SIDOARJO.SabdaNews.com – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak memastikan listrik di Jatim dalam kondisi aman. Sehingga siap menghadapi kebutuhan selama bulan suci Ramadhan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah.
Kepastian tersebut disampaikannya saat melakukan kunjungan kerja ke PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM) serta PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pengatur Beban Jawa Timur di Sidoarjo, Jumat (20/2/2026).
“Secara kapasitas daya, Jawa Timur dalam kondisi aman dan sangat mencukupi untuk kebutuhan Ramadhan hingga Idul Fitri,” kata Emil.
Data PLN menunjukkan beban puncak tertinggi di Jawa Timur mencapai 2.036 MW pada subsistem Krian-Gresik, dengan Daya Mampu Netto (DMN) sebesar 2.638 MW atau cadangan sekitar 22% (602 MW).
Untuk masa Siaga Ramadhan dan Idul Fitri (RAFI), UIT JBM menyiagakan 22 posko dengan 1.207 personel di wilayah Jatim-Bali. Sistem ini juga didukung 173 gardu induk, 394 unit trafo berkapasitas 29.195 MVA, serta jaringan transmisi sepanjang 8.329,12 kilometer sirkuit.
Meski cadangan daya mencukupi, Emil menilai penguatan jaringan tetap diperlukan, terutama pada sejumlah titik transmisi yang tingkat bebannya sudah tinggi. Langkah ini penting untuk memastikan distribusi listrik tetap andal di seluruh wilayah.
Ia menambahkan, aspek lain yang tidak kalah krusial adalah menjaga stabilitas dan keseimbangan sistem kelistrikan. Mengingat, beban listrik saat Ramadhan dan Idul Fitri dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren penurunan hingga sekitar 30% dibandingkan hari normal.
“Listrik itu harus selalu seimbang. Ketika beban turun drastis dan tidak dilakukan penyesuaian, tegangan bisa meningkat dan itu berbahaya bagi sistem. Karena itu pengendalian harus dilakukan secara real time,” ujarnya.
“Bukan hanya soal cukup atau tidaknya daya. Konfigurasi jaringan juga harus kuat. Kalau ada gangguan di satu titik dan jalurnya sudah padat, dampaknya bisa meluas,” tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, Emil juga mengapresiasi rencana pembangunan Gardu Induk Tegangan Tinggi (GITET) di Waru untuk memperkuat sistem di kawasan metropolitan Gerbangkertosusila yang selama ini bertumpu pada Krian dan Gresik.
Selain itu, ia mendorong optimalisasi jaringan melalui metode uprating agar tidak perlu membuka jalur baru di kawasan padat penduduk.
“Dengan beban sebesar ini, tidak cukup hanya mengandalkan dua titik. Pengembangan di Waru ini sifatnya krusial untuk mencegah risiko yang lebih besar,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya percepatan energi hijau di Jawa Timur, termasuk pengembangan panas bumi sekitar 34 MW serta rencana pembangkit listrik tenaga surya di Pasuruan dan Banyuwangi.
“Energi hijau bukan hanya isu lingkungan, tetapi kebutuhan industri. Ini akan memperkuat daya saing Jawa Timur,” katanya. (pun)
