SIDOARJO , SabdaNews.com – Praktik kerukunan umat beragama di Desa Balonggarut, Kecamatan Krembung, Sidoarjo, menjadi tema utama dalam Dialog PENA Batch 35 yang digelar secara daring pada Selasa, 23 Juni 2026. Kegiatan bertajuk “Potret Keberagaman di Sidoarjo Bagian Selatan: Pura Penataran Agung Margo Wening” itu menghadirkan Penyuluh Agama Islam Kabupaten Sidoarjo, Mu’tasim Billah, sebagai narasumber.
Dialog dipandu Penyuluh Agama Islam Provinsi Jawa Tengah, Novi Dwi Sholihah, serta menghadirkan Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, Dr. H. Jamaluddin M. Marki, Lc., M.Si., sebagai keynote speaker.
Dalam pemaparannya, Mu’tasim Billah menjelaskan bahwa salah satu potret keberagaman di Sidoarjo Selatan dapat ditemukan di RT 06 RW 03 Desa Balonggarut. Di lokasi itu berdiri Pura Penataran Agung Margo Wening yang dipimpin Ida Romo Pandhito Eko Dwija Putra Keniten atau Gde Diun Arthana. Pura tersebut diresmikan pada 21 Agustus 2004 dan hingga kini menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat setempat.
Menurut dia, kawasan Krembung memiliki keterkaitan historis dengan peradaban masa Kerajaan Kahuripan pada era Raja Airlangga. Nilai-nilai persatuan yang diwariskan sejak masa lalu, termasuk semangat Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa dalam Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular, masih hidup dalam kehidupan masyarakat dan menjadi fondasi toleransi antarumat beragama.
Mu’tasim juga menyoroti upaya masyarakat dalam menjaga kerukunan melalui musyawarah lintas agama yang bertumpu pada empat prinsip, yakni saling menghormati, saling memahami, saling bekerja sama, dan saling menjaga. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi modal sosial penting dalam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari politik identitas, hoaks, hingga penyebaran paham radikal melalui media sosial.
Sementara itu, Jamaluddin M. Marki menekankan pentingnya dokumentasi dan portofolio kepenyuluhan sebagai bagian dari penguatan profesionalisme penyuluh agama. Ia juga menyampaikan perlunya pemetaan kompetensi penyuluh sesuai bidang pendampingan, seperti tahsin Al-Qur’an, ekonomi umat, pembinaan warga binaan pemasyarakatan, maupun pendampingan eks narapidana terorisme. “Peran penyuluh agama akan semakin dirasakan apabila didukung kolaborasi dan sinergi, termasuk dengan penyuluh dari agama lain dalam merawat kerukunan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan mendapat pengarah dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo, Dr. Mufi Imron Rosyadi, M.E.I., dan dipantau oleh Heru Susanto, Kasubtim Evaluasi Kinerja Penyuluh Agama Islam. Peserta yang mengikuti kegiatan berkesempatan memperoleh e-sertifikat nasional, e-book antologi Menjaga Merah Putih Nusantara, serta akses bergabung dalam komunitas Penulis Dai Nusantara.(dion/red)
