (komunis) dengan aliran pro feodalis (kerajaan).

Kendatipun pada jaman kasunanan terutama Paku Buwono X, perkembangan pemikiran Islam di Surakarta mendapat perhatian besar dan menjadi kiblat pendidikan di daerah lain. Seperti, didirikanya Madrasah Mambaul Ulum tahun 1905 dan ini pelopor pendidikan Islam modern progresif, juga didirikannya Mahkamah Islam Tinggi Surakarta dalam Bahasa Belanda Hof Voor Islamitische Zaken (paradilan tingkat banding dalam perkara ahwal syakhshiyyah bagi umat Islam Jawa dan Madura) pada tahun 1935.

Cukup baik perkembangan kelembaan Islam terutama dalam bidang pendidikan, perekonomian dan peradilan pada waktu itu, namun seiring dengan itu perkembangan komunis juga tumbuh pesat, maka dalam tulisan ini akan mengulas sedikit tentang fenomena sejarah menarik hubungan Islam dan Komunis yang ada pada diri seorang tokoh kelahiran Solo yang unik dan tidak umum dalam pergumulan pemikiran antara Islam dan komunis.

Tokoh itu adalah Haji Misbach, nama kecilnya Ahmad lalu setelah menikah berganti nama Darmodiprono dan setelah pergi haji namanya diganti Haji Mohamad Misbach, pupuler juga dengan sebutan Haji Merah, dilahirkan di Kauman dekat Masjid Agung Keraton Surakarta. Ayahnya seorang pejabat keagamaan Keraton Kasunanan Surakarta dan saudagar batik yang kaya raya.

Pendidikannya diawali belajar di pesantren dan sekolah ongko loro, sehingga tokoh yang lahir tahun 1876 termasuk kalangan elite ekonomi dan akademik, karena kemampuan ilmu agama ini pula tokoh yang pernah menjadi anggota Muhammadiyah ini dikenal juga sebagai Muballigh walaupun pada perjalanannya menyatakan diri keluar karena menurutnya Muhammadiyah dianggap tidak sesuai dengan gerak perjuangannya.

Sedangkan yang dinilai sesuai dengan ide dan perjuangannya adalah komunis, menarik memang, tokoh Islam santri saudagar kaya raya menyatu dalam gerakan komunis. Padahal biasanya kalangan Islam santri mengambil pilihan antagonis dengan komunis, selain itu suatu ketidak normalan bila sosok saudagar kaya raya (borjuis) berada di gerakan komunis, karena umumnya gerakan komunis berisi para petani miskin dan buruh tertindas (proletar).

Namun keterlibatannya dalam gerakan komunis tokoh Islam Haji Misbach ini tidak alang-kepalang, harta dan nyawanya diserahkan, sehingga hidupnya harus keluar masuk penjara, pada tahun 1919 dia ditangkap dan dipenjara di Surakarta, keluar sebentar tahun 1920 kembali ditangkap dan dipenjara di Pekalongan, berikutnya tahun 1924 ditangkap dan dipenjara dalam pembuangan di Manokwari hingga akhir hayatnya tahun 1926, dalam pembuangannya itu dia menulis artikel yang cukup terkenal “Islamisme dan Komunisme”.

Ide yang sering disampaikan pada rapat-rapat umum serta untuk mengajak umat Islam agar berada digaris gerakan komunis, dia selalu mengatakan bahwa Islam adalah agama yang paling relevan dengan komunis, karena kapitalis adalah perusak agama, maka kendatipun dirinya Islam santri tapi banyak mengkritisi kalangan tokoh Islam yang nyaman dalam kemapanan sebaliknya acuh terhadap penderitaan dan kemiskinan umatnya.

Barangkali karena kebenciannya yang luar biasa pada kapitalis yang umumnya sebagai penjajah sehingga dia mengambil pilihan dengan komunis walaupun sebenarnya antara Islam dan komunis dalam sejarahnya susah berjumpa, mungkin dia sepaham dengan komunis karena ide dan gerakannya saja, sehingga mengabaikan adanya pendapat yang umum di masyarakat bahwa komunis adalah atheis.

Apalagi yang selalu dia lihat secara kasatmata pada waktu itu, adanya kekuasaan keraton yang pro Belanda mengabaikan rakyatnya, juga para pembesar agama yang hanya mencari nyaman belaka. Dan jangankan Haji Misbach, tokoh-tokoh pergerakan dunia ketika awal-awal berjuang untuk merdeka ideologi yang dipilih adalah lawan dari kapitalisme.

Dan lawan kapitalisme itu yang dipilih pastilah bukan komunisme karena umumnya negara yang dijajah mayoritas rakyatnya beragama Islam, maka ketika berjuang membangun berdirinya negara tokoh seperti Jamal Abdul Nasir (Mesir), Ir. Soekarno (Indonesia) pada waktu itu pilihan paham ideloginya adalah kelunturan sosialis, dan tentunya sudah menjadi pemahaman umum antara sosialis dan komunis adalah seperti saudara tapi tetap ada bedanya meskipun tidak seberapa. (Penulis : Kepala Balai Diklat Keagamaan Surabaya/Red)

 

 

 

You may also like

Leave a Comment