SabdaNews.com – Memasuki libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) Tahun 2026, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengingatkan kepada seluruh masyakat agar tetap waspada jika bepergian atau berwisata berbasis air dan pantai. Mengingat, kondisi cuaca akhir ini hingga bulan Februari 2026 curah hujan masih tinggi sehingga bisa memicu terjadinya bencana hidrometrologi dan gelombang besar.
“Saya minta tolong bahwa posisi menurut BMKG Juanda, puncak hujan di Desember ini baru 20%, Januari 58% dan Februari 22%. Selama bulan Desember ini bahkan Pemprov Jatim melakukan operasi modifikasi cuaca mulai tanggal 5 Desember, tiap hari 2 titik dan kemarin kita sampai 3 titik. Apa artinya bahwa kewaspadaan untuk bulan Januari, bulan Februari jangan turun, jangan kendor,” pinta orang nomor satu di Pemprov Jatim di sela mengikuti rapat paripurna DPRD Jatim, Senin (29/12/2025).
Modifikasi cuaca yang dilakukan Pemprov Jatim, lanjut Khofifah sengaja dimanage dengan menyongsong awan. Kalau awannya itu di atas laut itu ditabur dengan garam. Tapi kalau awan sudah masuk ke daratan, maka ditabur dengan kapur. Intinya bahwa proses ini harus tetap aman dan tidak membahayakan masyarakat.
“Kalau modifikasi cuaca hujan teknologinya sudah ada, tapi untuk modifikasi angin sampai saat ini belum ditemukan. Oleh karena itu tetap waspada dan identifikasi tempat tempat yang membahayakan seperti pohon besar saat hujan angin karena Januari mendatang bisa tiga kali lipat dibanding Desember ini,” beber mantan Mensos RI ini.
Dia berharap kepada seluruh elemen masyarakat, khususnya para pengelola destinasi wisata berbasis air maupun berbasis pantai untuk terus waspada bahkan kalau perlu ditingkatkan saat liburan Nataru selalu memantau informasi dari BMKG dan PVMBG serta melakukan identifikasi dan mitigasi agar masyarakat tetap aman dan terjaga keselamatannya.
“Semua musibah dan bencana yang pernah terjadi, kita berharap bahwa itu sudah sebagai pengalaman dan pembelajaran kita semua semoga tidak terjadi lagi di Jawa Timur,” harap Khofifah Indar Parawansa.
Sementara untuk perayaan malam tahun baru yang biasanya diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten/kota, lanjut Khofifah, pihaknya bersama para bupati dan wali kota telah melakukan proses refleksi dan keberseiringan untuk tidak melakukan hal-hal yang sifatnya euforia sampai kepada pesta kembang api.
“Kami sudah sepakat, peringatan malam tahun baru yang biasanya dilakukan Bupati / Walikota tidak ada pesta kembang api. Mudah-mudahan, seluruh elemen masyarakat juga ikut memberseiringi proses tersebut,” pungkasnya. (pun)
