JOMBANG.SabdaNews.com – Di tengah riuhnya Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, ada pemandangan sederhana yang mungkin luput dari perhatian. Para muktamirin dengan mudah menemukan transportasi gratis yang disiapkan untuk mengantar mereka dari tempat penginapan menuju lokasi sidang-sidang pleno.
Ada dua moda transportasi yang melayani para peserta muktamar, yakni mobil golf dan becak listrik. Namun, di balik kemudahan itu, ada kisah perjuangan seorang pengemudi becak listrik yang begitu menyentuh hati. Namanya Pak Waris, usianya 54 tahun.
Sudah empat tahun pria murah senyum ini menjalani hidup tanpa seorang istri di sisinya. Sang istri telah berpulang, meninggalkan Pak Waris bersama dua putranya. Anak pertama kini sudah bekerja, sementara putra keduanya masih duduk di kelas 11 SMK di Jombang.
Sebelum menjadi pengemudi becak listrik di arena Muktamar NU, Pak Waris bekerja sebagai kuli bangunan. Pekerjaan itu tidak selalu ada setiap hari. Ketika ada panggilan, ia bekerja. Sebaliknya jika tidak ada pekerjaan, ia harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan keluarganya.
Kesempatan kemudian datang ketika sejumlah temannya mengajak Pak Waris ikut menarik becak listrik selama pelaksanaan Muktamar NU 2026. Ia pun menerima ajakan tersebut. Tujuannya bukan sekadar untuk mendapatkan penghasilan selama muktamar, tetapi karena ada sebuah harapan yang jauh lebih besar.
Pak Waris mengetahui bahwa setelah seluruh rangkaian muktamar rampung, becak listrik yang ia gunakan akan menjadi miliknya. Sebuah kendaraan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi seorang ayah seperti Pak Waris, becak itu adalah simbol kesempatan dan harapan baru untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik..
Sebagaimana diketahui bersama, becak-becak listrik tersebut merupakan bantuan Presiden Prabowo Subianto sebanyak 200 unit. Dan bagi Pak Waris, satu unit becak itu kelak bukan hanya sebuah alat untuk mencari nafkah. Namun bisa jadi, itulah modal kecil yang akan membantu membiayai kebutuhan keluarganya, termasuk menyekolahkan putranya hingga menyelesaikan pendidikan.
Di balik kemeriahan Muktamar NU, kisah Pak Waris mengingatkan kita bahwa sebuah gawe besar tidak hanya berbicara tentang sidang, keputusan, dan kontestasi para tokoh. Ada orang-orang sederhana yang bekerja dengan penuh harapan. Dan bagi Pak Waris, mungkin hari-hari di Muktamar ke-35 NU ini bukan sekadar tentang mengantar muktamirin, tetapi tentang mengantar dirinya dan kedua anaknya menuju masa depan yang lebih baik. (mcn)
