GRESIK,SabdaNews.com – Pondok Pesantren (Ponpes) Ihyaul Ulum di Desa Dukunanyar Kecamatan Dukun adalah satu diantara pondok modern di Kabupaten Gresik. Meski demikian, ponpes yang resmi berdiri sejak 1 Januari 1951 ini, tetap memiliki komitmen menjaga pola pendidikan salaf di pondok pesantren.
“Model pendidikan di pondok sama seperti yang lain. Ya, ngaji sorogan kitab kuning, pendidikan diniyah, dan Ilmu Al-Quran,” kata Gus Muhammad Ata Syifa Nugraha, Pengasuh Ponpesnok Ihyaul Ulum, Dukun, Gresik saat menemui rombongan dari PT Enesis Group, Kamis (28/9/2023).
Dengan bekal ilmu keagamaan dari pesantren ini, Gus Ata berharap bisa menjadi bekal bagi para santri ketika terjun di masyarakat nantinya. Ia pun mengingatkan perkembangan informasi yang sangat pesat menjadi tantangan bagi para santri.
“Para juru dakwah harus tahu peran masing-masing dan menyadari kehadiran di tengah umat. Karena itu, penting sekali di antara para dai, ustadz dan juru penerang Islam, agar menjaga perilaku yang bisa dicontoh masyarakat,” terang pria yang juga Ketua PC Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor NU Gresik.
Pengasuh Ngaji Rutin Kitab Idhotun Nasyi’in di kanal Youtube NUGres ini, mengatakan keberadaan media sosial (Medsos) harus bisa dimanfaatkan oleh kalangan pesantren untuk berdakwah. Di mana pun tempat, dan pemanfaatan teknologi, menjadi jalan mudah untuk memberikan pemahaman tentang Islam.
“Akan lebih baik bila di media sosial, baik di Youtube, Instagram dan Facebook, diisi para juru dakwah dari pesantren,” kata Gus Ata.
Menurutnya, jika para juru dakwah bisa saling mengisi, keberadaan media social tidak lagi menjadi tempat untuk mengumbar informasi yang tidak benar, ataupun yang tak layak untuk ditayangkan.
“Jika mereka saling mengisi, maka masyarakat Islam di Nusantara akan terpenuhi kebutuhan soal materi dakwahnya, yang berisi pesan-pesan Islam yang menyejukkan di media sosial, bukan justru akan menciptakan kegaduhan,” tuturnya.
Gus Ata juga menuturkan, pentingnya dakwah bil haal. Artinya dalam berdakwah tidak hanya dengan lisan, tapi juga diperlihatkan dengan perilaku yang nyata.
“Dulu ada suatu desa yang hampir semua warganya menganut paham tertentu. Namun hanya 1 orang dan teman-temannya yang berbeda pandangan paham keagamaan, kemudian melakukan dakwah bil haal. Alhasil, hampir semua warga di desa itu mengikuti paham orang 1 itu,” kata Gus Ata menceritakan.
Hal ini yang coba dilakukan PT Enesis Group dengan menyalurkan program corporate social responsibility (CSR)-nya ke pondok-pondok pesantren di Jawa Timur, salah satunya Ponpes Ihyaul Ulum Gresik.
“Program CSR ke Pesantren ini sudah berjalan cukup lama, yakni sejak Pandemi Covid-19 melanda Indonesia,” tutur Brand Activation Executive Enesis Group Jawa Timur, Latif Hendra Sukmana.
Ia berharap produk kesehatan plossa yang disalurkan Enesis Group dapat melindungi kesehatan para santri, dan ustadz selama beraktivitas di luar rumah atau pesantren, terutama saat menghadapi cuaca ekstrem seperti saat ini.

“Dengan cuaca seperti saat ini, masyarakat sangat rentan terserang penyakit, seperti demam, flu, batuk dan penyakit yang lain. Nah, Plossa bisa menjadi solusinya,” kata Latif.
Selain mencegah penyakit musiman, kata Latif, Plossa juga dapat digunakan sebagai alat relaksasi tubuh dan pikiran, terutama yang sering stres, kurang tidur, pegal-pegal, sakit kepala, atau yang butuh kerokan.
“Salah satu fungsi Plossa itu Pikerolin, yakni pijat, kerok, roll on, dan inhaler,” tutur Latif saat menjelaskan manfaat Plossa kepada para santri. (pun)
