PIDIE,SabdaNews.com– Komunitas Pena Da’i Nusantara (PDN) kembali menggelar Dialog PENA Batch 33 dengan tema “Ziarah Makam Ulama sebagai Gerakan Ekoteologi” secara daring melalui Zoom Meeting dan siaran langsung YouTube PDN, Selasa (9/6/2026). Kegiatan yang diikuti para Penyuluh Agama Islam, Duta Literasi Nasional, pegiat literasi dakwah, akademisi, tokoh masyarakat, serta anggota Pena Da’i Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia ini menghadirkan Dr. H. Jamaluddin M. Marki, Lc., M.Si., Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI sebagai keynote speaker.
Materi utama disampaikan oleh Tgk. Azmi Abubakar, Lc., M.H., Penyuluh Agama Islam Kabupaten Pidie, Aceh, dengan pengarah Junaidi Surya, Ketua Komisi Informasi Aceh. Hadir pula sebagai pemantik diskusi Dr. Jamaluddin M. Marki , Kasubdit Penyuluh Agama Islam Bimas Islam, sementara jalannya kegiatan dipandu oleh Mustika Septi Handini, S.Sy., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Selain peserta umum dari berbagai provinsi, kegiatan ini juga dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua Komisi Informasi Aceh Junaidi Surya, Ketua FKPAI Aceh Tgk. Amiruddin, S.H.I., akademisi dan aktivis lingkungan Dara Adilla, M.Si., Keuchik Gampong Meunasah Masjid Aree Tgk. Roni, Ketua ISNU Pidie Tgk. Nanda Saputra, M.Pd., pegiat sejarah dan budaya Tgk. Amarullah dari Komunitas Beulangong Tanoh, Ketua PD IPARI Pidie Jaya Tgk. Sabda, pegiat literasi desa sekaligus Penyuluh Agama Islam Aceh Besar Tgk. Baihaqi, Ketua PD IPARI Aceh Tenggara Ustaz Ilham Sujefri, Lc., Ketua Litbang Dayah Jeumala Amal Tgk. Mishbahul Munir, S.Hum., M.Pd., Kasi Bimas Islam Kemenag Pidie Tgk. Isafuddin, M.H., serta Tgk. Sulaiman, M.H. dari IPARI Kota Banda Aceh dan Komunitas Vespa dan Ngaji Jalanan.
Dalam sambutannya, Junaidi Surya menegaskan bahwa literasi, inovasi, dan diseminasi informasi merupakan kunci penting dalam membangun peradaban. Menurutnya, setiap gagasan dan inovasi, sekecil apa pun, perlu mendapatkan apresiasi karena dapat menjadi pemicu perubahan positif di tengah masyarakat. Ia juga menyoroti pentingnya keterbukaan informasi publik sebagai bagian dari amanah pelayanan kepada masyarakat.
Sementara itu, Dr. Jamaluddin M. Marki menjelaskan bahwa ekoteologi merupakan salah satu program prioritas Kementerian Agama yang mendorong penguatan kesadaran keagamaan yang ramah lingkungan. Menurutnya, menghormati orang yang telah wafat sama pentingnya dengan menghormati mereka yang masih hidup. Karena itu, kawasan makam dan situs ziarah perlu dijaga kebersihan serta kelestariannya dengan meminimalkan sampah dan kerusakan lingkungan.
“Ekoteologi berarti bersahabat dengan alam. Keteladanan menjaga lingkungan harus dimulai dari hal-hal sederhana, termasuk menerapkan budaya zero waste dari meja makan kita sendiri,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa fenomena lingkungan dan persoalan sosial masyarakat merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawab penyuluh agama. Dalam kesempatan tersebut, ia memberikan apresiasi atas semakin besarnya kepercayaan negara kepada penyuluh agama, termasuk hadirnya penyuluh perempuan yang dipercaya memimpin Kantor Urusan Agama (KUA). Menurutnya, hal itu merupakan bentuk pengakuan negara terhadap profesionalisme dan pengabdian penyuluh agama. “Teruslah mengabdi, berkarya, dan menulis,” pesannya kepada seluruh peserta.
Dalam pemaparannya, Tgk. Azmi Abubakar, Lc., M.H. menjelaskan bahwa ziarah makam ulama tidak hanya memiliki dimensi spiritual sebagai bentuk penghormatan kepada para tokoh agama, tetapi juga dapat menjadi sarana pelestarian lingkungan dan warisan sejarah Islam. Menurutnya, masih banyak makam ulama di Kabupaten Pidie yang mengalami kerusakan dan kurang terawat sehingga memerlukan perhatian serta keterlibatan berbagai pihak. Melalui gerakan ziarah yang berkelanjutan, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga situs-situs ulama mulai tumbuh dan mendapat dukungan dari para pemangku kebijakan.
Ia mencontohkan sejumlah situs bersejarah seperti Makam Syekh Faqih Jalaluddin dan Masjid Tuha Tiro yang telah memperoleh pemugaran dan perbaikan sebagai bagian dari upaya menjaga warisan keagamaan. Namun, menurutnya, pelestarian tidak boleh berhenti pada tahap renovasi semata. Yang lebih penting adalah membangun komitmen bersama untuk melakukan perawatan berkelanjutan, menjaga kebersihan, serta menata kawasan makam agar tetap nyaman, tertib, dan memiliki nilai edukatif bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Azmi menjelaskan bahwa dalam perspektif fikih, ziarah makam dapat dipahami sebagai Wasail Maqasid Tabi’ah, yaitu sarana yang mendukung terwujudnya tujuan pelestarian lingkungan. Ia menegaskan bahwa Islam menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi yang bertanggung jawab menjaga dan merawat alam. Karena itu, kawasan ziarah dapat dikembangkan sebagai media dakwah ekologis yang menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap kebersihan, konservasi, dan keberlanjutan lingkungan.
Untuk mewujudkannya, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, lembaga keagamaan, akademisi, serta komunitas sejarah dan budaya agar situs-situs makam ulama tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Diskusi menghasilkan sejumlah rekomendasi penting, antara lain mendorong penyuluh agama untuk mengintegrasikan pesan-pesan pelestarian lingkungan dalam kegiatan dakwah dan ziarah, memperkuat gerakan kebersihan di kawasan situs keagamaan, membangun kolaborasi lintas sektor dalam pelestarian makam ulama sebagai warisan sejarah dan spiritual, serta meningkatkan budaya literasi dan publikasi praktik-praktik baik penyuluhan di berbagai daerah.
Sebagai komunitas literasi penyuluh agama, Pena Da’i Nusantara terus memainkan peran strategis dalam meningkatkan kompetensi penyuluh melalui forum diskusi, penguatan budaya menulis, publikasi karya ilmiah dan populer, serta pengembangan jejaring nasional antarpenyuluh.
Melalui kegiatan seperti Dialog PENA, PDN menjadi ruang berbagi gagasan, inovasi, dan praktik terbaik yang memperkuat kapasitas penyuluh agama sebagai agen perubahan sosial, penggerak literasi, dan penjaga harmoni masyarakat. Kegiatan ditutup dengan ajakan kepada seluruh peserta untuk terus memperkuat tradisi menulis, memperluas dakwah berbasis literasi, serta menghadirkan nilai-nilai keagamaan yang responsif terhadap isu-isu sosial dan lingkungan di tengah masyarakat. (Dion/Red)
