Opini Publik
Oleh : Muchammad Toha
SabdaNews.com-Sebelum saya berdiri di podium untuk berbicara pada acara peringatan isro’ mi’roj seorang tokoh agama yang berada di samping saya bercerita sambil berbisik pada saya, “ini masjid kita sendiri yang baru dan sekarang kita sudah aman untuk melaksanakan ibadah”, mendapat cerita ini saya malah bertanya dulunya kenapa kok tidak aman dan akhirnya saya mendapat kisah yang cukup detail dan gamblang dari tokoh agama yang juga seorang pendatang di desa itu.
Ternyata sesuai kisah yang saya terima, dahulu di desa itu hanya ada satu masjid yang digunakan untuk ibadah semua warga desa baik untuk solat lima waktu atau kegiatan-kegiatan yang lain, seperti tahlilan, diba’an, marhabanan, solawatan dan berbagai acara selametan, dalam berkembangannya terjadi gesekan-gesekan yang mempermasalahkan tentang cara ibadah dengan tradisinya itu, mulai jumlah rokaat tarawih, wiridan setelah sholat serta kegiatan-kegiatan yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran dan syariat Islam.
Puncak gesekan itu terjadi di tahun 1980-an saat pelaksanaan sholat hari raya idul fitri, terjadilah silang pendapat yang mengarah pada kekerasan fisik sehingga melibatkan aparat kepolisian pada waktu itu, inti permasalahan yang menyulut konflik adalah perbedaan sikap dua pihak ketika melaksanakan ibadah sholat idul fitri, disatu pihak menghendaki sholat dilakukan di lapangan sedangkan pihak yang lain menghendaki solat dilaksanakan di masjid apalagi pada waktu itu dalam kondisi hujan, begitu keras perbedaan itu sehingga tidak ada lagi ruang untuk musyawarah atau diskusi dan pada akhirnya aparat kepolisian sampai turun tangan.
Singkat cerita akhirnya bagi masyarakat yang menghendaki untuk melaksanakan sholat idul fitri tetap dilaksanakan dalam masjid harus mengalah dan dalam berjalannya waktu membangun masjid sendiri sehingg sekarang di desa itu berdiri dua bangunan masjid dengan pelaksanaan dan tata ibadahnya sendiri-sendiri, sehingga masjid yang baru digunakan untuk melaksanakan ibadah sholat dan aneka tradisi bernuansa keagamaan yang telah berlangsung ratusan tahun yang lalu sedangkan masjid yang lama digunakan masyarakat untuk ibadah sholat tanpa melaksanakan tradisi keagamaan yang telah berlangsung ratusan tahun.
Dari fenomena diatas ternyata tidak ada jaminan ketika pilihan sama dalam berkeyakinan dan bertuhan masyarakat akan hidup damai bersama, maka ini barangkali ada komunitas yang mengatakan bahwa dirinya tidak menganut agama tertentu tapi mengklaim sebagai spiritualis, kalangan spiritualis mempercayai bahwa Sang Maha Pencipta ada dan mengatur serta menghidupi mahluk ciptaannya dengan penuh kasih sayang (rahman rahim), namun sebaliknya dalam kenyataan di masyarakat ketika seseorang memeluk agama tertentu malah yang terjadi sebaliknya yakni terbangun disharmoni diantara masyarakat bahkan sekalipun agama yang dipeluknya sama.
Padahal jika disadari, eloknya ketika beragama justru akan lahir kehidupan yang semakin baik dan rukun serta kasih sayang pada sesama, aneka ras etnik yang memiliki berbagai perbedaan seperti warna kulit, bahasa, bentuk rambut dan ukuran tubuh akan menjadi saudara karena ikatan kesamaan agama, namun dalam fakta lain yang tidak jarang terjadi, seseorang yang awalnya rukun-rukun saja karena berasal dari etnis yang sama, darah yang sama bahkan rahim kandungan yang sama malah harus terputus persaudaraanya ketika agama yang dipeluknya berbeda, tentunya logika seperti inilah yang menjadi salah satu dasar kalangan yang menyatakan diri penganut spiritualis dan tidak mau masuk menjadi umat agama tertentu.
Maka tidak jarang ditemui adanya gerakan kebatinan yang dalam kalimat-kalimatnya yang sering disampaikan pada pengikutnya bahwa ajaran ini untuk semua agama alias tidak mempermalahkan agama yang dipeluk oleh pengikutnya karena ketika seseorang masuk menjadi anggota yang diutamakan bagaimana hidup rukun damai membangun kasih sayang pada sesama dan menghayati tentang adanya Sang Pencipta Alam yang diwujudkan dalam rasa dan terbukanya rahasia kehidupan bersama.
Hal ini pula yang biasanya digunakan kalangan kebatinan untuk memperkuat keyakinan mengikutnya, dengan ungkapan, “bagaimana mereka akan membangun damai, sementara dengan kelompoknya sendiri yang seiman saja terus-menerus menghujat dan menyalahkan”. Apalagi dengan kelompok lain yang berbeda dalam keimanan. Namun harus dimaklumi karena penilaian mereka dari luar, padahal terdapat keluhuran kisah bahwa paman nabi ada yang berbeda agama sampai akhir hayatnya dengan nabi tapi sangat membantu perjuangan nabi, artinya hubungan darah itu sangat kuat walaupun agamanya berbeda. ( Penulis : Muchmad Toha, Kepala Balai Diklat Keagamaan Surabaya, Budayawan menetap di Gresik/Red)
