GRESIK, SabdaNews.com- Sebanyak 15 tenda kuliner sumbangan dari Baznas, YDSF, Nurul Hayat, Petro Kimia Gresik BSI dan lainnya berdiri di area Timur masjid. Masyarakat sekitar tempat ibadah milik pemerintahan ini mulai menikmati rizki dari para peziarah yang mampir transit di masjid.
Lahan luas, lokasi strategis , konsumen melimpah. Itu sederet alasan pengurus Masjid Agung Malik Ibrahim Gresik (MAG) mendirikan wisata kuliner. Takmir memperbaiki fasilitas kamar mandi, toilet dan tempat wudlu. Dan dengan air PDAM yang melimpah para tamu memilih Masjid Agung Gresik untuk salat, istirahat, bermalam, bersih diri dan untuk mengisi perut.
Setiap hari tidak kurang dari 5 bus dari Sumatra, Jabar, Jarang serta dari kota2 di Jatim singgah di MAG. Angkutan lyn putih yang lama mangkrak tidak beroperasi menjadi hidup ikut menikmati tetesan ekonomi dari wisata kuliner ini. Para pemilik lyn bisa mengangkut peziarah dari masjid ke makam Malik Ibrahim.
Sebuah usaha membangkitkan ekonomi kerakyatan yang mulai hidup ini nasibnya tragis, setelah Dishub Gresik melarang sopir lyn mengangkut penumpang dari MAG ke Makam Malik Ibrahim, karena tidak sesuai trayek.
Sejak itulah kawasan kuliner MAG mati kembali. Warung2 tenda tutup tidak ada pembeli seperti dulu. Dalam pertemuan Kamis malam pada 01 Juni ketua paguyubaan Pak Bandi mengatakan, “Ayo kita hidupkan lagi kawasan wisata kuliner ini mumpung penggurus MAG baru dan dekat dengan pak bupati.”
Peraturan memang wajib ditegakkan tetapi solusi untuk menghidupkan trayek lyn yang puluhan tahun mangkrak itu perlu dicarikan jalan keluarnya. Jangankan peraturan bupati, UUD 45 saja bisa diamandemen karena memang perlu. “Yang penting semua pihak bisa diajak berkomunikasi dengan baik.” Kata Makkali sopir lyn putih.
Pemilik Stan kuliner pun hendaknya lebih kreatif dan berinovasi menyediakan menunya. Siapa pun yang datang tidak hanya disuguhi kopi dan nasi pecel tetapi ada menu yang lebih variatif, misalnya ada ikan bakar, sea food, sate atau menu favorit lainnya.
Mengapa di tempat lain, wisata kulinernya maju meski dengan fasilitas terbatas? Pengusaha wisata tidak mau mati di lumbung padi. “Ayo kita bangkitkan bersama wisata kuliner ini. Persoalan harus dihadapi karena kita tidak akan bisa sampai ke puncak tanpa mendaki, ” Kata p Bandi memprovokasi. (Red)