SURABAYA, SabdaNews.com — Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Provinsi Jawa Timur menggelar webinar bertajuk “Scroll, Stress dan Spiritualitas: Menjaga Kesehatan Mental di Era Disrupsi Digital” pada Selasa (23/6/2026). Kegiatan yang menjadi rangkaian peringatan Harlah ke-3 IPARI ini diikuti lebih dari 324 penyuluh agama dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur melalui Zoom Meeting dan kanal YouTube IPARI Jatim.
Webinar menghadirkan Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI, Dr. H. Muchlis M. Hanafi, Lc., M.A., Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Dr. Ghozali Rusyid Affandi, S.Psi., M.A., serta dokter spesialis kesehatan jiwa dari RS Wajak Husada, Dr. Aziza Matinu Karima, Sp.KJ. Kegiatan diawali keynote speech oleh Kepala Bidang Penaiszawa Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. KH. Arwani Muslich, MHI.
Ketua PW IPARI Jawa Timur, Syaifudin Ma’arif, mengatakan webinar ini merupakan bagian dari ikhtiar organisasi dalam memperkuat kapasitas penyuluh agama agar mampu memberikan pelayanan yang berdampak bagi masyarakat. “Penguatan seluruh penyuluh agama bertujuan memberikan pelayanan yang berdampak. Ini adalah ikhtiar dalam memberikan layanan kepada masyarakat serta membangun sinergi agar IPARI benar-benar memberikan manfaat kepada kelompok sasaran masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, selama kurun waktu 2 tahun terakhir PW IPARI Jawa Timur telah melaksanakan berbagai program penguatan kompetensi penyuluh, di antaranya Bimbingan Teknis Penyusunan SKP dan Pelaporan e-Kinerja yang menjangkau 20 kabupaten/kota se-Jawa Timur, Kajian Ramadan daring, serta rangkaian kegiatan Harlah ke-3 IPARI. Dalam keynote speech-nya, Arwani Muslich menyampaikan apresiasi atas inisiatif IPARI Jawa Timur yang mengangkat isu kesehatan mental dan spiritualitas sebagai tema utama kegiatan. “Kegiatan ini sangat membantu dalam melaksanakan tugas dan fungsi di Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur,” katanya.
Sementara itu, Muchlis M. Hanafi menjelaskan berbagai tantangan yang muncul di era digital, mulai dari information overload, fear of missing out (FOMO), hingga hilangnya ruang keheningan dalam kehidupan manusia modern. Kondisi tersebut, menurutnya, turut berkontribusi terhadap meningkatnya persoalan kesehatan mental di masyarakat.
Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an memiliki peran penting sebagai syifa’ atau penyembuh, melalui penguatan makna hidup, dzikir, tilawah, salat, dan tawakal. Menurutnya, penyuluh agama memiliki posisi strategis dalam membantu masyarakat menghadapi berbagai persoalan psikologis yang berkembang di era digital. “Anda adalah garda terdepan kesehatan umat. Bukan psikiater, bukan psikolog, tetapi pendamping spiritual masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mendorong penyuluh agama untuk mengembangkan kompetensi literasi digital, dasar-dasar konseling berbasis Islam, serta membangun kolaborasi dengan tenaga kesehatan jiwa di wilayah masing-masing. “Jadikan majelis taklim sebagai ruang penyembuhan jiwa, bukan sekadar ruang ceramah,” pesannya.
Menanggapi krisis psikososial akibat perkembangan teknologi digital, Ghozali Rusyid Affandi menekankan pentingnya pendekatan biopsikososial yang mengintegrasikan aspek biologis, psikologis, dan sosial dalam menjaga kesehatan mental. Ia menjelaskan bahwa spiritualitas dan religiositas merupakan faktor protektif yang sangat kuat bagi masyarakat Indonesia dalam menghadapi tekanan psikologis akibat dunia digital.
Dalam pandangannya, masyarakat perlu menerapkan prinsip digital wellbeing dengan membatasi waktu penggunaan gawai, menyaring informasi yang dikonsumsi, serta tidak ragu mencari bantuan profesional ketika menghadapi gangguan kesehatan mental. Dari perspektif medis, Aziza Matinu Karima menjelaskan bahwa paparan digital yang berlebihan dapat memengaruhi sistem dopamin otak sehingga berdampak pada regulasi emosi dan kualitas tidur seseorang. Dampak yang muncul dapat berupa stres, gangguan kecemasan, depresi, hingga risiko gangguan psikosis dan, bahkan tindakan bunuh diri.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pencegahan melalui pola hidup digital yang sehat, deteksi dini terhadap gejala gangguan mental, serta penguatan nilai-nilai agama sejak dini sebagai benteng ketahanan diri. Dalam sesi diskusi dan tanya jawab banyak peserta webinar yang bertanya perihal kesehatan mental yang dihadapi masyarakat, termasuk kecanduan media sosial, kecemasan digital, hingga strategi pendampingan berbasis spiritualitas. Sebagai tindak lanjut, IPARI Jawa Timur berencana mengembangkan kampanye literasi digital sebagai bagian dari gerakan spiritualitas yang diusung dalam Harlah ke-3 IPARI.(dion/Red)
