SabdaNews.com – Para Komunikolog (ilmuwan & praktisi komunikasi) mengadakan dialog dengan Wakil Presiden kesepuluh dan keduabelas, Jusuf Kalla. Pertemuan berlangsung di kediaman JK, Jalan Brawijaya, Jakarta, Sabtu (14//3/2026) sekitar pukul 16.30 WIB.
Tampak hadir: Emrus Sihombing, Prof. Gun Gun Heryanto, Effendi Gazali, Suko Widodo, Prof. Lely Arrianie, Hasrullah, Prof Marlinda, Prof Soraya, dan dua Standup Komedian, Mosidik & Adriano Qalbi, serta beberapa akademisi lain.
Pertemuan berlangsung tertutup sampai jam berbuka puasa tiba. Suko Widodo, ilmuwan Unair, sebagai Koordinator Komunikolog Indonesia menyatakan mereka sama-sama kangen.
“Dulu kami sering berdiskusi dengan Pak JK. Sekarang pas bulan suci, kami komunikasi, dan langsung bisa komunikasi lagi.” ujarnya.
Suko Widodo menyatakan, Komunikolog Indonesia ini adalah peneliti dan praktisi yang sangat ingin pemerintahan kita berhasil.
“Jadi jangan diragukan soal itu. Cuma kami bingung, hampir semua kami sependapat bahwa terjadi penurunan kualitas komunikasi pemerintah yang dapat dipahami oleh rakyat. Itu harus kita perbaiki bersama, agar pemerintahan dan bangsa kita berhasil,” tambah Suko Widodo.
Gun Gun Heryanto menyatakan mereka bertemu Pak JK karena ingin mendengar pengalaman Pak JK soal perdamaian internasional.
“Kan Pak JK sudah bertemu Dubes Iran dan beberapa Pihak lainnya. Jadi kita ingin ikut dengar langsung. Di tengah rakyat harus kita akui, terdapat yang tidak setuju kita masuk BOP. Presiden Prabowo juga sudah menyatakan kalau BOP tidak sejalan dengan visi. Indonesia, maka Indonesia akan keluar. Nah kami sarankan deadline. Misalnya jika dua minggu ke depan, tidak ada kegiatan perdamaian untuk Palestina, ya kami sarankan kita keluar dari BOP,'” tutur Hensat.
Prof. Lely Ariane memberi perhatian serius pada penyiraman air keras yang berulang pada aktivis.
“Kan Prof. Yusril sendiri yang bilang bongkar sampai ke aktor intelektualnya. Jangan hanya narasi atau retorika. Teror Kepala Babi Busuk saja sampai saat ini tidak jelas pengusutannya?” tanya Prof. Lely.
Sementara itu Emrus menyatakan pemerintah perlu menuntaskan penyelewengan yang terjadi di Program Andalan Presiden soal MBG.
“Kita ingin presiden berhasil. Apalagi MBG itu program andalan. Nah kan BGN sendiri yang menyatakan ada penyimpangan dalam bentuk ternak yayasan. Nah tolong segera sebutkan yayasan mana saja yang saling beternak itu? Jangan biar rakyat menebak-nebak” tuntas Emrus.
Hasrullah menyorot banyak persoalan ekonomi yang akan kita hadapi jika perang Zionist menyerang Iran terus berlanjut.
“Pak JK memberikan visi yang luas dan dalam. Nanti akan kami pertajam dengan diskusi bersama tokoh-tokoh bangsa lainnya,” tambah Gun Gun Heryanto.
Komunikolog Indonesia berencana berdiskusi dengan Prof. Hotman Siahaan, selanjutnya mungkin jika berkenan Gus Mus.
“Suasananya santai. Makanya ada praktisi komunikasi seperti seniman standup comedian juga ikut, ada Mosidik, ada Qalbu, dll. Smoga makin banyak nantinya,” ungkap Gun Gun.
Peneliti komunikasi, Effendi Gazali menyatakan, para komunikolog sangat ingin pemerintah berhasil. Apalagi di tengah krisis geopolitik saat ini. Effendi menambahkan,” kami sangat gembira menyambut ajakan Bapak Presiden Prabowo agar tidak selalu memberi laporan ABS.
“Saya mengutip ungkapan Rocky Gerung saat bicara pada peluncuran buku Bambang Soesatyo, kalau bicara pada Bapak Presiden jangan menjadi kucing basah.” jelasnya.
Effendi secara khusus menyatakan, kami sependapat dengan Pak JK bahwa ada kemungkinan Presiden Trump sedang terkena gangguan sakit jiwa.
“Masa ketika masih berunding, para zionis menyerang Iran,” ungkapnya.
Lalu lihat apa kalimat Presiden Trump tentang Tim Iran di Piala Dunia? Tim Iran silahkan ikut Piala Dunia, tapi Trump merasa Iran tidak pantas berada di Pialla Dunia, demi keselamatan dan nyawa mereka.
Komunikasi macam apa ini?” pungkas Effendi. Jadi kita harus berani mengusulkan pada Presiden kita untuk jaga jarak aman dari Presiden Trump.
Komunikolog Indonesia sepakat mereka akan tetap kritis dan mendukung agar pemerintah di bawah Presiden Prabowo bisa berhasil.
Pak JK menyatakan,” Komunikasi pemerintahan yang buruk bisa terjadi karena struktur pemerintahan yang terlalu besar, dan terdapat program-program yang baik namun belum terlalu penting. Akhirnya ya sulit, walaupun dikomunikasikan, ya suliit dirasakan dan dipahami rakyat.” dalihnya. (pun)
