SabdaNews.com – Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Deni Prasetya, menegaskan pentingnya menjaga ketahanan pangan Jawa Timur pada tahun 2026. Khususnya dalam mempertahankan capaian produksi beras yang pada 2025 tercatat surplus hingga beberapa juta ton.
“Jawa Timur di tahun 2026 ini dengan harapan paling tidak bisa mempertahankan hasil dari capaian-capaian produksi pangan yang di tahun 2025 kemarin. Utamanya terkait dengan hasil dari produksi beras yang menjadi surplus,” ujar Deni Prasetyo Selasa (27/1/2026).
Politikus Partai NasDem itu menilai, tantangan utama sektor pertanian ke depan adalah pertumbuhcan jumlah penduduk yang tidak sebanding dengan ketersediaan lahan pertanian. Deni menyebut penyusutan lahan baku pertanian sudah terjadi dalam dua dekade terakhir.
“Di tahun 2026 paling tidak dengan bertambahnya jumlah penduduk, secara otomatis dengan luasan lahan baku itu pun juga berkurang. Di tahun kemarin kurang lebih 2025, itu kurang lebih seribu hektar lebih luasan lahan yang berkurang,” katanya.
Karena itu, Deni menyebut, target minimal yang harus dijaga pada 2026 adalah mempertahankan nilai produksi pertanian. Tentunya hal ini juga harus dibarengi terobosan-terobosan strategis, terutama yang menyasar petani muda dan petani milenial.
“Dalam hal ini berpikir bagaimana di tahun 2026 nilai produksi itu minimal bertahan. Nah, dalam hal ini juga perlu terobosan-terobosan yang hari ini perlu kita pikir bersama terkait dengan petani muda dan petani milenial,” harapnya.
Menurutnya, modernisasi alat dan teknologi pertanian menjadi kunci utama untuk menjaga produktivitas. Pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan), digitalisasi, hingga penggunaan drone dinilai sudah menjadi kebutuhan.
“Intinya memodernisasi terkait dengan untuk mengolah tanah, lahan, setelah itu perawatan, drone untuk bisa dimanfaatkan untuk pemupukan terkait dengan cair setelah itu panenan,” kata pria asal Jember ini.
Ia juga menekankan pentingnya percepatan proses tanam dan panen melalui teknologi modern. “Panenan ini kalau penanaman ada yang namanya transplater, kalau panenan itu yang namanya combine modernisasi percepatan,” lanjut Deni.
Modernisasi pertanian tersebut diarahkan untuk menarik minat generasi muda agar ikut terjun ke sektor pertanian. Karenanya, Deni mendorong pemerintah provinsi agar berupaya menarik minat para pemuda terjun ke sektor pertanian.
“Karena yang melek terkait dengan modernisasi peralatan, mengarah kepada digital, itu kan hari ini teman-teman pemuda, milenial, yang banyak paham terkait dengan digitalisasi tersebut,” dalihnya.
Ditambahkam Deni, regenerasi petani menjadi isu krusial mengingat sebagian besar petani saat ini berusia di atas 45 tahun. “Kita tahu bahwasannya terkait potensi petani petani ini kan juga hari ini petani muda, petani milenial ini kan minim paling usia petani tersebut di 45 tahun ke atas,” ujarnya.
Deni mengapresiasi langkah pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan) yang memperkuat sektor pertanian melalui pembangunan infrastruktur, penyediaan benih unggul, hingga modernisasi alat produksi.
“Terobosan-terobosan baru yang digencarkan hari ini terutama dari pemerintah pusat, Pak Mentan yang sudah melakukan terobosan-terobosan seperti jalur infrastruktur mengarah kepada pertanian,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas pemerintahan, mulai dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota hingga desa dan kelurahan. “Nah, hari ini bagaimana kita berpikir ada sinergi juga baik dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, bahkan sampai di pemerintah yang paling di akar, desa dan kelurahan,” papar Deni.
Selain itu, ia juga mendorong pemetaan potensi pertanian di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Hal ini mengingat karakteristik wilayah di setiap daerah yang berbeda-beda.
“Di Jawa Timur ada 38 kabupaten/kota, mana kira-kira potensi dunia pertanian, dunia perkebunan atau yang perlu dimodernisasi terkait dengan sasaran-sasaran di 38 kabupaten/kota,” jelasnya.
Pada sisi lain, Deni juga menyoroti pentingnya kelompok tani sebagai syarat utama untuk mengakses berbagai program bantuan pemerintah.
“Banyak petani yang masih bertanya, masih belum masuk kelompok tani, Calon Petani Calon Lokasi (CPCL). Itu kan harus menunjukkan di kelompok tani, kelompok taninya itu yang ter-database di dinas pertanian setempat,” tegasnya.
PIhaknya juga turut mengusulkan pembentukan kelompok tani khusus petani muda dan milenial, termasuk pengembangan pertanian di wilayah perkotaan. “Arahnya di perkotaan bisa bertani, tapi dengan cara lain. Misalkan hidroponik, atau tanam padi di kolam,” kata Deni.
Ia mencontohkan daerah seperti Ngawi dan Tuban yang mampu mencatat produktivitas tinggi berkat dukungan infrastruktur dan teknologi pertanian.
“Kalau lahan hamparan, lahan baku, lahan tanam mungkin 1 hektare bisa mendapat 8 ton, bahkan kalau adanya penunjang perairan, penunjang infrastruktur, penunjang peralatan itu bisa sampai di atas 10 ton,” ungkapnya.
Sebagai strategi jangka panjang, Deni menekankan pentingnya kerja sama dengan perguruan tinggi untuk mendorong regenerasi petani di Jawa Timur.
“Ini yang perlu juga kita sosialisasikan, ada kerjasama dengan universitas-universitas setempat. Misalkan di Malang, Jember, Surabaya, yang itu juga perlu di-riset untuk jangka panjang, ada regenerasi petani di Jawa Timur,” pungkasnya.
