SabdaNews.com-Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kecamatan Kebomas Gresik menyelenggarakan Pengajian Ahad Pagi dengan tema menyongsong Ramadan dengan hati yang bersih Ahad (15/2/2026) Pengajian yang diasuh KH. Abdul Hamid Muhannan, LC itu di Masjid At Taqwa Perguruan Muhammadiyah Giri Kebomas antusias dihadiri jamaah.
Dosen universitas Muhammadiyah Lamongan itu mengungkapkan bahwa hidup tak terlepas dari nikmat Allah, “baik itu nikmat yang diberikan Allah sejak dalam kandungan / fitri dan nikmat yang Allah berikan setelah manusia itu lahir /Azali”ujarnya. Pengajian di ahad 27 Sya’ban 1447 Η itu ustadz Muhannan menyampaikan hati yang selalu condong kepada hidayah Allah. Yaitu hati yang selalu bersemangat beribadah dan berbuat baik, yang tidak pernah suudzon kepada Allah dan manusia lainnya dan perbuatannya selalu dipenuhi taqwa. “Saat memasuki bulan penuh ampunan ini kita semestinya bersyukur diberikan kesempatan menjadi orang baik” ungkapnya
Saat di penghujung Ramadan 1446 H lalu, tambah ustadz Muhannan, kita meminta ampunan Allah dan dimasukkan ke surganya Allah. Tapi, apakah pasca Ramadan itu tidak pernah dosa dan kesalahan yang kita perbuat ? sengaja maupun tidak yang pernah kita lalukan kepada Allah, sesama manusia ataupun sesame makhluk ciptaan Allah ?. Pertanyaan-pertanyaan itu semestinya kita ajukan sebagai bekal penyemangat kita beribadah di bulan penuh ampunan. Beruntungnya kita, Allah masih memberikan kenikmatannya saat kita masih bias berjumpa bulan penuh rahmat, berkah dan ampunan ini.
“Tapi menjadi orang baik itu tidak mudah”Imbuhnya. pengakuan, janji kita saat melepas Ramadan 1446 H, dari Syawal hingga masuk Ramadan tahun ini sudah berapa banyak dosa kesalahan dan khilaf yang telah kita perbuat? berganti waktu, hari, pecan, tahun sudah semestinya kita bertambah baik dan lebih positif. Maka, ustadz Muhannan memberikan tips agar kita mampu menjadi manusia yang hidup lebih baik dari hari ke hari, “yang pertama jaddid hayyata (perbaiki hidup) kedua jaddid ibadah (perbaiki ibadah) dan ketiga jaddid fil akhlak (perbaiki perbuatan)”
Ustadz Muhannan membagi berbagai tipe manusia sambut datangnya bulan Ramadan, ada yang menyambutnya dengan penuh suka cita karena Allah ada pula yang dengan perasaaan senang, namun masih menyisahkan sejumlah dosa dan salah, dan manusia yang justru Ramadan datang, perasaannya senang tapi susah hingga yang susah sama sekali.
Agar dapat menjadikan kita suka gembira, modal utamanya adalah dengan menata hati.Ustadz Muhannan mengatakan At taqwa haa huna (taqwa itu di hati), karena seperti kita tau ada hati yang bersih, hati yang sakit, bahkan hati yang berpenyakit.
Hati yang sehat, imbuh Muhannan adalah hati yang bersih, wajahnya selalu bersinar, menyenangkan saat berbicara, tidak menggunjingkan orang lain, tidak memfitnah dan mengadu domba. Saat hati tertutup kita buka agar cahaya dan sinar kebenaran masuk dan menyinari, saat hati kotor, kita bersihkan dari dosa, salah dan khilaf, dan saat hati tumpul – kita asah, karena hati yang tajam akan mampu membedakan yang haq dan yang bathil
Hati biasa disifati dengan hidup dan mati, artinya ada hati yang hidup dan ada hati yang mati. Di antara tiga macam hati, ada hati yang sehat itulah hati yang bersih (selamat). Seseorang akan selamat di hari kiamat kelak jika menghadap Allah dengan hati yang bersih.
hati yang bersih adalah hati yang selamat dari segala macam bentuk syahwat yang menyalahi perintah Allah atau menerjang larangan-Nya, hati itu pun selamat dari berbagai syubhat yang menyimpang di mana hati yang selamat akan berpaling dari peribadahan kepada selain Allah, selamat dari berhakim dengan selain ajaran Rasul-Nya, selamat dengan mencintai Allah dengan disertai berhakim dengan ajaran Rasul, lalu memiliki rasa takut, harap, tawakkal, inabah (taubat/ kembali) kepada Allah; hati yang bersih akan selalu mengharap ridho Allah dalam segala keadaan dan menjauhi murka-Nya dengan segala cara. Inilah hakekat peribahan kepada Allah yang tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.
Intinya, hati yang bersih adalah hati yang selamat dari berbuat syirik kepada selain Allah dalam bentuk apa pun, bahkan ibadah hanya boleh untuk Allah semata, yaitu irodah (keinginan), cinta, tawakkal, inabah (kembali), tunduk, takut dan rasa harap hanya ditujukan pada Allah semata
Ibnul Qayyim berkata “orang-orang musyrik yang sukanya melestarikan tradisi syirik, memuja kubur, senang ruwatan atau sesajenan, dan melakukan tumbal, inilah yang memiliki hati yang sakit, bahkan bisa dikata “mati”. Semoga dalam menyambut dan memasuki Ramadan ini kita dapat berjumpa Ramadan dalam keadaan hati yang bersih dan selamat, yang selamat dari penyimpangan akidah dan kesyirikan. (Kontributor Mahfudz Efendi/Red)
