GRESIK, SabdaNews.com- Jalan Nasional Pantura Daendels Gresik mendadak berubah menjadi lautan manusia saat Sembayat Bambu Carnival digelar untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026) malam. Puluhan ribu warga memadati ruas jalan tersebut untuk menyaksikan kemeriahan karnaval dua tahunan yang menampilkan puluhan miniatur dan ornamen raksasa hasil kreativitas warga Desa Sembayat, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.
Sorot lampu hias warna-warni yang menghiasi langit, dentuman sound horeg, serta parade berbagai miniatur membuat suasana semakin semarak. Warga bahkan rela duduk lesehan di pinggir jalan hingga Selasa (18/8/2026) dini hari demi menyaksikan seluruh rangkaian karnaval. Karnaval berlangsung sekitar tujuh jam, mulai pukul 18.30 WIB hingga 00.45 WIB. Antusiasme warga terlihat dari padatnya sepanjang jalur yang menjadi lokasi arak-arakan.
Berbagai kreasi ditampilkan peserta. Mulai burung rajawali, burung cenderawasih, orangutan, nyamuk raksasa, sapi, kerbau, buaya, hingga beragam patung karakter antagonis. Tak hanya mengangkat tema flora dan fauna, peserta juga menghadirkan kreasi bertema Suku Asmat, Dayak hingga Raja Prabu Siliwangi. Menariknya, berbagai ornamen tersebut dibuat dengan detail dan dilengkapi berbagai mekanisme sehingga terlihat seolah-olah hidup saat diarak sepanjang sekitar dua kilometer.
Kemegahan Sembayat Bambu Carnival ternyata lahir dari gotong royong warga. Sebanyak 23 Rukun Tetangga (RT) di Desa Sembayat terlibat dalam pembuatan berbagai miniatur dan ornamen yang ditampilkan. Setiap RT membuat satu ornamen dengan biaya yang tidak sedikit. Kepala Desa Sembayat, Amin, menyebut anggaran pembuatan setiap ornamen berkisar Rp35 juta hingga Rp40 juta. “Per RT itu kurang lebih Rp35 juta sampai Rp40 juta. Semuanya hasil urunan warga,” kata Amin.
Menurutnya, dana tersebut dikumpulkan warga selama sekitar tiga bulan sebelum pelaksanaan karnaval. Jika ditotal dengan seluruh ornamen, sound horeg dan berbagai kebutuhan pendukung lainnya, biaya yang dikeluarkan untuk Sembayat Bambu Carnival tahun ini mencapai lebih dari Rp1 miliar. “Totalnya lebih dari Rp1 miliar. Ini hasil urunan masyarakat yang dikumpulkan selama kurang lebih tiga bulan,” ujarnya.
Besarnya biaya yang dikeluarkan tidak menyurutkan semangat warga. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, masyarakat Desa Sembayat tetap rela merogoh kocek untuk mempertahankan tradisi sekaligus menyemarakkan peringatan kemerdekaan. Meski hadiah yang diperebutkan tidak sebanding dengan biaya pembuatan ornamen, antusiasme peserta tetap tinggi. Bagi warga Sembayat, karnaval tersebut bukan semata-mata tentang hadiah. Sembayat Bambu Carnival telah menjadi tradisi yang terus dipertahankan secara turun-temurun.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi warga dari berbagai RT untuk berkumpul dan bergotong royong menciptakan karya yang kemudian dinikmati masyarakat luas. Sementara itu, padatnya masyarakat yang memadati Jalan Nasional Pantura Daendels telah diantisipasi panitia. Sebelum pelaksanaan, panitia mengurus izin keramaian serta menyampaikan pemberitahuan kepada masyarakat melalui media sosial. Pengguna Jalan Nasional Pantura Daendels yang melintas di kawasan Sembayat juga diarahkan menggunakan jalur alternatif Pantura Lamongan untuk mengantisipasi kepadatan arus lalu lintas.
Namun, bagi warga yang datang khusus menyaksikan karnaval, kemacetan dan lamanya menunggu bukan menjadi persoalan. Mereka justru rela bertahan berjam-jam demi menyaksikan satu per satu miniatur raksasa karya warga Sembayat yang melintas dalam parade. Sembayat Bambu Carnival pun kembali menjadi pesta rakyat yang bukan hanya meriah secara visual, tetapi juga memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat dalam menjaga tradisi dan merayakan kemerdekaan.(lim/Red)
