Oleh Mahfudz Efendi, S.Pd., Gr., M.M.
SabdaNews.com- Banyak orang bilang puasa itu berat, tapi setelah beberapa hari, tubuh terbiasa. Lapar dan haus jadi wajar saja. Jadi yang sebenarnya berat apa? Jawabannya adalah Menjaga konsistensi dari hari 1 sampai hari 30. Pola yang berulang tiap tahun Awal semangat, tengah kendor, akhir menyesal
Hari pertama: sahur tepat waktu, tarawih penuh, tilawah rajin. Pekan kedua: mulai kendor. sahur seadanya, tarawih kadang bolong. Hari ke-20: baru sadar Ramadhan hampir habis. Pola ini berulang hampir setiap tahun. Padahal yang membedakan Ramadan bermakna atau biasa saja ya di konsistensi itu.
Kenapa susah konsisten? Karena hasilnya tidak langsung terasa. Kita terbiasa dengan yang instan. Pesan makanan langsung datang, kerja hari ini langsung dapat hasil, tapi ibadah tidak begitu. Tarawih malam ini tidak langsung ubah hidup esok hari. Dan karena hasilnya tidak langsung terlihat, kita mudah kehilangan motivasi.
Konsistensi bukan soal sempurna, tapi soal kembali lagi. Konsisten bukan berarti tidak boleh meleset. Konsisten itu kembali lagi meski sempat kendor, bangkit lagi meski sempat malas, perbaiki lagi meski sempat lalai. Ramadhan memberi 30 kesempatan untuk belajar itu. Bukan tentang sempurna, tapi tentang terus mencoba.
Proses Lebih Bermakna dari Hasil Instan Di dunia yang serba cepat, kita lupa ada hal yang butuh waktu. Ramadan mengingatkan tentang konsistensi kecil yang dilakukan terus-menerus lebih bermakna dari semangat besar yang terjadi. Kadang yang bikin berat menjalani Ramadan tapi isi kepala dan hati yang belum rapi. Padahal Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Makanya Ramadan itu momen terbaik bukan cuma buat nambah amal, tapi merawat hati, menenangkan pikiran, dan tapi merawat hati, menenangkan pikiran, dan meluruskan mindset rezeki. Semoga Ramadan kali ini kita bisa jaga ritme sampai akhir. ( Penulis : Guru SD Almadany Gresik/Red)
