Home RELIGIKAPETE Lamongan Gelar Musycab, Teguhkan Tradisi Silaturahmi dan Teladan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari

KAPETE Lamongan Gelar Musycab, Teguhkan Tradisi Silaturahmi dan Teladan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari

by sabda news

LAMONGAN,SabdaNews.com – Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE) Cabang Lamongan menggelar istighosah, pengajian rutin kitab Al-Tibyan serta Musyawarah Cabang (Musycab) pada Sabtu (25/7/2026).  egiatan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban itu menjadi momentum penting bagi konsolidasi alumni sekaligus penguatan tradisi keilmuan dan silaturahmi.   Kegiatan tersebut tidak hanya dihadiri oleh anggota IKAPETE Lamongan. Sejumlah pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Latukan serta para guru di lingkungan Yayasan Pondok Pesantren Babussalam Latukan Karanggeneng turut hadir dan mengikuti rangkaian acara.

Pengasuh Pondok Pesantren Babussalam sekaligus tuan rumah kegiatan, Gus Khoirul Wafa, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran seluruh peserta. Ia secara khusus menyambut kehadiran Gus Fahmi Amrullah, yang hadir untuk memimpin istighosah sekaligus memberikan pengajian.  “Semoga kita tetap dianggap sebagai santri Mbah Hasyim,” ungkap Gus Khoirul Wafa dalam sambutannya.   Ia juga memohon kepada Gus Fahmi agar berkenan memberikan ijazah amalan istighosah yang diamalkan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari untuk diamalkan oleh para peserta.  Delapan Kali Pengajian Rutin
Ketua PC IKAPETE Lamongan, Ustadz R. Zainul Mushthofa, dalam sambutannya, menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepengurusan selama empat tahun terakhir.

Menurutnya, salah satu program yang terus dijaga adalah pengajian rutin yang diselenggarakan dua kali dalam setiap tahun. Hingga kegiatan tersebut digelar, pengajian rutin IKAPETE Lamongan telah memasuki pertemuan yang ke-8.  “Selain pengajian rutin, PC IKAPETE Lamongan juga telah melaksanakan berbagai kegiatan lainnya, termasuk menjadi tuan rumah Halalbihalal PW IKAPETE Jawa Timur di Pondok Pesantren Sunan Drajat,” jelasnya.

Kegiatan halalbihalal PW IKAPETE Jawa Timur di Sunan Drajat pada April 2026 sebelumnya juga menjadi forum yang mengangkat isu kemandirian ekonomi santri dan penguatan jejaring alumni pesantren. Forum tersebut memperlihatkan semakin luasnya peran IKAPETE sebagai wadah silaturahmi, konsolidasi, dan pengabdian alumni pesantren.  Apresiasi PW IKAPETE Jawa Timur
Ketua PW IKAPETE Jawa Timur, KH Roisuddin Bakri, mengapresiasi kiprah PC IKAPETE Lamongan yang dinilai mampu menjalankan roda organisasi dengan baik.

Ia menyebut PC IKAPETE Lamongan sebagai salah satu cabang yang aktif menghidupkan kegiatan organisasi dan menjadi PC pertama yang menyelenggarakan Musyawarah Cabang.  “Organisasi akan kuat apabila kegiatan berjalan dan kader-kadernya terus bersilaturahmi,” demikian pesan yang disampaikan dalam forum tersebut. Bagi IKAPETE, penguatan organisasi tidak hanya berkaitan dengan aspek administratif, tetapi juga bagaimana alumni tetap terhubung dengan tradisi keilmuan dan nilai-nilai yang diwariskan Pesantren Tebuireng serta Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Dalam berbagai forum IKAPETE Jawa Timur, penguatan jaringan alumni dan kesinambungan nilai keislaman, sosial, pendidikan, serta kemandirian ekonomi menjadi bagian penting dari agenda organisasi.  Istighosah dan Kisah Keberkahan.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan istighosah. Sebelum memulai amalan, Gus Fahmi Amrullah menyampaikan sejumlah kisah tentang keistimewaan istighosah yang diamalkan oleh para muhibbin dan santri.  Salah satu kisah yang disampaikan adalah pengalaman KH Zawawi, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Quran Banyubang Lamongan, Pada awal perkembangan pesantren, kebutuhan air menjadi salah satu persoalan yang cukup berat. Namun, setelah mengamalkan istighosah Mbah Hasyim, pesantren tersebut kemudian menemukan sumber air yang melimpah.  Sumber air tersebut bahkan berkembang menjadi salah satu ikhtiar ekonomi pesantren melalui usaha air isi ulang DaQu.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa amalan keagamaan tidak hanya dimaknai sebagai ritual, tetapi juga sebagai sarana membangun optimisme, keteguhan, dan ikhtiar dalam menghadapi persoalan kehidupan.
Setelah istighosah, acara dilanjutkan dengan pemberian ijazah istighosah kepada para peserta.  Dalam pengajian kitab Al-Tibyān, Gus Fahmi Amrullah menyampaikan pesan tentang pentingnya kasih sayang dan silaturahmi.

Menurutnya, kualitas seseorang tidak semata-mata dilihat dari ibadah ritualnya, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu menghadirkan kasih sayang dan kebaikan bagi orang lain.  “Orang baik tidak hanya dilihat dari salatnya, tetapi juga dari kasih sayangnya,” pesan Gus Fahmi.  Ia juga menekankan pentingnya menjaga silaturahmi. Menurutnya, silaturahmi dapat memperpanjang usia, salah satunya karena hubungan sosial yang baik dapat membuat seseorang menjalani kehidupan dengan lebih bahagia.  Ia mencontohkan pengalaman masyarakat ketika menghadapi pandemi Covid-19. Dalam situasi sulit, hati yang senang dan hubungan sosial yang baik menjadi salah satu faktor yang membantu seseorang menghadapi tekanan kehidupan.  “Zaman Corona, hati senang itu menambah imun,” ujarnya.

Belajar dari Keteladanan Mbah Hasyim   Gus Fahmi juga mengisahkan keteladanan KH Hasyim Asy’ari dalam menyikapi perbedaan. Ia mencontohkan hubungan Mbah Hasyim dengan KH Faqih Maskumambang Dukun Gresik, yang tetap dilandasi sikap saling menghormati meskipun terdapat perbedaan pandangan dalam sejumlah persoalan, termasuk mengenai penggunaan kentongan.  Menurutnya, perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan atau memutus silaturahmi.  “Perbedaan itu ada, tetapi tetap saling menghormati. Inilah yang harus kita contoh,” pesannya.

Pesan tersebut dinilai relevan dengan dinamika organisasi, termasuk dalam proses pemilihan kepemimpinan. Ia mengingatkan agar proses pemilihan tidak berubah menjadi ajang saling berebut jabatan.  “Kalau sesuatu masih menjadi rebutan, biasanya itu urusan dunia. Tetapi kalau menjadi ketua ranting tidak ada yang mau, berarti itu urusan akhirat,” ungkapnya.

Kembali kepada Qanun Asasi  Dalam konteks organisasi, Gus Fahmi mengingatkan pentingnya kembali kepada Qanun Asasi, yakni prinsip-prinsip dasar yang menjadi fondasi perjuangan organisasi.  Ia mengingatkan agar proses pemilihan kepemimpinan dilakukan secara jujur, terbuka, dan sesuai aturan. Ketentuan organisasi tidak boleh disiasati hanya demi kepentingan kelompok atau kandidat tertentu.
“Jangan aturan dibuat untuk mengakali proses pemilihan. Semuanya harus kembali kepada Qanun Asasi,” pesannya.

Ia juga menegaskan bahwa pejabat yang memiliki posisi tertentu dalam organisasi hendaknya tidak serta-merta dicalonkan sebagai ketua apabila aturan organisasi mengatur pembatasan tersebut.  Pesan tersebut menjadi penting di tengah proses konsolidasi organisasi. Menurutnya, kepemimpinan dalam tradisi pesantren bukanlah sekadar posisi yang diperebutkan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Silaturahmi sebagai Jalan Kebaikan  Menutup pengajiannya, Gus Fahmi mengutip… (Hoo/Red)

You may also like

Leave a Comment