Opini Publik
Oleh : Muchammad Toha
SabdaNews.com- Ketika tugas dinas di Pulau Sumba Provinsi Nusa tenggara Timur, tepatnya di Kabupaten Sumba Barat Daya dengan pusat pemerintahan di Tambolaka, bersama tim saya berangkat dari Balai Diklat Keagamaan Denpasar lalu dari Bandara Gusti Ngurah Rai langsung terbang dan mendarat di lapangan terbang Tambolaka. Karena tugas lumayan jauh, maka solidaritas kami makin terbangun kuat karena sadar sebagai sesama perantau untuk beberapa hari.
Selain membawa perbekalan kebutuhan kami sendiri, seperti seragam yang harus dipakai di wilayah pelatihan, sesuai warna dan harinya sebagaimana yang dikenakan saat kerja di kantor, yaitu senin dan selasa warna hitam untuk busana bawah dan putih untuk busana atas, hari rabu busana bawah warna hitam dan atas baju batik kain tenun endek (tenun khas Bali), sedangkan kamis busana adat, jumat baju bebas rapi dan sopan.
Peralatan untuk pelatihan, misalnya, printer, laptop, spanduk, buku panduan, kertas kerja termasuk flipchart yang akan digunakan peserta juga harus dibawa, karena saat itu musim pandemi corona maka perbekalan kami bertambah, tentu saja hand sanitizer, masker, yang cukup banyak dan berat karena penyediannya harus cukup untuk seluruh peserta dan penyelenggara harus ada.
Kerukunan makin kelihatan saat sama-sama makan, biasanya untuk makan pagi disediakan hotel dimana kami bermalam, ketika makan pagi bersama itu kita manfaatkan untuk membahas pelaksanakan pelatihan hari kemarin dengan segala problematikanya, mulai berkas yang belum dilengkapi peserta sampai tugas yang belum dikumpulkan peserta yang paling sering terlambat.
Siangnya kami mencari makan sendiri-sendiri sesuai selera, karena keberadaan kami terpisah-pisah sesuai lokasi dilaksanakan pelatihannya. namun pernah suatu malam kami berhasrat makan malam bersama dan inilah pengalaman baru yang saya alami dalam kebersamaan, diawali dengan diskusi makan apa malam ini ?, “malam ini saya sedang kurang selera makan ikan”, itu pendapat saya, teman kerja saya sambil bergurau berseloroh, “bagaimana kalau ke babi panggang tapi bapak pasti nggak mau, mungkin ke warung padang saja pak”. Teman yang lain langsung menyahut, “jangan ke warung padang pak nanti saya pingin rendang sapi”.
Singkat kisah malam itu saya putuskan makan malam dengan sate gule di warung pinggir jalan menuju lapangan terbang, kebetulan penjualnya dari Lamongan, akhirnya semua setuju serta riang gembira bergerak bersama, ternyata tepat dugaan saya bahwa kambing bisa menyelesaikan aneka perbedaan menu kami, kenapa harus kambing, tentunya sebagai teman kerja kami sudah saling tahu, teman muslim tidak mau makan babi sedangkan yang hindu tidak mau makan sapi. Bahkan kalau didetailkan lagi teman-teman beragama Kristen juga memiliki larangan dalam hal makan, contohnya advent melarang umatnya makan babi, anjing, udang, onta dan hewan pemamah biak tidak berkuku belah.
Dari kisah diatas dapat diambil pelajaran untuk membangun harmonis dalam hidup bersama diantara para pemeluk agama berbeda, sebaiknya ditonjolkan persamaannya, karena perbedaan sudah pasti ada dan justru berbeda itulah menunjukkan eksistensi agama. Dalam masyarakat Jawa ada ungkapan, “sedaya agami sami”, (semua agama sama), maksudnya bukan melakukan teologi pluralis (penyatuan agama-agama), akan tetapi ada keyakinan bahwa semua agama mengajarkan hal sama, yaitu kebaikan, kasih sayang, keadilan, hubungan baik antara Pencipta dan ciptaan, serta antar sesama ciptaan, dan cara meraih hidup dalam kebahagiaan.
Kalaupun memang agamanya berbeda sebenarnya masih ada cara untuk mempertemukan perbedaan, yaitu dibangun slogan bahwa kita sama-sama umat beragama dan percaya tentang adanya Tuhan, sehingga tidak ada dasar untuk tidak harmonis, karena sebenarnya yang berlawanan dengan kita adalah mereka yang anti agama dan anti Tuhan. ( Penulis : Kepala Balai Diklat Keagamaan Surabaya/Red)
