Pencinta Sejarah Dan Budaya Gresik (3 )Hayam Wuruk Dinobatkan Sebagai Raja Dengan Gelar Sri Rajasanagara

Sabdanews.com- Setelah memerintah selama 22 tahun, Ratu Tribuanatunggadewi turun tahta dan menyerahkan kekuasaan kepada putranya, Raden Tetep, setelah mengetahui bahwa putranya akan mampu memimpin kerajaan. Raden Tetep yang terkenal dengan nama Hayam Wuruk dinobatkan sebagai raja tahun 1350 dalam usia 16 tahun dengan gelar Sri Rajasanagara. Pada saat penobatannya semua menteri dan pejabat Majapahit gembira dan bersemangat, karena sang Prabu begitu rupawan, santun, dan dari lelakunya kelihatan bijaksana.

Tak terkecuali sang Patih Gadjah Mada dan Panglima Perang Empu Nala. Dalam penobatan itu Gadjah Mada menegaskan bahwa ia akan teguh dengan Sumpah Palapanya. Selama pemerintahan beliau keadaan kerajaan dan wilayah kekuasaannya aman damai dan sejahtera. Menapak usia 23 tahun sang Prabu berkeinginan memiliki permaisuri. Untuk itu ia mengirim para pelukis kerajaan untuk melukis para wanita cantik yang ada di wilayah kekuasaannya.

Selang beberapa waktu puluhan lukisan wanita ayu berjajar di ruang istana. Dengan disaksikan para pembesar kerajaan Prabu Hayam Wuruk mengamati satu persatu lukisan. Dengan mengernyit dahi tanda tak satupun lukisan menarik perhatiannya. Namun, tiba tiba perhatiannya tertuju pada satu lukisan indah. Sang Prabu lama memandanginya.

Lalu sang Prabu pun bertanya pada pelukisnya tentang lukisan wanita yang menggetarkan hatinya itu. Pelukis menjawab bahwa lukisan itu adalah sosok Dyah Pitaloka putri Prabu Lingga Buana dari Kerajaan Sunda. Segeralah baginda memerintah utusannya untuk melamar putri Dyah Pitaloka yang waktu itu berusia sekitar 19 tahun. Betapa senangnya Raja Lingga Buana mendengar lamaran itu. Ia pun bersama sang putri, permaisuri, dan para menterinya berangkat ke Majapahit.

Sesampainya di perbatasan ibu kota Majapahit Prabu Lingga Buana berhenti bersama rombongannya. Sejarah mencatat tempat itu bernama Bubat. Berangkatlah sang Prabu sendirian menemui Prabu Hayam Wuruk guna merundingkan rencana perkawinan. Hal ini menyinggung perasaan Patih Gadjah Mada dan para menterinya, karena raja Sunda tidak membawa serta putrinya untuk dipersembahkan kepada Prabu Hayam Wuruk sebagai simbol pengakuan kebesaran Majapahit.

Sedangkan Prabu Lingga Buana beralasan untuk sebuah perkawinan haruslah melewati adat tersendiri. Menghadapi masalah ini Prabu Lingga Buana kembali ke rombongannya yang ada di Bubat. Rupanya ia mau mengalah dengan mempersembahkan putrinya ke Prabu Hayam Wuruk. Namun, para menterinya menghalanginya seraya bersumpah tidak akan menuruti kemauan Majapahit dan bersiap menghadapinya.

Mengetahui hal ini Gadjah Mada beserta pasukannya mengepung pasukan Kerajaan Sunda, agar mau mengubah pikirannya. Tetap saja mereka tidak mau menyerah. Diseranglah pasukan Kerajaan Sunda. Dalam sekali serang semua prajurit Sunda tewas. Ketika Prabu Hayam Wuruk dan Gadjah Mada memeriksa hasil peperangan tidak dijumpai raja Sunda dan keluarganya. Tiba-tiba seorang prajurit Majapahit dari kejauhan melihat sosok mayat laki dan perempuan dengan pakaian kebesaran.

Setelah dilihat ternyata raja Sunda, permaisuri, dan Dyah Pitaloka mati bunuh diri. Melihat jenasah Dyah Pitaloka pujaan hatinya mati Prabu Hayam Wuruk terpukul hatinya. Dengan linangan air mata ia memeluk jenasah pujaan hatinya, membopongnya, lalu membersihkan lukanya untuk kemudian menguburkan bersama keluarganya. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1357.

Dengan wajah murung sang Prabu memerintahkan pembesar Majapahit untuk mengadakan masa berkabung selama 7 hari. Setelah setahun berlalu keluarga mengingatkan Hayam Wuruk, agar tidak terus larut dalam kepatahhatian. Untuk itu mereka menyarankan agar Hayam Wuruk mau membuka hatinya untuk gadis lain yang disukainya.

Akhirnya pilihan hatinya jatuh pada sosok Dewi Sori yang cantik dan terbilang keluarganya sendiri. Bagaimanapun juga sosok Dyah Pitaloka masih terukir dalam relung hatinya hingga sang Prabu wafat tahun 1389 dalam usia 55 tahun. (Loemaksono/ lim/ Habis )

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *