Home KESRADitengah Keragaman Dan Potensi Komplik, Penguatan Noderasi Beragam Terus Didorong

Ditengah Keragaman Dan Potensi Komplik, Penguatan Noderasi Beragam Terus Didorong

by sabda news

LAMONGAN,SabdaNews.com — Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan, Khoirul Anam, menegaskan pentingnya penguatan moderasi beragama sebagai upaya menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk. Hal tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan Pelatihan Penggerak Penguatan Moderasi Beragama di wilayah kerja Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan, Selasa (10/3/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Balai Diklat Keagamaan Surabaya tersebut diikuti oleh para peserta yang diharapkan mampu menjadi agen moderasi beragama di lingkungan masing-masing. Dalam sambutannya, Muhlisin menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan salah satu program strategis Kementerian Agama yang harus terus diperkuat melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan.

Moderasi beragama adalah salah satu program penting Kementerian Agama. Karena Indonesia ini sangat beragam, baik dari sisi agama, suku, maupun budaya. Keragaman ini adalah kekuatan besar, tetapi jika tidak dikelola dengan baik juga bisa menjadi potensi konflik,” ujarnya.

Menurutnya, moderasi beragama tidak hanya diajarkan dalam satu kegiatan tertentu, tetapi terus diintegrasikan dalam berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama, termasuk pelatihan bagi guru, penyuluh, maupun tokoh masyarakat. Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan pandangan keagamaan yang muncul di masyarakat sering kali memicu perdebatan yang tidak perlu, terutama di era media sosial saat ini. Muhlisin mencontohkan perbedaan dalam penentuan awal Ramadan atau hari raya yang kerap memunculkan perdebatan di ruang publik.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk menyikapi perbedaan dengan bijak dan tidak menjadikannya sebagai sumber perpecahan.  “Perbedaan itu hal yang wajar. Yang penting jangan sampai perbedaan itu membuat kita saling menyalahkan, apalagi sampai menimbulkan konflik,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Muhlisin juga menyinggung berbagai konflik global yang seringkali dikaitkan dengan isu agama. Padahal, menurutnya, banyak konflik yang sebenarnya lebih berkaitan dengan kepentingan politik dan kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa ajaran Islam menekankan nilai kemanusiaan dan perdamaian. Mengutip pesan Al-Qur’an, ia menyebut bahwa membunuh satu manusia seakan sama dengan membunuh seluruh umat manusia. Lebih lanjut, Muhlisin mencontohkan sikap moderat yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa dakwah di Thaif. Saat itu, meskipun Nabi mengalami penolakan bahkan kekerasan dari penduduk setempat, beliau tidak membalas dengan kekerasan.

“Rasulullah tidak membalas dengan kemarahan. Beliau justru berharap suatu saat akan lahir generasi dari mereka yang beriman kepada Allah. Ini adalah contoh nyata sikap moderasi dan kasih sayang dalam dakwah,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa tugas manusia dalam menyampaikan ajaran agama adalah berdakwah dengan cara yang baik, sedangkan hidayah sepenuhnya merupakan hak Allah.

Melalui pelatihan ini, Muhlisin berharap para peserta dapat menjadi penggerak moderasi beragama di tengah masyarakat.  Mudah-mudahan setelah mengikuti pelatihan ini, Bapak dan Ibu bisa menjadi agen moderasi beragama di lingkungan masing-masing. Kita ingin masyarakat yang rukun, saling menghargai, dan mampu hidup berdampingan dalam perbedaan,” ujarnya.

Kegiatan pelatihan ini merupakan bagian dari upaya Balai Diklat Keagamaan Surabaya dalam memperkuat pemahaman dan praktik moderasi beragama di tingkat daerah, khususnya di wilayah kerja Kementerian Agama Kabupaten Lamongan. Dengan penguatan peran para penggerak moderasi beragama, diharapkan nilai-nilai toleransi, kebersamaan, dan kerukunan dapat semakin mengakar di tengah masyarakat Indonesia yang beragam. (Red)

You may also like

Leave a Comment