Home RELIGISholat Sunnah Tahajjud , Ibadah Sunnah Yang Dicintai Allah Dan Mengangkat Derajad Hamba 

Sholat Sunnah Tahajjud , Ibadah Sunnah Yang Dicintai Allah Dan Mengangkat Derajad Hamba 

by sabda news
SabdaNews.com- Menghidupkan sunnah Rosulullah Muhammad Saw menjadi salah satu topik yang dibahas dalam  Pengajian Ahad Pagi dengan tema “Orang yang Dirindukan Rasulullah” pada Ahad (18/1/2026) di Masjid At -Taqwa Perguruan Muhammadiyah Giri, Kebomas, Gresik, Jawa Timur oleh Ketua Lembaga Dakwah Khusus (LDK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang, Dr Ajang Kusmana, M,Ag.
Bertepatan dengan tanggal 29 Rajab 1447 Η, dosen Al-Islam dan Ke-Muhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini menjelaskan ada tiga golongan yang dirindukan Rosulullah Muhammad SAW di telaga Kautsar. Menurut Dr Ajang salah satu golongan itu adalah mereka yang senantiasa mencintainya. “Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa yang telah mencintaiku, maka aku bersamanya di Surga” (HR. Tirmidzi dan Thabarani).  Yang berarti menghidupkan sunnah adalah bukti cinta kepada Nabi Muhammad SAW, dan ganjaran bagi yang mencintai beliau adalah kebersamaan di surga
Bukti Mencintai Nabi Muhammad Saw dengan Mengamalkan Sunah Harian  Begitu besarnya ganjaran Allah pada umat Rosulullah hingga dibuatkan istana di Surga. Dr Ajang kemudian menggambarkan harga sewa istana termahal sedunia-Istana Buckingham Inggris. Dengan 775 kamar dan di lokasi pusat London, tidak mengherankan Istana Buckingham akan menjadi rumah kerajaan paling mahal untuk disewa per bulan dengan harga 2.550.018 Pound sterling (Rp51 miliar) / per hari 1,7 M  Di Surga Allah berikan istana indah Cuma-Cuma bagi hamba-Nya yang mau dan mampu menghidupkan sunah Nabi. Dr Ajang Kusmana menjelaskan perihal tersebut diantaranya adalah :
1) Salat Sunnah 12 Rakat   Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Tirmidzi “ barangsiapa mengerjakan salat sunnah 12 rakaat dalam sehari semalam (salat), maka akan dibangunkan rumah di surga, yang terdiri dari 2 rakaat sebelum Subuh, 4 rakaat sebelum Dzuhur, 2 rakaat setelah Dzuhur, 2 rakaat setelah Maghrib, dan 2 rakaat setelah Isya, merupakan amalan ringan dengan pahala besar untuk menyempurnakan ibadah fardhu dan meraih surga”
2) Salat Dhuha : Dari Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,“Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: 1- berpuasa tiga hari setiap bulannya, 2- mengerjakan salat Dhuha, 3- mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari no. 1178)
3) Berpuasa tiga hari setiap bulan (Ayamul Bidh)  : Sabda Rosulullah Saw “Berpuasa tiga hari setiap bulan adalah seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan lainnya).        Penjelasannya : Ini adalah sunnah yang sangat dianjurkan (Ayyamul Bidh) karena setiap kebaikan dilipatgandakan pahalanya 10 kali lipat, sehingga 3 hari puasa x 10 = 30 hari (sebulan), dan jika dilakukan setiap bulan maka setahun penuh.
RAGAM PELAKSANAAN PUASA AYAMUL BIDH
Akan tetapi, kata Dr Ajang, terdapat beberapa hadis menjelaskan cara-cara pelaksanaan puasa tiga hari setiap bulan dan dalam waktu pelaksanaannya berbeda-beda, yang tidak mesti harus tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriyah. Varian waktu pelaksanaan puasa ayyamul bidh ini merupakan keringanan yang diberikan syariat untuk umat Islam agar tidak menyulitkan dalam pengalamannya. “Puasa sunah tiga hari tiap bulan merupakan ibadah mahdlah yang pelaksanaannya didasarkan pada dalil-dalil yang maqbul. Dalam beberapa riwayat hadis tata pelaksanaan puasa ayyamul bidh itu ada beberapa cara dan ini merupakan keringanan yang diberikan syariat kepada kita,” tutur Ajang.
Dr Ajang Kusmana menyebut ada enam varian waktu pelaksanaan puasa ayyamul bidh, di antaranya:   a) Berpuasa berturut-turut pada tanggal 13, 14 dan 15 bulan Kamariah  “Jika engkau berpuasa tiga hari dalam sebulan, maka berpuasalah pada tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.” (HR. Tirmidzi & An-Nasa’i)
b) Berpuasa tiga hari pada hari Senin pekan pertama kemudian pada hari Kamis, lalu hari Senin pekan berikutnya  Berpuasa tiga hari pada hari Senin pekan pertama kemudian pada hari Kamis, lalu hari Senin pekan berikutnya. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Abū Dāwūd,  Dari Hafshah r.a. (diriwayatkan) ia berkata: Rasulullah SAW berpuasa tiga hari setiap bulan, pada hari Senin dan Kamis, dan Senin pekan berikutnya.
c) Berpuasa tiga hari pada hari Senin pertama awal bulan dan dua hari Kamis (tidak ditentukan). Hal ini berdasarkan hadis riwayat al-Nasā’ī,  Dari sebagian istri Nabi SAW (diriwayatkan) bahwa Rasulullah SAW berpuasa pada tanggal sembilan Zulhijah, hari Asyura, dan tiga hari dari tiap bulan, (yaitu) hari Senin pekan pertama dari bulan itu dan dua Kamis (berikutnya yang tidak ditentukan) [H.R al-Nasā’ī].
d) Berpuasa tiga hari pada hari Senin dan Kamis (di pekan pertama) dan satu hari apa saja. Hal ini didasarkan pada hadis riwayat Aba Dāwūd,  Dari Hunaidah al-Khuzā’ī dari ibunya, ia berkata: Saya datang ke Ummu Salamah kemudian saya bertanya kepadanya tentang puasa. Ia (Ummu Salamah) berkata: Rasullah SAW memerintahkan kepadaku agar aku berpuasa tiga hari setiap bulan, (yaitu) pada hari Senin dan Kamis di pekan pertama [H.R. Abū Dāwūd].
e) Berpuasa tiga hari di awal bulan (tanggal 1, 2 dan 3). Hal ini didasarkan pada hadis riwayat Abū Dāwüd,  Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. (diriwaytakan) ia berkata: Rasulullah SAW biasanya berpuasa pada awal setiap bulan tiga hari [H.R. Abū Dāwüd].
f) Berpuasa tiga hari pada hari Senin pertama awal bulan dan dua hari Kamis (HR. Nasa’i);   berpuasa tiga hari pada hari Senin dan Kamis (di pekan pertama) dan satu hari apa saja (HR. Abu Dawud);
“Mau tanggal berapa pun kita melaksanakan puasa ayyamul bidh itu boleh. Ini pilihan. Yang jelas harus tiga kali dalam setiap bulan. Waktunya bisa memilih kapan waktunya, tidak ada ketentuan. Yang perlu kita  ketahui bahwa Nabi Saw menganjurkan untuk melaksanakan puasa sunah ini,” tegas Ichsan.
4) Anjuran Berpuasa Senin Kamis   :   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa” (HR. Tirmidzi) Dr Ajang Kusmana kemudian memaparkan alasan mengapa Rosulullah Muhammad Saw memilih hari senin dan kamis untuk beribadah. Kutipan hadist oleh Syekh Abu Zakariy Al-Anshori dalam karyanya Fathul Wahhab  Rasulullah SAW bersabda, “Amal itu diperlihatkan di hadapan Allah pada hari Senin dan hari Kamis. Aku gembira sekali amalku diperlihatkan di saat aku sedang berpuasa.”
Dia lalu menjelaskan keutamaan puasa senin dan kamis, diantaranya puasa yang selalu dilakukan oleh Rasulullah, hari penyetoran amal manusia, dibukanya pintu surga, hari Senin adalah hari lahir dan wafatnya Rasulullah
Dr Ajang menambahkan Ciri umat Nabi Muhammad Saw adalah bercahayanya wajah orang sebagai bekas wudhu. Wudhu yang dilakukan dengan benar sesuai tuntunan Nabi, ganjarannya adalah diberikan kemudahan untuk membuka semua pintu surga  Dari Abdullah bin Umar radlivallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.” (HR. Ibn Hibban)
5) Salat Tahajjud    ;  Salat sunnah paling utama setelah salat fardhu adalah salat Tahajud (salat Malam), karena ia termasuk ibadah sunnah yang sangat dicintai Allah dan mengangkat derajat hamba, seperti yang disebutkan dalam hadits, “salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah shalat malam” (HR. Muslim). Ini dilakukan pada malam hari setelah bangun tidur dan merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa, seringkali ditutup dengan salat Witir.  (  Kontributor Mahfudz Efendi/Red)

You may also like

Leave a Comment