GRESIK, SabdaNews.com- Pengajian Ahad Pagi yang digelar Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik pada Ahad (2/8/2026) mengangkat tema Muhammadiyah istiqomah mengawal amanah kemerdekaan. Kajian yang bertepatan dengan 18 Shafar 1448 H itu berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik, Jalan Permata Nomor 07 Graha Bunder Asri (GBA), Kebomas, Gresik itu kali ini mendatangkan Assoc. Prof. Dr. H. M. Nurul Humaidi, M.Ag.
Ketua PDM Kab. Malang 2022-2027 ini menyampaikan perjuangan, peran dan kontribusi Muhammadiyah melalui tokoh, aktivis, kader, dan anggotanya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara telah diketahui luas. Misalnya, perjuangan Ki Bagus Hadikusumo dalam diplomasi kemerdekaan Indonesia ke Tokyo pada bulan November 1943 bersama Soekarno dan didampingi Mohammad Hatta. Ki Bagus Hadikusumo berperan aktif dalam organisasi Muhammadiyah hingga menjadikannya sebagai Ketua PP Muhammadiyah tahun 1944-1953. Selain kiprahnya dalam organanisasi Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo juga menjadi anggota BPUPKI (Badan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia)
Ada pula, Ujar Prof Humaidi peran Kasman Singodimedjo yang menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat, cikal bakal Dewan Perwakilan Rakyat. Kasman menjadi tokoh kunci dalam mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pelopor pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Kemudian, pada masa perumusan dasar negara, ia menjadi tokoh pelepasan tujuh kata dalam Sila Pertama Piagam Jakarta menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa
Prof Humaidi kemudian menyebut kiprah presiden Soekarno, Proklamator kemerdekaan Indonesia yang juga kader Muhammadiyah sejak masa perang kemerdekaan. Bahkan turut serta menjadi guru di lembaga pendidikan Muhammadiyah. “Sejak menimba ilmu dan mengajar di rumah Hos Cokroaminoto, Bung Karno tertarik pada pikiran-pikiran Kyai Dahlan yang menghadirkan kemajuan. Setelah itu, Bung Karno resmi menjadi anggota Muhammadiyah,” imbuhnya. Pada tahun 1938 saat Bung Karno dibuang ke Bengkulu oleh kolonial Belanda, Haedar mengisahkan bahwa Putra Sang Fajar tersebut resmi menjadi anggota dan pengurus pendidikan Muhammadiyah. Selepas pengasingan di Bengkulu lalu menjadi presiden, Bung Karno tetap merawat identitas kemuhammadiyahannya.
Di Ende, kata Haedar, Bung Karno memperkenalkan pemikiran-pemikiran Islam yang progresif dan mengutarakan alasan bergabung Muhammadiyah. Dengan tegas Bung Karno menuturkan bahwa Muhammadiyah sejalan dengan alam pikirin dirinya yakni menghadirkan Islam yang progresif. Bisa dikatakan, Bung Karno dengan Muhammadiyah dipertemukan dengan visi keislaman yang sama, yaitu Islam berkemajuan. Pada tahun 1962 ketika Muktamar Muhammadiyah untuk usianya yang ke-50 tahun, Bung Karno meminta namanya tetap dicatat sebagai kader dan ketika meninggal dikafani bendera Muhammadiyah
Ketua MUI Kab. Malang 2024-2029 ini mengungkapkan beberapa tokoh Muhammadiyah dengan kiprahnya masing-masing. Ia lalu menyebut istri dari Presiden Indonesia pertama Soekarno. Ia menjadi Ibu Negara Indonesia pertama dari tahun 1945 hingga tahun 1967. Dia Fatmawati yang merupakan ibunda dari presiden kelima, Megawati Soekarnoputri. Jasanya dalam menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang turut dikibarkan pada saat upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945 begitu dikenang.
Tokoh Muhammadiyah lainya, Jenderal Soedirman, sebagai Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia pertama, Aktif dalam kepanduan Hizbul Wathan dan menjadi guru Muhammadiyah. Kemudian ada tokoh yang jarang orang tau, Haji Mohammad Rasjidi adalah salah satu dari sekian tokoh Muhammadiyah yang memiliki jasa besar terhadap berdirinya Republik Indonesia. Ia turut berjuang ke luar negeri untuk memperoleh pengakuan kedaulatan. Tiga tokoh Muhammadiyah yakni Haji Agus Salim (ketua), H.M. Rasjidi, A. R Baswedan bertandang ke dunia Arab sebagai tim delegasi Pemerintah Indonesia.
Setelah bertugas sebagai konsulat di luar negeri, HM Rasjidi dipilih menjadi Menteri Agama Indonesia pertama dan namanya diabadikan di Aula H.M. Rasjidi gedung Kementerian Agama RI di bilangan Thamrin Jakarta Pusat. Dan masih banyak tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya yang berjuang dan memiliki peran dan kontribusinya. terhadap bangsa Indonesia. Selain telah sejak awal mula bergerak untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendirian sekolah, rumah sakit, dan gerakan pemberdayaan, Muhammadiyah merupakan pilar dan mitra strategis negara Indonesia modern dari masa ke masa
Peran Besar Muhammadiyah dalam Menjaga Nusantara
Dosen senior di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tercatat di Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam ini mengungkapkan Darul Ahdi wa al-Syahadah yang merupakan keputusan Muktamar ke-47 pada 18-22 Syawal 1436 Hijriyah atau bertepatan pada tanggal 3-7 Agustus 2015 di Makassar. “Secara terminologis, Darul Ahdi wa al-Syahadah terdiri atas tiga konsep yakni Negara Pancasila sebagai konsensus Nasional (dar al-ahdi), dan tempat pembuktian atau kesaksian (dar al-syahadah), untuk menjadi negara yang aman dan damai (dar al-salam)’ungkapnya.
Secara etimologis, tambahnya, Darul Ahdi wa al-Syahadah bermakna bahwa “segenap umat Islam harus berkomitmen menjadikan Negara Pancasila sebagai dar al-syahadah atau negara tempat bersaksi dan membuktikan diri dalam mengisi dan membangun kehidupan kebangsaan”. Uraian terminologis dan etimologis ini termaktub dalam dokumen berjudul Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi wa al-Syahadah, (PP Muhammadiyah, 2018).
Darul Ahdi wa al-Syahadah adalah sumbangan pemikiran yang berupaya meneguhkan makna penting Pancasila bagi kehidupan bangsa Indonesia. Darul Ahdi wa al-Syahadah menjadi jejak penting bahwa Muhammadiyah tidak berhenti dalam praktik dan kerja nyata, namun juga merekonstruksi wawasan keagamaan yang penting sebagai titik pijak kehidupan berbangsa dan bernegara setiap muslim di Indonesia. Bagi Muhammadiyah, Pancasila selaras dan sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Pancasila mencerminkan perpaduan yang harmonis antara etika moral kebangsaan dan keislaman. Pancasila sama sekali tidak berseberangan dengan nilai dan ajaran Islam.
Pancasila melalui lima silanya yakni: Ketuhanan yang Maha Esa; Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; Persatuan Indonesia; Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat dan Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan; dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, memuat cita-cita ideal yang diperjuangkan Islam untuk menciptakan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. ( Kontributor Mahfudz Efendi/Red)
