Home PEMBANGUNANKomitmen Jaga Pesisir, Bupati Gresik Raih Penghargaan di Festival Mangrove Jatim ke-10

Komitmen Jaga Pesisir, Bupati Gresik Raih Penghargaan di Festival Mangrove Jatim ke-10

by sabda news

GRESIK, SabdaNews.com – Komitmen Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani dalam menjaga dan mengelola ekosistem mangrove mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Bupati Gresik meraih penghargaan atas dukungan dan komitmennya sebagai pembina perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Gresik.  Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam rangkaian Festival Mangrove Jawa Timur ke-10 yang digelar di Pantai Panduri, Rabu (29/07). Penghargaan diterima oleh Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif yang hadir mewakili Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani.

Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif mengatakan, penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap komitmen Bupati Gresik yang akrab disapa Gus Yani dalam menjaga lingkungan, khususnya ekosistem mangrove yang memiliki peran penting bagi kawasan pesisir Gresik.  “Penghargaan ini diberikan kepada Gus Yani sebagai bentuk apresiasi atas komitmen beliau dalam pembinaan, perlindungan, dan pengelolaan ekosistem mangrove di Gresik. Tentu ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi kami untuk terus menjaga apa yang sudah dibangun,” ujar Wabup Alif.

Menurut Wabup, perhatian Gus Yani terhadap mangrove tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi diarahkan pada bagaimana ekosistem tersebut dapat dijaga secara utuh dan berkelanjutan.  “Bagi Gus Yani, mangrove bukan sekadar tanaman yang kita tanam kemudian selesai. Ada ekosistem yang harus kita jaga, ada masyarakat pesisir yang kehidupannya berkaitan dengan kawasan ini, dan ada masa depan lingkungan yang harus kita pastikan tetap baik,” tuturnya.

Selain Bupati Gresik, apresiasi dalam Festival Mangrove Jawa Timur ke-10 juga diberikan kepada sejumlah kelompok masyarakat dari Kabupaten Gresik atas dukungan terhadap pelestarian dan pengelolaan ekosistem mangrove. Mereka yakni Pokmaswas Muara Tangguh Desa Pangkahwetan Kecamatan Ujungpangkah, Pokmaswas Pangkahkulon Desa Pangkahkulon Kecamatan Ujungpangkah, Pokja Peduli Lingkungan dan Pelestarian Mangrove Desa Banyuurip Kecamatan Ujungpangkah, serta Pokwasmas Tirtawening Desa Banyuurip Kecamatan Ujungpangkah. Disamping itu, PT. Saka Indonesia Pangkah Limited juga meraih penghargaan kategori dukungan pelestarian ekosistem mangrove melalui rehabilitasi mangrove.

Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa upaya menjaga mangrove di Gresik tidak hanya bertumpu pada pemerintah daerah, tetapi juga tumbuh dari kelompok-kelompok masyarakat dan pihak swasta yang terlibat langsung dalam menjaga kawasan pesisir.  Data Peta Mangrove Nasional 2024 dan 2025 menunjukkan Kabupaten Gresik memiliki kawasan mangrove seluas 3.921,18 hektare yang tersebar di 10 kecamatan. Kawasan terluas berada di Kecamatan Ujungpangkah dengan luasan 2.289,5 hektare, disusul Kecamatan Bungah 555,64 hektare dan Manyar 399,89 hektare.

Luasan tersebut menjadikan mangrove sebagai salah satu aset ekologis penting bagi Gresik. Ekosistem mangrove berfungsi mencegah intrusi air laut, melindungi garis pantai dari abrasi dan tsunami, menjadi tempat berpijah berbagai biota laut, sekaligus menjadi habitat berbagai jenis burung, mamalia, reptil, dan serangga. Kawasan mangrove juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ruang wisata alam, penelitian, dan pendidikan.  Wabup Alif menegaskan, perlindungan mangrove membutuhkan kerja bersama. Pemkab Gresik akan terus membuka ruang kolaborasi dengan masyarakat pesisir, dunia usaha, akademisi, komunitas lingkungan, hingga pemerintah pusat dan provinsi.

“Penghargaan ini untuk Gus Yani, tetapi semangat menjaganya adalah semangat kita bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat harus dilibatkan, karena masyarakat pesisir adalah bagian penting dari ekosistem itu sendiri,” katanya.   Menurutnya, pengelolaan mangrove juga perlu memperhatikan aspek keberlanjutan ekonomi masyarakat. Upaya konservasi harus dapat berjalan beriringan dengan pemanfaatan kawasan secara bijak tanpa mengurangi fungsi ekologisnya.

Hal tersebut sejalan dengan strategi perlindungan dan pengelolaan mangrove daerah yang mencakup sinkronisasi regulasi, penguatan data dan informasi, penguatan kelembagaan dan tata kelola, peningkatan kesadaran serta partisipasi masyarakat, hingga pengembangan skema pendanaan dari berbagai sumber.  Wabup Alif menegaskan, penghargaan yang diraih Gus Yani menjadi penyemangat untuk melanjutkan komitmen tersebut.

“Gus Yani sudah menunjukkan komitmen. Tugas kami adalah melanjutkan dan memperkuat komitmen itu. Karena kalau kita menjaga mangrove, sesungguhnya kita sedang menjaga pesisir Gresik, menjaga kehidupan masyarakat, dan menyiapkan lingkungan yang lebih baik untuk generasi berikutnya,” pungkasnya.  Sementara itu, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Bidang Hubungan Antar Lembaga Pusat dan Daerah Hanifah Dwi Nirwana mengatakan, Indonesia merupakan negara dengan ekosistem mangrove terluas di dunia. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2025, luas mangrove Indonesia mencapai sekitar 3,45 juta hektare, atau sekitar 23 persen dari total luas mangrove dunia.

Jawa Timur memiliki posisi penting dalam upaya perlindungan mangrove nasional. Dalam forum tersebut disampaikan, luas mangrove Jawa Timur mencapai sekitar 31.067 hektare, yang menjadikannya salah satu provinsi dengan luasan mangrove terbesar di Pulau Jawa.  Hanifah mengatakan, pengelolaan mangrove perlu dilakukan secara terpadu dengan pendekatan berbasis lanskap. Pendekatan tersebut tidak hanya melihat kawasan mangrove, tetapi juga keterkaitan antara wilayah hilir sungai, daratan, laut, serta aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat yang berinteraksi dengan ekosistem tersebut.  “Keberhasilan pengelolaan mangrove juga memerlukan keterlibatan aktif masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap Festival Mangrove Jawa Timur ke-10 menjadi momentum untuk memperkuat komitmen, memperluas kolaborasi, sekaligus mempercepat aksi nyata menjaga ekosistem mangrove.  “Mari kita jaga, pulihkan, dan lestarikan mangrove bersama. Karena menjaga mangrove berarti menjaga pesisir, menjaga kehidupan, dan juga mengamankan masa depan generasi Indonesia,” katanya.

Senada, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Jumadi dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi kepada para kepala daerah yang memiliki perhatian terhadap perlindungan ekosistem mangrove. Menurutnya, perlindungan mangrove membutuhkan komitmen jangka panjang serta keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat di kawasan pesisir.  Dalam kesempatan tersebut, Jumadi juga menyebut Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebagai salah satu kepala daerah yang memiliki komitmen kuat dalam pembinaan ekosistem mangrove. Khofifah sebelumnya juga pernah menerima penghargaan atas komitmennya dalam pembinaan ekosistem mangrove.  (lim/gus/red)

You may also like

Leave a Comment