SabdaNews.com – Komunitas Pena Da’i Nusantara sukses menyelenggarakan Dialog Paralel Batch 22 secara virtual pada Selasa, 10 Februari 2026. Mengusung tema “Implementasi ELIPSKI dalam Penataan dan Penguatan Buku-Buku Keagamaan Islam di Era Digital”, acara ini menjadi momentum penting bagi para penyuluh agama di seluruh Indonesia untuk bersinergi dalam dunia literasi digital.
Ajakan Kolaborasi dari Pena Da’i Nusantara Ketua DPP Pena Da’i Nusantara, Mukhlis Sanjaya, dalam pesan pembukanya menyampaikan apresiasi atas keterlibatan aktif para penyuluh. Beliau mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada 10 penulis khutbah dari unsur penyuluh yang berpartisipasi langsung dalam platform ELIPSKI (Elektronik Literasi Pustaka Keagamaan Islam). “Mari kita manfaatkan ELIPSKI secara maksimal sebagai wadah dakwah digital kita,” ajaknya.
ELIPSKI: Fondasi Membangun Umat Berdaya Saing Dr. Hj. Nur Rahmawati, S.S., M.Si (Kasubdit Kepustakaan Islam) memaparkan visi besar Kemenag RI melalui ELIPSKI. Beliau menekankan bahwa literasi adalah fondasi dalam membangun umat yang berdaya saing di tengah tantangan global. “Upaya literasi kini tidak hanya berkutat pada teks, tapi juga isu pembangunan dan isu kontemporer. Kemenag berkomitmen menyediakan buku berkualitas, pembinaan perpustakaan rumah ibadah, dan memastikan standar mutu buku bebas dari paham yang bertentangan dengan Pancasila serta mengedepankan Moderasi Beragama,” jelasnya.
Menariknya, beliau menyebutkan bahwa model ELIPSKI sejalan dengan langkah Darul Ifta’ di Mesir yang juga masif dalam literasi digital. Saat ini, Perpustakaan Islam Digital telah mengelola sekitar 4.000 judul buku yang telah ditelaah. Capaiannya pun luar biasa: terdapat 414 naskah khutbah yang diunggah dengan lebih dari 2 juta penonton dan 319 ribu unduhan, termasuk 200 naskah khutbah Jumat bertema Ekoteologi. Sejak 2019, kolaborasi dengan penyuluh telah menghasilkan 29 judul buku melalui proses coaching clinic dan sayembara penulisan.
Penyuluh Agama: Berdakwah dengan Pena (Bil Qolam) Dr. H. Jamaluddin M. Marki, Lc., M.Si (Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam) memberikan apresiasi tinggi kepada para penyuluh yang mampu menghasilkan karya nyata. “Penyuluh agama harus pandai bil qolam (dengan pena). Apa yang ditulis harus bisa dimanfaatkan khalayak ramai dan menjadi contoh bagi penyuluh lainnya. Bekerjalah dengan sepenuh hati,” pesan beliau.
Beliau juga mendorong efisiensi teknologi melalui pertemuan daring seperti Zoom dan berharap para penyuluh di bawah naungan IPARI terus berkarya. Selain itu, Dr. Jamaluddin membagikan beberapa update strategis terkait kebijakan kementerian: Karier Kepemimpinan: Penyuluh yang memenuhi syarat didorong untuk tidak ragu mencalonkan diri sebagai Kepala KUA (tersedia kuota 200 posisi).
Uji Kompetensi: Akan ada uji kompetensi teknis bagi 2.000 penyuluh, mencakup aspek manajerial dan sosial kultural sesuai Permenpan. Kesejahteraan: Adanya tim kecil yang sedang mengupayakan peningkatan tunjangan jabatan bagi penyuluh dan penghulu. Digitalisasi Laporan: Penyuluh diminta aktif menggunakan aplikasi e-PA, melakukan bimtek media sosial, dan melaporkan konten kreatif (video/flyer) sebagai bentuk audit kinerja.
Model Kolaborasi Masa Depan Sesi diskusi diakhiri dengan merumuskan model kolaborasi yang realistis antara ELIPSKI, penyuluh, dan komunitas seperti Pena Da’i Nusantara. Fokus utama ke depan adalah diseminasi Moderasi Beragama (MB) melalui coaching clinic penulisan dan penyusunan khutbah tematik yang berdampak nyata bagi masyarakat tanpa menambah beban administratif yang berlebihan. Acara ditutup dengan harapan agar sinergi ini terus berlanjut demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang literat, moderat, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. ( Dion/Red)
