SIDOARJO.SabdaNews.com – Menggelar reses di Kecamatan Prambon dan Kecamatan Tarik Sidoarjo, Anggota DPRD Jatim Dapil II Sidoarjo Hj. Anik Maslachah disambati soal program Makan Bergizi Gratis (MBG) khususnya menyangkut pola rapel yang dinilai tidak sesuai dengan tujuannya yaitu meningkatkan gizi anak-anak usia emas.
“Disini kami melihat kebijakan rapel yang saya rasa kok gak pas ya Bu,” kata salah satu warga Prambon di acara reses yang digelar di Kantor Muslimat NU Kecamatan Prambon, Jum’at (13/2/2026).
Ibu muda ini mempertanyakan kenapa kok dibuat kebijakan itu, “Tiga hari dirapel diberi roti,, telur dan susu kotak. Kan tidak bisa diukur gizinya, termasuk apakah sesuai dengan pagu harga yang ditentukan,” lanjut ibu yang tinggal di desa Wirobiting itu
Keluhan senada juga disampaikan warga lainnya yang mempertanyakan MBG dengan pola rapel. “Ini kami disuruh ambil MBG disekolah untuk hari Jum’at, Sabtu dan Senin. Berupa roti , biskuit, buah dan susu. Kalau kami sih lebih sreg kalau berupa uang saja, jadi bisa dibuat belanja makanan yang bergizi,” ungkapnya dengan nada malu-malu.
Usulan ini mendapat dukungan dari atusan ibu-ibu yang hadir. “Setujuuuuu,” ucap yang lain kompak diiringi tawa penuh harap.
Persoalan MBG ini , tidak berhenti sampai diurusan rapel, sejumlah ibu-ibu lainnya juga mengeluhkan menu yang kesannya kurang variatif
“Kok kayaknya selalunya mie dan mie lagi,” ungkap mereka.
Sementara Abah Usman justru mempertanyakan harga MBG per anak antara yang sekolah Negeri dan sekolah MI, MTS , dan MA,
“Saya ingin bertanya apakah berdeda jatah harga satuan MBG untuk Negri, karena saya lihat di MI, MTS, dan MA. Kok menurut saya menunya kurang layak untuk disebut memenuhi gizi,” kata Abah Usman yang menjadi pengelola sebuah yayasan sekolah keagamaan.
Sorotan soal MBG juga menyasar pada perbedaan soal gaji petugas MBG dan guru atau pegawai honorer yang terkesan pilih kasih,.
“Suami saya guru honorer kerja sudah 5 tahun gajinya cuma 900 ribu, itu orang yang kerja di MBG malah UMR, ini bagiaimana Bu Anik, apakah ada solusi untuk bisa dapat gaji yang sama seperti di MBG, mohon bantuannya,” kata peserta lain yang mengaku mewakili harapan suami dan keluarganya.
Selain soal rapelan jatah MBG , warga juga mempertanyakan MBG di saat bulan Ramadhan. Mereka mempertanyakan mekanisme pemberian untuk anak-anak saat bulan Romadhan yang sebentar lagi tiba.
“Kalau diberikan seperti sekarang, terus dibawa pulang apakah tidak justru rentan menggoda anak-anak mokel (membatalkan puasanya), karena tergoda dengan makanan yang mereka bawa ?” ungkap salah satu anggota Fatayat NU.
Mereka khawatir anak-anaknya yang duduk di sekolah SMP atau SMA akan tergoda dengan makanan yang dibawa, sehingga dirasa perlu di Carikan solusi agar ini tidak justru malah jadi hal negatif untuk para murid.
Dalam reses yang dihadiri para ibu-ibu dari Muslimat, Fatayat dan perempuan PKB ini mengsusulan agar tidak menimbulkan masalah dalam pelaksanaan MBG, pemerintah benar-benar memberlakukan sekolah gratis , dan untuk pemenuhan gizi, uangnya langsung diberikan ke murid lewat rekening pribadi murid.
“Kami berharap pemerintah menerapkan sekolah gratis dengan benar, dan untuk MBG diserahkan berupa dana ke rekening murid ,” usul warga tersebut
Dia mengusulkan para orang tua nantinya membawa bekal sesuai menu yang bergizi, “Orang tua nya yang membawakan bekal sesuai ukuran gizi yang benar ke sekolah, ‘ tambahnya.
Anik Maslachah yang mendapat keluhan tersebut menegaskan bahwa MBG yang merupakan program dari Presiden Prabowo adalah bertujuan menyiapkan dana meningkatkan gizi anak-anak sekolah agar memiliki gizi yang cukup sehingga nantinya menjadi generasi yang kuat dan berdaya saing
” Ini Program yang bagus untuk gizi anak kita, agar SDM bangsa ini kuat dan otaknya encer karena gizinya bagus,” jawab Politikus PKB ini.
Terkait usulan dana keluhan yang disampaikan, mantan wakil ketua DPRD Jatim ini mengatakan bahwa yang perlu dicari adalah sumber masalah sehingga bisa berjalan sesuai yang diharapkan.
“Kan kalau ada masalah bukan merombak programnya, tapi mencari akar persoalan untuk diperbaiki. Sebagai anggota DPRD Jatim, saya menampung semua harapan itu. Nanti kita sampaikan ke Pemerintah Pusat agar dibenahi. Saya setuju dan mendukung jika memang harus ada yang perlu dibenahi. Semoga Perintah Pusat menjadikan ini sebagai evaluasi,” pungkas Anik.
Untuk diketahu sesuai peraturan pemerintah MBG bisa dirapel (diberikan sekaligus untuk beberapa hari) selama libur sekolah, umumnya berupa makanan kering atau snack (roti, susu, buah, biskuit) agar lebih praktis. Kebijakan ini merupakan penyesuaian teknis untuk memastikan gizi tetap terpenuhi meskipun siswa tidak berada di sekolah.
Badan Gizi Nasional (BGN) mengatur bahwa paket bundling atau rapel maksimal dilakukan untuk 3 hari, sesuai dengan surat edaran untuk menjaga efisiensi dan kesinambungan layanan. (pun)
