SabdaNews.com-Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebomas, Gresik menyelenggarakan Pengajian Ahad Pagi dengan tema kebangkitan ummat islam antara tantangan dan harapan Ahad (21/6/2026). Menghadirkan KH Abdul Hamid Muhannan, LC sebagai penceramah, Pengajian di Masjid At Taqwa Perguruan Muhammadiyah Giri Kebomas Gresik Jawa Timur itu diikuti ratusan warga Muhammadiyah di Kecamatan Kebomas dan sekitar.
Dalam paparan kajiannya, dosen Universitas Muhammadiyah Lamongan itu mengungkapkan perihal lahirnya piagam makkah 1400 Hijriah. Piagam Makkah ini mengumpulkan lebih dari (1.200) tokoh Islam yang memiliki pengaruh besar di masyarakat mereka, yang mewakili para mufti dan ulama besar dunia Islam. Bersama mereka hadir pula lebih dari (4.500) pemikir Islam, yang berasal dari (27) komponen Islam yang berbeda, dari berbagai mazhab dan aliran, baik dari Sunni maupun Syiah, serta lainnya. Mereka semua hadir secara langsung, dan hanya kurang dari (1%) yang berhalangan
Piagam Makkah dan kondisi umat islam Kyai Hamid menambhakan ini dalah pertemuan bersejarah dan belum pernah terjadi sebelumnya. Acara ini berlangsung pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan yang penuh berkah, tahun (1440 H – 2019 M) di dekat Ka’bah yang mulia, di bawah naungan mulia dari Penjaga Dua Tanah Suci, Yang Mulia Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, Raja Kerajaan Arab Saudi – semoga Allah melindunginya. Para peserta datang dari (139) negara untuk membahas sejumlah isu penting.
Piagam Makkah yang ditandatangani oleh para mufti dan ulama umat Islam dari berbagai mazhab dan aliran, serta disahkan oleh negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam, dianggap sebagai piagam kedua dalam sejarah Islam setelah Piagam Madinah yang ditandatangani oleh Nabi dan Junjungan kita Muhammad SAW. Piagam ini merupakan dokumen penting dalam konteks kontemporer yang mendesak, yang mencerminkan wawasan para ulama Islam yang luhur dalam menghadapi berbagai tantangan dan kekosongan, serta mengatasi keterbatasan pemahaman sebagian pihak yang melahirkan banyak bentuk keterbelakangan dan ekstremisme.
Selain itu, piagam ini juga mencerminkan kemanusiaan Islam dan rahmatnya bagi alam semesta, mendukung isu-isu koeksistensi dan integrasi positif, serta memadukan— dengan hakikat ajaran Islam—antara identitas agama dan kebangsaan, terutama di negara-negara yang beragam, khususnya di negara-negara minoritas Muslim. Tentang kebangkitan umat islam, Kyai Hamid menjelaskan keadaan umat islam sesudahnya, terdapat golongan apatis yang cenderung tidak peduli lagi, hilang kepedulian, rapuh kepercayaan dan menutup akal dari segala kemungkinan perubahan menjadi lebih baik. Mereka mempercayai kebangkitan umat islam hanya khayalan.
Golongan kedua menurut kyai Hamid adalah golongan subhat yang mempercayai jika kebangkitan umat islam itu terjadi, mereka akan senang dan bahagia, namun jika tidak terjadi, mereka cenderung menerima kejadian ini. Dan golongan ketiga adalah golongan optimis yang menyakini kebangkitan umat islam akan kembali Berjaya.
Wakil ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Lamongan periode 2015 – 2022 ini mengungkapkan Dalam suatu kesempatan diskusi seminar, mantan rektor UIN Syahid Jakarta, Prof Azyumardi menyatakan, bahwa peluang kebangkitan Islam lebih besar akan terjadi di Asia Tenggara ketimbang di Timur Tengah. Berbagai alasan dikemukakannya. Salah satu alasannya adalah posisi Asia Tenggara yang terbentang di persimpangan dua jalur laut terbesar di dunia. Pertama adalah jalur Timur-Barat, yaitu jalur yang menghubungkan Samudera Hindia dengan Samudera Pasifik. Kedua adalah jalur Utara-Selatan, yang menghubungkan kawasan Asia Timur dengan Australia dan Selandia Baru serta pulau disekitarnya.
Kemudian tiga pintu masuk ke kawasan Asia Tenggara melalui jalur laut pada masa awal hingga kini adalah Selat Malaka, Selat Sunda dan Selat Lombok merupakan titik penting dalam sistem perdagangan dunia. Menjadi sama pentingnya karena perselisihan politis dan ekonomis mengenai jalur laut yang melintasi kepulauan Spartly di Laut Cina Selatan. Selat Malaka sendiri merupakan selat yang menghubungkan samudera Hindia dengan Samudera Pasifik, sekaligus sebagai jalur terpendek yang terletak diantara India, Cina dan Indonesia, Oleh karenanya selat ini dianggap sebagai “chokepoints” Asia. Secara garis besar ada dua kepentingan Barat khususnya AS di Asia Tenggara berkaitan dengan letaknya yang strategis.
Harapan Kebangkitan umat islam
Kyai Hamid mengutip sebuah quote kalau seandainya bukan karena harapan, tidak mungkin seorang ibu melahirkan anaknya, ia lalu menghubungkan dengan janji Allah dalam Surah An-Nuur ayat 55 “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai.” Pungkasnya. (Kontributor Mahfudz Efendi/Red)
