GRESIK ,SabdaNews.com- Di sebuah rumah di dusun Kalipang, Desa Wahas, kecamatan Balongpanggang, Gresik, waktu seolah berjalan lebih lambat selama sebelas tahun terakhir. Bagi Drs. H. Lono yang akrab disapa Mbah Lono, hari-harinya bukan lagi dipenuhi kesibukan berburu berita atau mengejar narasumber. Sebagian besar waktunya tercurah untuk satu hal: menemani dan merawat sang istri tercinta, Aminah. Pada Senin malam, 13 Juli 2026, perjalanan panjang itu berakhir. Aminah mengembuskan napas terakhir setelah bertahun-tahun berjuang melawan stroke yang dipicu hipertensi. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan duka bagi dua putra dan 4 Cucu tetapi juga mengakhiri kisah pengabdian seorang suami yang memilih setia mendampingi hingga akhir hayat.
Bagi kalangan jurnalis di Gresik, nama Mbah Lono bukanlah sosok asing. Wartawan Koran Dor itu dikenal sebagai anggota Komunitas Wartawan Grissee (KWGe), pribadi yang ramah, mudah bergaul, dan memiliki banyak sahabat. Di balik candaan yang kerap ia lontarkan, tersimpan kisah panjang tentang kesetiaan yang jarang diketahui banyak orang. Sebelum sakit, Aminah mengabdikan hidupnya sebagai aparatur sipil negara di dunia pendidikan. Kariernya ditutup dengan jabatan sebagai Kepala Sekolah SD Negeri Wahas di Balongpanggang. Ia dikenal sebagai sosok pendidik yang disiplin dan mengutamakan kepentingan anak didik.
Namun kehidupan keluarga itu berubah ketika stroke menyerangnya sekitar sebelas tahun silam. Sejak saat itu, Mbah Lono perlahan mengurangi aktivitasnya demi mendampingi sang istri. Hari-harinya dipenuhi rutinitas yang nyaris tak pernah berubah: membantu kebutuhan Aminah, mengantar berobat, memastikan obat diminum tepat waktu, hingga menemani di setiap fase pemulihan yang penuh harapan sekaligus ketidakpastian.
Perjalanan itu tentu tidak mudah. Menjadi perawat bagi pasangan hidup membutuhkan kesabaran yang tak bisa diukur dengan kata-kata. Ada hari-hari ketika kondisi Aminah membaik, namun ada pula masa ketika penyakit itu kembali menunjukkan kerasnya kenyataan. Dalam semua keadaan itu, Mbah Lono memilih bertahan. Ironisnya, mereka yang mengenal Mbah Lono di masa muda mungkin tidak akan menyangka jalan hidupnya berbelok sedemikian rupa.
Semasa muda, Mbah Lono dikenal energik dan gemar bergaul. Ia memiliki banyak teman dan tak jarang menghabiskan waktu di tempat-tempat hiburan malam. Kebiasaan itu bahkan sesekali masih dilakukannya ketika usia mulai senja, sekadar melepas penat dengan berkunjung ke tempat karaoke di Surabaya atau Mojokerto. Namun di balik sisi hidup yang penuh warna itu, ada satu prinsip yang tak pernah ia lepaskan: keluarga tetap menjadi tempatnya pulang.
Ketika penyakit datang menghampiri istrinya, semua kesenangan itu kehilangan arti. Yang tersisa hanyalah tanggung jawab dan cinta yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Selama lebih dari satu dekade, ia memilih berada di sisi Aminah, menghadapi hari demi hari dengan kesabaran yang mungkin tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Kepergian Aminah pada Senin malam menjadi penutup dari perjuangan panjang itu. Bagi Mbah Lono, tidak ada lagi rutinitas menyiapkan obat, mengantar kontrol, atau memastikan istrinya nyaman beristirahat. Rumah yang selama bertahun-tahun menjadi saksi perjuangan mereka kini menyisakan kenangan yang tak mungkin tergantikan.
Bagi rekan-rekan seprofesi, Mbah Lono telah memberikan pelajaran sederhana namun bermakna: bahwa cinta tidak selalu diucapkan melalui kata-kata. Terkadang, cinta hadir dalam kesediaan untuk tetap tinggal, merawat, dan mendampingi seseorang melewati masa-masa paling sulit hingga ajal memisahkan. Sebelas tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun bagi Mbah Lono, itulah cara terbaik untuk membalas kesetiaan perempuan yang telah mendampinginya membangun keluarga. Kini Aminah telah berpulang. Sementara Mbah Lono melanjutkan hidup dengan doa, kenangan, dan jejak pengabdian yang akan selalu dikenang oleh keluarga, sahabat, serta rekan-rekan jurnalis yang mengenalnya. (lim/Red)
