Home NewsRobek Celana Di Kabupaten  Malaka

Robek Celana Di Kabupaten  Malaka

by sabda news

Opini Publik

Oleh : Muchammad Toha

SabdaNews.com- Tugas dinas mengantarkan saya sampai di Kabupaten Malaka dengan pusat pemerintahan di Betun yang berada di Pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kabupaten ini berbatasan dengan Negara Timor Leste dan hasil pemekaran dari Kabupaten Belu yang pusat pemerintahannya berada di Atambua.

Saat itu kedinasan saya di Balai Diklat Keagamaan Denpasar maka perjalanan saya setelah terbang dari Bandara Gusti Ngurah Rai Bali turun di Bandara El Tari Kupang Nusa Tenggara Timur dilanjutkan dengan perjalanan darat delapan jam dengan kendaraan jenis elf menyusuri bukit dan hutan di tengah malam gelap gulita, jalannya banyak berlobangnya.

Tepat tengah malam saya sampai di hotel lalu makan malam yang tertunda lama waktunya di warung makan kecil jarak seratus meter dari hotel  sederhana setelah itu tidur karena pagi-pagi saya harus membuka dan memberikan materi pelatihan di kabupaten baru itu, walau kamarnya  tidak mewah tapi karena lelah sehingga tidur nyenyak juga.

Paginya saya beserta tim menuju Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malaka, karena harus menyelia berbagai persiapan pelatihan yang akan dilaksanakan beberapa hari lamanya termasuk melihat ketersediaan berbagai piranti dan aneka kebutuhannya. Begitu turun dari mobil, saya melihat selembar triplek tipis belakangnya tanpa rangka, dilengkapi kaki dua dari kayu sebagai penyangga ditulisi dengan cat putih pakai kuas seadanya “Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malaka”.

Tulisan itu unsur seninya sangat rendah, tanpa huruf cetak dan pengaturannya tidak simetris, pasti ini hanya produk kuas yang dicelupkan cat lalu dicoretkan begitu saja, tidak ada alamat lokasi apalagi penunjuk website atau email, bangunan kantornya juga sangat sederhana karena memang rumah tinggal yang tidak mewah dikontrak untuk lembaga negara.

Ruang pimpinan dan pekerja berdesakan tidak memadai karena memang rumah dan ada pengalaman yang tidak lupa ketika saya ke toilet, celana saya kecantol pintunya yang hanya ditutup seng sehingga sobek nyangkem kodok (model huruf L), karena tidak terasa maka tetap saya gunakan saja ngajar sembari hilir mudik maju mundur didepan peserta.

Pelatihannya dilakukan di lapangan terbuka depan kantor karena jangankan aula, ruang pertemuan saja tidak ada, lumayan panas kegiatan pelatihannya karena dilaksanakan dibawah plastik biru yang dibentang dan ditarik tali-tali lalu diikatkan pada batang-batang kayu yang ditancapkan ke tanah, karena tidak di ruangan maka untuk membatasi dan tidak diterobos orang lewat, maka dipasang keliling tali rafia sehingga seperti police line tapi anjing masih bisa nerobos memasuki arena dan demikian ini berlangsung beberapa hari lamanya.

Pesertanya tidak sedikit yang berasal dari jauh karena sesuai tempat kerjanya, sehingga mereka berangkat ikut pelatihan kondisi gelap dan kembali sampai rumah juga sudah gelap, namun biasanya para peserta dari jauh itu mencari tumpangan menginap di rumah teman sesama peserta yang berlokasi agak dekat tempat kegiatan.

Bertolak dari kenyataan diatas maka siapapun yang mendapat amanat untuk menata negara harus benar-benar memahami berbagai disparitas yang ada pada bangsanya, untuk menentukan keberhasilan parameternya tidak bisa digebyah uyah (semaunya), sehingga, sangat tidak cendekia ketika yang ada di ibu kota dengan segala fasilitas serta kemajuan teknologinya ditarungkan dengan anak bangsa berada di belantara sementara untuk nyambung internet saja harus putar-putar cari titik yang tepat serta naik pohon lumayan tingginya.

Sehingga dari fenomena ini, bila pemangku kebijakan tidak sungguh-sungguh melakukan langkah kebajikan sebagai solusi menutup kesenjangan yang menganga pasti negara dianggap tidak hadir, dan daerah seperti ini rawan dipengaruhi dan dijarah negara lain yang berada di sebelahnya, ditambah lagi maraknya media sosial yang sangat gamblang membeber keburukan dan egoisnya pemangku kebijakan maka makin runtuhlah wibawa negara dan mereka akan mengatakan, “Ada atau tidak Pemerintah rasanya sama saja”. (Penulis : Kepala Balai Diklat Keagamaan Surabaya)

 

You may also like

Leave a Comment