SabdaNews.com – Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur, Agus Black Hoe menyoroti kesulitan yang dihadapi generasi milenial dan Gen Z dalam memiliki hunian di tengah tingginya harga properti saat ini.
Sebagian besar generasi muda, kata Agus terutama yang baru memasuki dunia kerja atau yang sudah berkeluarga, keinginan memiliki rumah pribadi di wilayah perkotaan seperti Kota Surabaya tidaklah mudah untuk diwujudkan.
Namun di era pemerintahan baru Prabowo Subianto menawarkan harapan untuk mewujudkan hunian terjangkau bagi kalangan milenial dan Gen Z. Sebagai wakil rakyat, ia berkomitmen untuk memperjuangkan program hunian terjangkau ini agar selaras dengan tata ruang serta tidak mengganggu rencana tata ruang industri di Jatim.
Politikus asal PDI Perjuangan tersebut menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama dalam program hunian terjangkau bagi milenial adalah sinkronisasi antara kebijakan pusat dan daerah. Mengingat banyak program perumahan yang sering kali tidak sinkron dengan tata kelola ruang di daerah.
“Program hunian yang ditawarkan pemerintah pusat harus selaras dengan kebijakan di tingkat daerah. Ini penting agar tidak terjadi benturan dengan rencana tata kelola lainnya yang sudah ada, sehingga efektif tanpa menabrak aturan tata ruang dan tata wilayah,” beber Agus Black Hoe, Sabtu (26/10/2024).
Bagi Agus, salah satu upaya yang perlu diperhatikan adalah memastikan tata ruang untuk kawasan perumahan tidak mengganggu kawasan industri. Jawa Timur sebagai salah satu provinsi dengan kawasan industri yang cukup luas tentu memerlukan pembagian ruang yang jelas agar pembangunan perumahan tidak mengurangi ruang yang disediakan untuk kegiatan ekonomi dan industri.
“Saya akan memperjuangkan agar hunian bagi milenial tetap sesuai dengan tata ruang yang ada, tanpa mengorbankan area industri yang penting bagi perekonomian daerah,” tegasnya.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase kepemilikan rumah di kalangan milenial terus menurun seiring dengan meningkatnya harga properti. Milenial yang ingin memiliki hunian sendiri sering kali terbentur dengan kenaikan harga yang jauh lebih cepat dibandingkan peningkatan pendapatan mereka.
Kondisi ini diperparah dengan tingginya biaya hidup di perkotaan yang mempersulit generasi muda dalam menyisihkan pendapatan mereka untuk membeli rumah. Agus Black Hoe menyadari bahwa kondisi ini adalah cerminan dinamika sosial dan ekonomi yang dialami oleh generasi muda saat ini.
“Milenial dan Gen Z sering kesulitan dalam mengelola kebutuhan pokok dan keinginan mereka. Kebutuhan pokok sering kali diminimalkan, sementara keinginan lebih ditonjolkan,” tegas Agus.
“Mulai dari sekarang, penting bagi milenial untuk belajar memprioritaskan kebutuhan pokok dibandingkan keinginan. Manajemen antara pendapatan dan pengeluaran harus dikelola dengan baik,” imbuhnya.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, Agus juga menyarankan adanya program literasi keuangan yang ditujukan bagi milenial dan Gen Z. Literasi keuangan yang memadai akan membantu mereka memahami pentingnya menabung dan mengelola pendapatan dengan bijaksana.
Menurut pria asal Ngawi, pemerintah daerah bisa bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengadakan program literasi keuangan yang diharapkan dapat meningkatkan pemahaman generasi muda tentang pentingnya pengelolaan keuangan.
“Jika milenial memiliki pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan, mereka akan lebih mudah mengatur keuangan untuk mempersiapkan diri memiliki hunian,” pungkasnya. (pun)
