14
GRESIK, SabdaNews.com- Terik matahari siang itu tak menyurutkan langkah warga Desa Pandu, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik. Gang Sawunggaling yang biasanya lengang, mendadak berubah menjadi panggung besar penuh warna. Mulai anak-anak, remaja tampil anggun dengan busana kerajaan, hingga para lansia duduk rapi di tepi jalan dengan senyum bangga. Semua tumplek blek, larut dalam kemeriahan sedekah bumi yang digelar bertepatan dengan peringatan HUT ke-80 RI.
Bukan sekadar lomba tumpeng biasa. Di Desa Pandu, tumpeng parade menjadi pertunjukan seni dan budaya. Setiap tumpeng adalah karya penuh makna, dihiasi hasil bumi, bentuk-bentuk unik, dan cerita di baliknya. Ada tumpeng naga megah berisi sayur mayur, gunungan wayang, miniatur rumah gadang beratap padi, hingga burung garuda yang berdiri gagah.
Suasana semakin hidup saat setiap RT menampilkan drama tari sesuai tema masing-masing. Nama RT di desa ini pun unik, diambil dari kerajaan-kerajaan besar masa lalu yakni Sawunggaling, Mataraman, Suropati, Majapahit, dan Gajahmada yang seolah menghidupkan kembali kejayaan sejarah di tengah kampung.

Riuh tepuk tangan penonton mengiringi drama “Sawunggaling” yang menampilkan adegan lakon drama Roro Jonggrang dengan membawa ayam jago lengkap dengan miniatur candi. Ada juga “Anoman Obong” dengan tarian penuh energi diiringi tumpeng naga. Tak ketinggalan, yel-yel kemerdekaan yang diteriakkan tiap RT menambah semangat warga yang menonton. “Meski panas terik, semua kompak. Dari anak-anak sampai para sesepuh ikut turun tangan. Ini bukti kalau warga Pandu guyub rukun,” ungkap Kepala Desa Pandu, Agus Winarno, penuh rasa bangga.
Agus menjelaskan, penilaian parade tumpeng tahun ini tidak hanya dari bentuk tumpeng, tetapi juga kekompakan warga, kostum, tarian, dan kreativitas yang ditampilkan. Total hadiah jutaan rupiah disiapkan, dan kegiatan ini dipastikan menjadi agenda tahunan setelah sempat vakum dua tahun. Di tengah kemeriahan, Agus mengingatkan warganya untuk tidak terprovokasi aksi-aksi anarkis yang terjadi di sejumlah daerah. “Jaga diri, jangan ikut hal-hal yang merugikan kita semua,” tegas Agus.
Camat Cerme, Umar Hasyim, yang hadir di lokasi, mengaku terharu. Menurutnya, apa yang dilakukan warga Desa Pandu adalah contoh nyata bagaimana seni, budaya, dan semangat kemerdekaan bisa berjalan beriringan. “Ini bukan hanya hiburan, tapi juga pelajaran untuk anak-anak agar terhindar dari pengaruh buruk seperti narkoba,” ujar Umar.

Umar juga mengingatkan warga agar tidak mudah terprovokasi isu negatif yang memicu kericuhan. “Kalau ikut aksi lalu anarkis, yang rugi justru anak-anak muda sendiri. Masa depan bisa gelap karena berurusan dengan hukum. Lebih baik ikut kegiatan positif seperti ini,” katanya. Menjelang sore, sajian parade berangsur usai. Namun sorot mata warga, tawa anak-anak, dan denting musik pengiring drama tari akan menjadi kenangan yang tak lekang oleh waktu sebagai bukti bahwa di Desa Pandu, kemerdekaan selalu dirayakan dengan kebersamaan dan kegembiraan.
Dalam lomba tumpeng parade tersebut, Juara 1 diraih RT 02 RW 04 gang majapahit dan berhak mendapatkan hadiah uang tunai Rp.1,5 juta. Sedangkan Juara 2 dimenangkan RT 01 RW 01 gang Suropati dengan hadiah Rp.1 juta dan Juara 3 diraih RT 02 RW 03 gang Sawunggaling Wetan dengan hadiah Rp. 750 ribu. Untuk peserta lain sebagai apresiasi diberikan hadiah pembinaan masing-masing Rp.500 ribu.(lim/Red)